RRI 80 Tahun, Bertransformasi Besar-besaran Mengikuti Zaman

  • 10 Sep 2025 12:31 WIB
  •  Pontianak

Hari ini saya lagi-lagi diundang oleh RRI Pro 1 Pontianak. Ya, betul, lagi-lagi. Saya sendiri sudah lupa entah berapa kali duduk manis di studio RRI, saking seringnya mungkin kursi itu sudah menghafal bentuk tubuh saya. Kalau ada penghargaan "Dosen Terajin Nongkrong di RRI", saya yakin plakatnya sudah nongkrong di ruang tamu saya sejak lama.

Kali ini temanya serius, media di era digital, dikaitkan dengan HUT RRI ke-80. Umurnya sama dengan Republik Indonesia, sama-sama tetap hidup, walau uban sudah panjang. Bedanya, RI masih sibuk debat soal subsidi, RRI sibuk belajar algoritma YouTube.

Saya datang tidak sendiri. Ada Muhammad Fadhli, dosen Universitas OSO. Ada Vico Alhadi sebagai host RRI. Berarti, ada dua dosen, satu topik, dan satu pertanyaan dari Vico, bagaimana nasib media di era digital? Saya jawab dengan santai, “Sekarang gampang, ukur saja dengan follower dan views.” Kalau kecil, ya berarti ada yang salah. Media hari ini tidak lagi diukur dari seberapa nyaring speakernya, tapi seberapa sering kontennya nongol di FYP.

Saya kasih contoh ekstrem. Wikipedia. Tampilannya polos, kaku, monoton, lebih membosankan dari brosur seminar. Tapi pengunjungnya? Termasuk tertinggi di dunia. Karena apa? Karena kontennya berkualitas. Orang butuh isi, bukan dekorasi. Lalu saya sodorkan contoh diri saya sendiri, akun TikTok @rosadijamani. Isinya cuma tulisan dan gambar AI, tidak ada lipsync, tidak ada joget, apalagi pamer kucing nyebur ember. Tapi follower saya 250,1 ribu. Kenapa? Bisa jadi tulisan saya dianggap menarik, atau mungkin orang iseng follow lalu lupa unfollow. Kalau RRI mau belajar, saya siap bikin pelatihan. Tinggal buat proposal, anggaran, dan amplop perjalanan dinas. Ups, bercanda, jangan serius.

Tapi sebelum saya terlalu sombong, mari kita tengok sejenak sejarah. RRI lahir pada 11 September 1945. Jepang baru saja angkat kaki, siaran Hoso Kyoku berhenti tanggal 19 Agustus, bangsa ini kosong informasi. Kalau saat itu ada Twitter, mungkin trending topiknya: #IndonesiaMerdekaBeneranGakSih. Untung delapan tokoh radio dari Jawa bertemu di Jakarta, lalu mendirikan Radio Republik Indonesia. Dari sinilah suara bangsa disiarkan, kabar kemerdekaan tersebar, dan semangat melawan NICA disuarakan.

Sebelum itu sebenarnya sudah ada BRV, Bataviase Radio Vereniging, sejak 1925. Lalu Solosche Radio Vereniging tahun 1933, dipelopori Mangkunegara VII dan Sarsito Mangunkusumo. Tapi baru setelah Jepang minggat, lahirlah RRI sebagai corong perjuangan. RRI punya falsafah sakral bernama Tri Prasetya RRI, menjaga alat siaran dari penyalahgunaan, mengutamakan keamanan informasi, dan menjadi pemersatu bangsa. Kalau hari ini diterjemahkan ke bahasa digital, artinya jangan jadi akun hoaks, jangan asal repost, dan jangan sampai kalah populer dari akun gosip.

Sekarang RRI sudah 80 tahun. Kalau manusia, mungkin sudah pensiun, sibuk rawat cucu, dan rajin ikut senam jantung sehat. Tapi RRI memilih tetap muda, masuk YouTube, Instagram, TikTok, Facebook, bahkan website. Kadang canggung, iya. Kadang salah angle kamera, iya. Tapi semangatnya luar biasa. Saya salut, tapi tetap saya ingatkan, konten is the king, the queen, bahkan seluruh kerajaan. Tanpa konten yang berkualitas, follower bisa kabur lebih cepat dari mahasiswa keluar kelas saat jam kuliah terakhir.

Selamat ulang tahun ke-80, RRI. Dari suara proklamasi sampai suara era reels, kalian tetap jadi bagian penting negeri ini. Tinggal satu tantangan, jangan sampai views RRI kalah sama video tukang gorengan yang lagi flip bakwan.

Usai talkshow, saya diajak Vico ngopi di warkop. Saya cukup segelas kopi tanpa gula. Ada juga Boy Sinurat, wartawan senior RRI ikut ngopi. Si Boy ini memperlihatkan tulisan saya dikupas oleh Tengku Mulia Dilaga Turiman Fachturahman Nur (Dosen FH Universitas Tanjungpura, Pengamat Hukum Tata Negara, Peneliti Semiotika Pancasila). “Kejot aku,” kate budak Pontianak.

#camanewak

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....