Filosofi di Balik Merahnya Kue Ku, Simbol Panjang Umur yang Tetap Eksis
- 15 Jun 2026 13:40 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID,Pontianak - Di balik etalase kaca pedagang jajanan pasar subuh, sebuah warna merah terang mencolok sering kali mencuri perhatian mata yang memandang. Bentuknya yang bulat lonjong berundak menyerupai cangkang kura-kura membedakannya dari deretan kue tradisional lain. Masyarakat awam mengenalnya sebagai Kue Ku, sementara di beberapa daerah di Jawa, kuliner ini lebih akrab disebut dengan nama Kue Thok.
Kue berbahan dasar tepung ketan ini menawarkan sensasi tekstur yang kontras namun harmonis sejak gigitan pertama. Kulit luarnya yang berwarna merah merona terasa begitu kenyal dan legit di mulut. Ketika dikunyah, kelembutan tersebut segera disambut oleh isian pasta kacang hijau yang padat, manis, dan menyisakan rasa gurih yang lembut di lidah.
Namun, keistimewaan Kue Ku tidak berhenti pada cita rasanya semata. Kuliner legendaris ini menyimpan rekam jejak sejarah akulturasi budaya Tionghoa yang telah mengakar kuat dalam khazanah kuliner nusantara. Dalam tradisi asalnya, bentuk menyerupai punggung kura-kura bukanlah tanpa alasan. Kura-kura dipercaya sebagai simbol umur panjang, keselamatan, dan kemakmuran, sementara warna merah melambangkan kegembiraan serta keberuntungan.
Pembuatan kue ini pun memerlukan ketelatenan tersendiri. Adonan ketan yang telah diberi pewarna merah diisi dengan adonan kacang hijau yang telah dikukus dan dihaluskan bersama gula. Keunikan penyebutan 'Kue Thok' sendiri lahir dari proses cetaknya. Setelah adonan dimasukkan ke dalam cetakan kayu bermotif khusus, cetakan tersebut harus diketuk atau di-thok ke papan agar kue dapat terlepas dengan sempurna sebelum akhirnya dikukus di atas selembar daun pisang.
Meskipun zaman terus berubah dan gempuran kuliner modern berbahan keju atau cokelat terus berdatangan, Kue Ku tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Kehadirannya tidak pernah absen, baik dalam upacara adat, perayaan besar seperti Imlek, hingga acara-acara selamatan keluarga skala kecil. Eksistensi kue merah bertekstur legit ini menjadi bukti nyata bahwa kuliner tradisional yang sarat akan makna filosofis akan selalu mampu bertahan melintasi generasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....