Apa Itu Empath? Ini Sisi Positif dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental
- 25 Feb 2026 21:22 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Pernah merasa ikut sedih saat melihat teman murung atau suasana hati tiba-tiba berubah karena orang di sekitar sedang stres? Kondisi ini sering dikaitkan dengan istilah empath, yaitu istilah untuk orang yang memiliki tingkat empati tinggi dan respons emosional yang kuat terhadap lingkungan sekitarnya.
Secara psikologis, empati merupakan kemampuan untuk memahami dan merasakan emosi orang lain. Namun, pada seorang empath, kemampuan ini terasa lebih mendalam. Mereka tidak hanya memahami, tetapi juga menyerap emosi di sekelilingnya. Ketika berada di lingkungan yang penuh konflik, suasana hatinya dapat ikut terpengaruh. Saat mendengar cerita sedih, ia bisa merasakan beban emosional yang hampir sama dengan orang yang mengalaminya. Tak jarang, mereka juga menjadi tempat bercerita karena dianggap paling mampu memahami tanpa menghakimi.
Kepekaan emosional tersebut memiliki banyak sisi positif. Empath umumnya dikenal sebagai pribadi yang hangat, penuh perhatian, dan mudah membangun kedekatan emosional. Mereka cenderung peka terhadap kebutuhan orang lain serta mampu membaca situasi sosial dengan baik. Dalam hubungan pertemanan, keluarga, maupun dunia kerja, kemampuan ini menjadi nilai tambah karena membuat orang lain merasa didengar dan dihargai.
Namun, di balik kelebihannya, terdapat tantangan yang tidak ringan. Ketika batas antara emosi diri sendiri dan emosi orang lain menjadi kabur, seorang empath berisiko mengalami kelelahan emosional. Mereka bisa merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain, sulit mengatakan “tidak”, atau mengabaikan kebutuhan pribadi demi menjaga perasaan orang di sekelilingnya. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini nantinya dapat memicu stres hingga kelelahan mental apabila tidak disadari dan dikelola dengan baik.
Karena itu, menjadi empath bukan berarti harus selalu menanggung beban emosional orang lain. Kepekaan tetap perlu diimbangi dengan batasan yang sehat. Mengenali mana emosi diri sendiri dan mana yang berasal dari orang lain, meluangkan waktu untuk diri sendiri, serta belajar berkomunikasi secara asertif menjadi langkah penting agar empati tetap menjadi kekuatan, bukan beban. Pada akhirnya, empati yang sehat bukan tentang menyerap semua perasaan, melainkan memahami tanpa kehilangan keseimbangan diri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....