Waspada Silent Killer, dr Rusiawati Kupas Bahaya Hepatitis

  • 20 Jul 2026 06:02 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Memiliki fungsi vital sebagai penawar racun tubuh, kesehatan organ hati kerap diabaikan oleh masyarakat modern. Menyoroti ancaman mematikan tersebut, dr. Rusiawati, Sp.PD, FINASIM, mengingatkan bahwa penyakit Hepatitis atau peradangan hati acap kali mengintai tanpa gejala fisik yang jelas, serta sangat berpotensi memicu kanker hati jika terlambat dideteksi.

Peringatan medis ini disampaikan secara lugas dalam program siaran interaktif TOSERBA (Topik Serba Ada) bertajuk "Hepatitis: Mari Kita Atasi Hambatannya" yang dipandu oleh penyiar Dipa Revanda di RRI Pro 2 Pontianak, Jumat, 17 Juli 2026. Melalui sambungan virtual dari Kabupaten Sekadau, dr. Rusiawati membongkar berbagai pemicu, cara penularan, dan mitos seputar penyakit ini.

Menurutnya, banyak pasien terlambat mendapat penanganan karena Hepatitis sering kali tidak memunculkan indikasi klinis di tahap awal. Kerusakan organ baru disadari lima hingga sepuluh tahun kemudian ketika kondisinya sudah kronis. Meski demikian, ada beberapa gejala khas yang patut diwaspadai, mulai dari tubuh yang mudah lelah, nyeri perut kanan atas, mata dan kulit menguning, hingga air seni yang berwarna pekat layaknya teh.

"Penyebab Hepatitis sangat beragam, meliputi serangan virus, konsumsi alkohol, penggunaan obat sembarangan, hingga penyakit autoimun. Khusus untuk Hepatitis akibat virus, cara penularannya sangat berbeda antara tipe A, B, dan C," urai dr. Rusiawati.

Dokter spesialis penyakit dalam ini memaparkan bahwa Hepatitis A umumnya bersifat akut dan menular lewat makanan atau minuman yang terkontaminasi akibat kebiasaan jajan sembarangan. Sementara itu, Hepatitis B dan C memiliki tingkat bahaya yang lebih tinggi karena rentan menjadi penyakit kronis. Keduanya ditularkan lewat darah dan cairan tubuh, seperti dari ibu hamil ke bayi, penggunaan alat tato atau tindik yang tidak steril, jarum suntik bergantian, serta aktivitas seksual berisiko.

Dalam kesempatan dialog tersebut, dr. Rusiawati sekaligus meluruskan mitos keliru yang telanjur beredar luas di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa penderita Hepatitis B sama sekali tidak menularkan virusnya melalui kontak fisik sehari-hari. Berjabat tangan, berpelukan, berinteraksi langsung, bahkan menggunakan piring makan yang sama dengan pasien sangatlah aman.

Bagi masyarakat dan generasi muda, dr. Rusiawati memberikan imbauan tegas untuk segera menghentikan kebiasaan mengonsumsi obat-obatan, seperti antibiotik, secara sembarangan tanpa petunjuk dokter. Kebiasaan buruk ini akan memaksa organ hati bekerja ekstra keras. Pola tidur yang berantakan, kebiasaan begadang, serta tingginya tingkat stres ikut andil dalam memperparah penurunan fungsi organ hati.

Sebagai benteng pertahanan terbaik, vaksinasi menjadi langkah mutlak yang harus diambil. Saat ini, vaksin untuk Hepatitis A dan B sudah teruji efektivitasnya dalam melindungi tubuh. Meski Hepatitis C belum memiliki varian vaksin, dunia medis telah menemukan obat ampuh untuk menyembuhkannya apabila infeksi diketahui lebih cepat.

Menutup sesi edukasi, dr. Rusiawati mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membuang rasa takut melakukan pemeriksaan medis rutin. Keberanian melakukan medical check-up sejak dini jauh lebih berharga untuk menyelamatkan nyawa dibandingkan membiarkan penyakit telanjur menggerogoti tubuh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....