Disdikbud Kalbar Dorong Penyelesaian Elegan Polemik Hasil Penilaian LCC 4 Pilar
- 13 Mei 2026 20:30 WIB
- Pontianak
Poin Utama
- LCC 4 Pilar
- MPR RI
- Disdikbud Kalbar
RRI.CO.ID, Pontianak - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat mendorong penyelesaian yang elegan terkait polemik hasil penilaian kompetisi LCC 4 Pilar MPR RI yang melibatkan SMAN 1 Pontianak dan SMAN 1 Sambas. Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat, Syarif Faisal Indahmawan Alkadrie, menegaskan bahwa informasi yang sebelumnya ia sampaikan kepada sejumlah media bukan merupakan pendapat pribadi, melainkan hasil konfirmasi awal dari panitia pusat.
“Saya sudah menyampaikan bahwa informasi awal yang kami dapat dari panitia pusat MPR menyebutkan adanya kendala jaringan komunikasi atau speaker juri yang kurang maksimal,” ujarnya, Rabu, 13 Mei 2026.
Ia menyayangkan adanya pemotongan pernyataan di sejumlah media sehingga kutipan tersebut terkesan sebagai pendapat pribadi. Padahal, menurutnya, informasi itu merupakan hasil komunikasi resmi yang diterima pihaknya.
Faisal mengatakan sejak awal pihaknya langsung melakukan koordinasi dengan tim panitia lokal, pihak sekolah, kepala sekolah, hingga guru pendamping dari SMAN 1 Pontianak. Dari hasil pembahasan tersebut, Disdikbud Kalbar meyakini jawaban yang diberikan peserta dari SMAN 1 sesuai dengan jawaban yang dinyatakan benar.
“Kami meyakini jawaban anak-anak SMA 1 itu benar dan sesuai dengan jawaban yang dibenarkan,” katanya.
Namun demikian, pihaknya juga memahami bahwa mekanisme kompetisi mengatur keberatan harus diajukan langsung oleh peserta. Karena itu, Disdikbud Kalbar mendorong SMAN 1 Pontianak untuk menyampaikan komplain resmi kepada Badan Sosialisasi MPR RI agar dilakukan peninjauan ulang berdasarkan rekaman Zoom yang ada.
Polemik tersebut kemudian berkembang hingga pihak MPR RI menyampaikan permintaan maaf. Saat ini, Disdikbud Kalbar masih menunggu langkah lanjutan yang akan diambil oleh penyelenggara.
Faisal menegaskan penyelesaian persoalan ini harus tetap memperhatikan rasa keadilan bagi seluruh pihak, termasuk sekolah yang telah ditetapkan sebagai pemenang. “Kita juga tidak bisa tiba-tiba mencabut kemenangan SMAN 1 Sambas karena mereka juga sudah berjuang dan mengikuti seluruh tata tertib kompetisi dengan baik,” ujarnya.
Sebagai solusi, pihaknya mengusulkan agar SMAN 1 Pontianak turut diundang ke babak grand final bersama peserta yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan demikian, Kalimantan Barat dapat memiliki dua perwakilan dalam ajang tersebut.
“Kami mendorong agar SMAN 1 juga diundang sebagai peserta grand final. Tetapi keputusan tetap ada di pihak penyelenggara,” katanya.
Ia menambahkan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan LCC hanya berperan membantu dari sisi administrasi dan berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui musyawarah mufakat sebagai bentuk pendidikan karakter bagi para peserta.
Menurut Faisal, situasi perlombaan saat itu memang berlangsung ketat karena terjadi kejar-kejaran poin pada pertanyaan penentuan. Ia menilai, jika polemik pertanyaan tersebut tidak terjadi, hasil kompetisi kemungkinan bisa berbeda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....