Intrusi Air Laut Sungai Kapuas Bikin Air PDAM Asin, Apa Dampaknya bagi Kesehatan?

  • 28 Agt 2026 21:09 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Selain berjibaku dengan kabut asap, warga Pontianak dan sekitarnya juga menghadapi persoalan lain saat musim kemarau tiba, yaitu air yang berasa asin atau payau. Kondisi ini terjadi karena debit air Sungai Kapuas menurun drastis akibat minim hujan, sehingga air laut lebih mudah bergerak masuk ke arah hulu sungai melalui proses yang dikenal sebagai intrusi air laut. Air payau yang terbentuk dari percampuran air laut dan air tawar ini kemudian ikut tersedot dan diolah oleh PDAM, sehingga air yang mengalir ke rumah-rumah warga pun ikut terasa asin.

Secara ilmiah, intrusi air laut terjadi ketika keseimbangan hidrostatik antara air tawar dan air laut di kawasan pesisir maupun aliran sungai terganggu. Air tawar pada dasarnya memiliki tekanan piezometrik yang lebih kuat dibandingkan air laut, sehingga secara alami mampu menahan air laut agar tidak masuk terlalu jauh ke daratan. Namun ketika debit air tawar menyusut signifikan, seperti yang terjadi saat kemarau panjang, keseimbangan tersebut bergeser dan air laut pun leluasa bergerak masuk lebih jauh ke arah hulu, membawa kandungan garam yang tinggi bersamanya.

Kadar garam pada air payau umumnya diukur menggunakan satuan salinitas atau total dissolved solids (TDS), dengan air payau umumnya memiliki kadar TDS yang jauh lebih tinggi dibandingkan air tawar biasa yang aman dikonsumsi. Semakin tinggi kandungan klorida dan natrium dalam air, semakin terasa pula rasa asin yang ditimbulkan, sekaligus semakin besar pula potensi iritasi yang dapat ditimbulkan pada jaringan lunak tubuh, termasuk area mulut.

Fenomena banyaknya warga yang mengalami sariawan akibat menggunakan air asin untuk menyikat gigi ini pun dapat dijelaskan secara ilmiah. Kandungan klorida dalam garam pada dasarnya memang memiliki fungsi menetralkan asam di mulut dan bersifat antiseptik alami, sehingga air garam kerap direkomendasikan sebagai obat kumur untuk mempercepat penyembuhan sariawan yang sudah ada. Namun, penggunaan air dengan konsentrasi garam yang terlalu pekat dan dilakukan secara terus-menerus, seperti air PDAM yang sudah terintrusi air laut, justru dapat berbalik menjadi pemicu iritasi baru pada gusi, lidah, dan bibir.

Garam pada dasarnya memiliki sifat higroskopis atau mampu menyerap kelembapan dari lingkungan sekitarnya, termasuk kelembapan alami pada permukaan mukosa mulut. Ketika mulut terpapar air dengan kadar garam tinggi secara berulang setiap hari melalui aktivitas menyikat gigi, lapisan pelindung alami pada jaringan lunak mulut dapat mengalami dehidrasi dan iritasi kronis. Kondisi ini membuat jaringan mukosa menjadi lebih rentan mengalami luka kecil, yang kemudian berkembang menjadi sariawan, terutama pada area yang sering bergesekan dengan sikat gigi seperti gusi dan bagian dalam pipi.

Bagi warga yang harus menggunakan air PDAM berasa asin untuk kebutuhan sehari-hari, beberapa langkah sederhana dapat diterapkan untuk meminimalkan risiko iritasi mulut. Membilas mulut dengan air minum kemasan atau air yang telah difilter setelah menyikat gigi menggunakan air PDAM dapat membantu mengurangi residu garam yang tertinggal di rongga mulut. Penggunaan sikat gigi berbulu halus juga penting untuk mengurangi gesekan berlebihan pada jaringan gusi yang mungkin sudah teriritasi akibat paparan garam. Bila sariawan sudah muncul dan terasa mengganggu, sebaiknya hindari penggunaan air asin secara langsung pada area luka, dan pertimbangkan untuk menggantinya sementara dengan air matang biasa hingga kondisi mulut membaik.

Persoalan air payau ini menjadi pengingat bahwa dampak kemarau panjang di Kalimantan Barat tidak hanya terbatas pada kualitas udara akibat karhutla, tetapi juga merambat ke aspek lain dalam kehidupan sehari-hari warga, termasuk kualitas air bersih yang menjadi kebutuhan dasar. Memahami mekanisme di balik fenomena ini diharapkan dapat membantu warga mengambil langkah antisipasi yang tepat demi menjaga kesehatan diri dan keluarga di tengah tantangan musim kemarau yang berkepanjangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....