Kebiasaan Sehat, Tantangan Anak Muda

  • 12 Jan 2026 16:56 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Kebiasaan hidup sehat merupakan tantangan sekaligus kebutuhan, terutama bagi anak muda yang kerap dihadapkan pada pola tidur tidak teratur, konsumsi kopi berlebihan, dan minim aktivitas fisik. Isu tersebut dibahas dalam program Ronda (Ruang Obrolan Pro 2) RRI Pro 2 Pontianak melalui tema “Tahun Baru dengan Kebiasaan Baru yang Lebih Sehat”, bersama dr. Saffana Fadhila Ramadhina. Dalam perbincangan tersebut, berbagai aspek kesehatan disorot, mulai dari pola hidup, kesehatan mental, hingga pentingnya konsistensi dalam membangun kebiasaan sehat.

Dalam obrolan yang dipandu penyiar Naufal, dr. Saffana mengulas tentang perubahan perilaku generasi muda yang kini dinilai lebih sadar terhadap kesehatan. Maraknya aktivitas olahraga seperti jogging, gym, hingga car free day di Pontianak menjadi indikator bahwa promosi hidup sehat, termasuk melalui media sosial, mulai memberi dampak positif. Fenomena FOMO (fear of missing out) yang kerap dipandang negatif justru dapat menjadi pintu masuk bagi kebiasaan sehat jika diarahkan secara tepat.

Menurut dr. Saffana, keberadaan ruang publik dan fasilitas olahraga turut mendorong anak muda untuk lebih aktif bergerak. Aktivitas olahraga yang dulu terasa eksklusif kini menjadi gaya hidup bersama, bahkan bagian dari ekspresi sosial. Meski kerap dibumbui konten media sosial, kebiasaan ini tetap membawa manfaat selama dilakukan secara konsisten dan tidak berlebihan.

Selain kesehatan fisik, pembahasan juga menyinggung pentingnya kesehatan mental. dr. Saffana menjelaskan bahwa saat ini akses layanan kesehatan mental semakin terbuka, termasuk di tingkat puskesmas. Keberadaan psikolog di fasilitas kesehatan primer dan layanan yang telah ditanggung BPJS menjadi langkah penting dalam menghapus stigma serta mempermudah masyarakat, khususnya anak muda, untuk berkonsultasi terkait kesehatan mental.

Ia menegaskan bahwa gangguan kesehatan mental tidak hanya dialami remaja, tetapi juga orang dewasa dan orang tua. Kesadaran untuk datang berkonsultasi, meski hanya merasa cemas, lelah, atau tertekan, sudah merupakan langkah positif. Dalam konteks ini, kesehatan mental dipandang setara pentingnya dengan kesehatan fisik, bukan persoalan yang harus dipendam atau dianggap sepele.

Pembahasan kemudian mengarah pada kebiasaan sehari-hari yang kerap menjadi sumber masalah kesehatan, seperti begadang, pola makan tidak teratur, konsumsi kopi berlebihan, dan merokok. dr. Saffana menyebut keluhan asam lambung sebagai salah satu kasus yang paling sering ditemui pada anak muda. Kebiasaan yang tampak ringan, jika dilakukan terus-menerus, dapat berdampak serius bagi kesehatan.

Terkait pola hidup sehat, dr. Saffana menekankan keterkaitan antara pola tidur dan pola makan. Keduanya saling memengaruhi dan tidak bisa dipisahkan. Tidur malam yang cukup dan berkualitas, sekitar enam hingga delapan jam, dinilai lebih bermanfaat dibandingkan tidur yang terputus-putus. Sementara tidur siang idealnya cukup singkat agar tidak mengganggu ritme tidur malam.

Dalam sesi interaktif bersama pendengar, dibahas pula layanan kesehatan mental yang ditanggung BPJS, termasuk perbedaan peran psikolog dan psikiater. dr. Saffana mengingatkan bahwa penggunaan obat anti-cemas harus berada di bawah pengawasan dokter. Jika efek samping seperti kantuk berlebihan mulai mengganggu aktivitas, pasien dianjurkan untuk kembali berkonsultasi agar dosis atau jenis obat dapat disesuaikan.

Isu kelelahan mata akibat penggunaan gawai juga menjadi perhatian. Menurut dr. Saffana, istirahat mata secara berkala, mengurangi waktu layar, serta tidur yang cukup merupakan langkah sederhana namun penting. Jika keluhan berlanjut, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan tetap disarankan agar tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih serius.

Kunci dari semua upaya hidup sehat, menurut dr. Saffana, adalah konsistensi. Kebiasaan baik tidak selalu langsung terasa hasilnya, namun akan memberi dampak jika dilakukan secara berulang dan berkelanjutan. Ia mencontohkan pengalamannya pribadi dalam menjaga pola makan dan pola tidur, terutama karena memiliki riwayat gangguan lambung yang menuntut kedisiplinan tinggi.

Menutup perbincangan, dr. Saffana mengajak anak muda untuk tidak takut melakukan pemeriksaan kesehatan. Check-up sejak dini justru membantu mencegah masalah yang lebih berat di kemudian hari. Kesadaran untuk mendengar sinyal tubuh, berani berkonsultasi, dan membangun kebiasaan sehat secara perlahan menjadi bekal penting dalam menyongsong tahun baru dengan kualitas hidup yang lebih baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....