Efek “Triple Kill” Narkotika, Apoteker Ajak Generasi Muda Lebih Waspada
- 02 Mei 2026 16:41 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Program Toserba (Topik Serba Ada) yang disiarkan langsung oleh RRI Pontianak melalui Pro 2 pada Kamis, 30 April 2026, mengangkat tema gaya hidup sehat tanpa zat alternatif. Siaran ini menghadirkan Apoteker Arita sebagai narasumber, membahas fenomena penggunaan zat alternatif yang kerap dikaitkan dengan upaya instan mencari rasa bahagia.
Dalam dialog tersebut, Arita menjelaskan bahwa zat alternatif mencakup berbagai golongan, mulai dari narkotika, psikotropika, hingga obat-obatan tertentu yang disalahgunakan. Ia menekankan bahwa banyak orang memanfaatkan efek samping obat untuk tujuan yang tidak semestinya, terutama demi mendapatkan sensasi nyaman atau euforia secara cepat.
Menurutnya, efek tersebut muncul karena zat-zat tertentu bekerja langsung pada sistem saraf pusat. “Zat ini merangsang hormon kebahagiaan seperti endorfin dan dopamin, sehingga memunculkan rasa senang dan keinginan untuk mengulangi,” kata Arita menjelaskan.
Ia juga menggarisbawahi bahaya utama narkotika yang memiliki tiga efek sekaligus, yakni habitual, adiktif, dan toleran. Efek habitual membuat pengguna terus teringat, efek adiktif memicu ketergantungan, sementara efek toleran menyebabkan kebutuhan dosis yang terus meningkat seiring waktu.
Dari sisi kesehatan, dampak penggunaan zat alternatif tidak selalu terlihat di awal. Namun dalam jangka panjang, perubahan fisik mulai tampak seperti mata cekung, gerakan tidak terkontrol, hingga gangguan tidur. Selain itu, risiko serius seperti depresi pernapasan juga bisa terjadi, yang berpotensi menurunkan kesadaran hingga mengancam nyawa.
Arita turut memaparkan data terkait kasus di Kalimantan Barat berdasarkan laporan BNN tahun 2025. Ia menyebut beberapa wilayah yang masuk kategori waspada dan berbahaya, dengan Kabupaten Kubu Raya menjadi daerah dengan jumlah kasus terbanyak, yakni 26 kasus dalam kategori waspada.
Dalam pembahasan lain, ia melihat fenomena penyalahgunaan zat di kalangan anak muda, termasuk praktik berbagi obat tanpa pemahaman kandungan. Ia mengingatkan bahwa tindakan tersebut berisiko karena dosis, komposisi, dan efeknya tidak diketahui secara pasti oleh penerima.
Selain itu, ia juga menyinggung bahaya penggunaan zat pada kelompok rentan seperti ibu hamil dan anak-anak. Dampaknya bisa meliputi gangguan pertumbuhan janin, kelahiran prematur, hingga gangguan perkembangan pada anak yang dilahirkan.
Sebagai alternatif, Arita menyarankan pendekatan gaya hidup sehat melalui aktivitas fisik rutin, pola makan seimbang, serta penggunaan obat yang tepat sesuai anjuran tenaga medis. Ia juga menekankan pentingnya memahami label obat dan berkonsultasi dengan apoteker sebelum mengonsumsi obat apa pun.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....