Awas Jerat Grooming dan Hubungan Beracun!
- 30 Jun 2026 10:01 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Belakangan ini, media sosial kita diramaikan oleh berita-berita mengerikan tentang kekerasan dalam hubungan. Mulai dari kasus grooming—di mana orang dewasa mendekati anak-anak dengan cara yang halus untuk dimanfaatkan—hingga kasus yang sangat viral baru-baru ini, yaitu penyekapan seorang wanita di Bandung selama tiga tahun oleh kekasihnya sendiri. Kasus-kasus ini menjadi peringatan keras bagi kita semua. Ternyata, kejahatan tidak selalu datang dari orang asing yang langsung menyerang, tetapi bisa dimulai dari orang dekat yang pura-pura baik.
Dalam banyak kasus, pelaku biasanya tidak langsung memakai kekerasan fisik di awal hubungan. Mereka memakai trik psikologis, yaitu dengan memberikan perhatian yang sangat berlebihan, hadiah, atau janji-janji manis sampai korban merasa sangat percaya dan sayang. Pada kasus penyekapan di Bandung, hubungan yang awalnya terasa biasa saja berubah menjadi jebakan. Pelaku perlahan-lahan menjauhkan korban dari keluarga dan teman-temannya, hingga korban merasa kesepian, bingung, dan akhirnya merasa tidak punya kekuatan untuk kabur atau melawan.
Ketika korban sudah benar-benar terisolasi dan tidak punya tempat mengadu, barulah sifat asli pelaku keluar. Selama tiga tahun disekap dan dipindah-pindah tempat, korban di Bandung mengalami penyiksaan yang luar biasa kejam hingga mengalami luka parah dan kebutaan. Pelaku juga menguras habis harta benda korban. Hal ini menunjukkan pola yang sama dengan kasus grooming: begitu pelaku merasa sudah menguasai pikiran dan mental korbannya, mereka akan merasa bebas berbuat semena-mena terhadap tubuh dan hidup korban tersebut.
Masalahnya, tanda-tanda bahaya seperti ini sering kali sulit dilihat oleh orang luar sejak awal. Pelaku biasanya sangat pintar berakting di depan umum sebagai pacar yang penyayang atau orang yang peduli. Di sisi lain, masyarakat kita kadang menganggap sifat posesif atau suka melarang-larang sebagai bentuk "tanda cinta." Alasan inilah yang membuat kasus penyekapan di Bandung bisa tertutup rapi selama bertahun-tahun, sebelum akhirnya korban ditemukan di rumah sakit dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Saat ini, pihak kepolisian sudah bertindak tegas dan memburu pelaku di Bandung untuk dijerat hukuman seberat-beratnya. Namun, hukuman saja tidak cukup kalau kita tidak belajar dari kasus ini. Kita perlu tahu bedanya hubungan yang sehat dan hubungan yang beracun (toxic). Selain itu, kita sebagai masyarakat harus berhenti menyalahkan korban (victim-blaming), karena rasa takut disalahkan itulah yang sering membuat korban memilih diam dan tidak berani meminta bantuan sejak awal.
Pada akhirnya, kita semua harus lebih peka terhadap orang-orang di sekitar kita. Jangan cuek jika ada teman atau anggota keluarga yang tiba-tiba berubah menjadi sangat tertutup, selalu cemas, atau mendadak hilang kontak setelah punya hubungan dengan seseorang. Dengan saling menjaga, peduli, dan berani melapor jika melihat keanehan, kita bisa menyelamatkan seseorang dari jebakan orang-orang jahat yang bersembunyi di balik kata "cinta".
Baca juga: Ruang Aman bagi Perempuan Masih Jadi Tantangan Generasi Muda
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....