Waspada Child Grooming di Sekitar Anak

  • 24 Jan 2026 18:17 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Praktik child grooming atau manipulasi terhadap anak di bawah umur dengan kedok perhatian dan kasih sayang menjadi atensi dalam program RONDA (Ruang Obrolan Pro 2) yang disiarkan Pro 2 RRI Pontianak, Kamis malam, 22 Januari 2026. Topik ini dibahas bersama Clara Lipani dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI).

D alam siaran yang dipandu Anwar tersebut, child grooming diangkat sebagai fenomena yang kerap tidak disadari oleh korban karena dibungkus dengan sikap seolah penuh cinta dan perhatian. Clara menjelaskan bahwa pelaku biasanya membangun kepercayaan korban secara perlahan untuk kemudian memanipulasi dan mengendalikan korban.

Clara Lipani menjelaskan, child grooming merupakan tindakan orang dewasa yang secara sengaja mendekati anak di bawah umur untuk tujuan jahat, namun dilakukan dengan cara berpura-pura baik. Menurutnya, anak menjadi sasaran empuk karena masih polos dan mudah percaya, terutama ketika pelaku memberikan perhatian, pujian, atau hadiah.

“Simpelnya, dia mau berbuat jahat tapi pura-pura baik. Anak-anak belum bisa membedakan mana perhatian yang tulus dan mana yang punya maksud tertentu,” ujar Clara.

Dalam perbincangan tersebut, Clara juga menguraikan sejumlah ciri anak yang berpotensi menjadi korban child grooming. Di antaranya sering berinteraksi dengan orang dewasa tertentu, cenderung menutup diri dari lingkungan sekitar, serta menunjukkan perubahan sikap seperti membantah orang tua dan menjauh dari teman sebaya.

Selain itu, Clara menyoroti pentingnya peran orang tua dalam mencegah terjadinya child grooming. Ia menyebut pengawasan terhadap penggunaan gawai, media sosial, serta pergaulan anak menjadi langkah awal yang penting, namun tetap harus diimbangi dengan komunikasi yang sehat agar anak tidak merasa terkekang.

Siaran ini juga menyinggung kasus-kasus yang terungkap melalui karya sastra dan media populer, yang membuka kesadaran publik bahwa child grooming nyata terjadi di sekitar masyarakat. Clara menilai, banyak korban baru menyadari dirinya dimanipulasi setelah mengalami tekanan psikologis atau kekerasan.

Meski child grooming secara istilah merujuk pada korban anak di bawah umur, Clara menjelaskan bahwa pola manipulasi serupa juga dapat terjadi pada orang dewasa. Namun, dalam konteks usia dewasa, praktik tersebut lebih tepat disebut sebagai hubungan toksik atau eksploitasi emosional.

“Kalau sudah dewasa, biasanya seseorang lebih bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang hanya ada maunya. Tapi tetap saja, manipulasi dan kekerasan tidak bisa ditoleransi dalam hubungan apa pun,” kata Clara.

Menutup perbincangan, Clara menyampaikan pesan kepada siapa pun yang merasa berada dalam situasi tidak sehat, khususnya anak-anak dan remaja, agar tidak takut untuk menolak dan melepaskan diri. Menurutnya, keselamatan dan kesehatan mental jauh lebih penting daripada mempertahankan hubungan yang menyakiti. Program RONDA Pro 2 Pontianak ini juga disiarkan secara langsung melalui radio 101,8 FM dan live streaming YouTube Pro 2 Pontianak, serta membuka ruang interaksi bagi pendengar untuk bertanya dan berbagi pandangan terkait isu sosial yang sedang hangat dibicarakan.

Baca juga: Anak Muda Bisa Mulai Investasi Tanpa Modal Besar

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....