Kabut Asap Hambat Latihan, Roket Air MAN 1 Bidik Juara
- 07 Okt 2026 12:45 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi tantangan Kontingen Roket Air MAN 1 Pontianak dalam mempersiapkan diri menghadapi International Water Rocket Competition 2026 di Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Kuala Lumpur, Malaysia, November mendatang.
Kondisi tersebut membatasi latihan di lapangan, khususnya untuk menguji langsung penerbangan roket. Meski demikian, kontingen tetap memanfaatkan waktu yang ada untuk mematangkan perakitan, perhitungan teknis, strategi, dan kesiapan mental tiga siswa yang akan berlaga.
Pelatih Roket Air MAN 1 Pontianak, Aryoli, mengatakan latihan lapangan akan dilakukan secara bertahap menyesuaikan kondisi kabut asap. Tim juga harus membagi fokus dengan persiapan kompetisi tingkat nasional yang berlangsung akhir Oktober.
“Untuk persiapannya belum dilaksanakan, karena kabut asap masih melanda. Jadi perkiraan minggu ini udah mulai standby, latihan sedikit-sedikit dulu,” ujar Aryoli, Selasa, 6 Oktober 2026.
Tantangan persiapan semakin besar karena spesifikasi roket yang digunakan dalam kompetisi internasional berbeda dengan kompetisi nasional sebelumnya. Jika pada kompetisi nasional menggunakan botol berkapasitas satu liter, ajang internasional menggunakan botol 1,5 liter dengan jarak peluncuran mencapai 60 meter.
“Jadi kita harus latihan, kita harus merakit lagi, menghitung lagi dari nol dengan jarak yang 60 meter itu,” katanya.
Menurut Aryoli, pengalaman pada kompetisi tahun sebelumnya menjadi modal untuk memetakan strategi. Tim akan kembali mempelajari petunjuk teknis dan menyesuaikan teknik perakitan maupun peluncuran dengan karakteristik kompetisi internasional.
“Belajar dari yang tahun lalu, tahun lalu itu kurang lebih sama jurnisnya, acuannya sama. Jadi insya Allah kalau acuannya sama dengan yang tahun lalu, kita persiapkan, kita tinggal strategi aja,” katanya.

Aryoli menegaskan kabut asap menjadi kendala utama karena sebagian besar latihan teknis membutuhkan ruang terbuka. Sementara itu, proses perakitan masih dapat dilakukan di dalam ruangan sehingga persiapan tetap berjalan.
“Kalau merakit kita bisa di ruangan, tapi kalau udah nerbangkan, itu yang sulit,” ucapnya.
Tiga siswa MAN 1 Pontianak yang akan membawa nama Indonesia dalam kompetisi roket air internasional tersebut yakni Qonit Akrom Ramadhon, M. Khalid Fahad, dan Rizky Ramadhon.
Berbeda dengan perlombaan beregu, International Water Rocket Competition 2026 akan diikuti secara individu. Setiap peserta wajib merakit sendiri dua unit roket menggunakan bahan yang disiapkan panitia, kemudian meluncurkan dan menghitung hasilnya.
Peserta hanya diberikan waktu dua jam untuk menyelesaikan perakitan dua roket sebelum melakukan peluncuran sesuai nomor urut. Kondisi ini menuntut ketepatan perhitungan, kecepatan merakit, sekaligus kemampuan mengambil keputusan selama perlombaan.
Dengan waktu persiapan yang terbatas dan kondisi cuaca yang belum sepenuhnya mendukung, kontingen MAN 1 Pontianak menargetkan persiapan maksimal agar tiga wakilnya mampu bersaing di level internasional. “Harapannya, semoga ketiga anak saya ini bisa berjaya juara. Seperti kakak-kakak kelasnya yang lalu-lalu. Bisa membawa nama baik masyarakat, membawa nama baik Indonesia juga,” kata Aryoli.
Baca juga: Kabut Asap Masih Selimuti Kalbar, 886 Titik Panas Terdeteksi
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....