Wacana Penataan Program Studi 2026: Pendidikan Matematika Jaga Relevansi Ilmu
- 06 Okt 2026 16:35 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Wacana penataan dan evaluasi program studi perguruan tinggi pada tahun 2026 memicu diskusi mengenai eksistensi ilmu dasar, khususnya Pendidikan Matematika. Kebijakan ini mendorong kampus agar lebih adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja serta kemajuan teknologi tanpa membuang esensi keilmuan.
Menanggapi wacana tersebut, Guru Besar dan Dosen Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tanjungpura, Prof. Dr. Agung Hartoyo, M.Pd., menilai evaluasi merupakan langkah wajar agar institusi tidak tertinggal zaman. Ia menekankan bahwa keilmuan matematika akan selalu relevan karena berfungsi melatih nalar dan logika dasar manusia.
Menurutnya, pengajaran matematika di sekolah saat ini harus berani berinovasi dan tidak lagi sekadar berfokus pada hafalan mekanis. Guru perlu memberikan ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi berbagai cara logis dalam menyelesaikan masalah kontekstual sehari-hari, bukan memaksakan satu metode yang kaku.
"Matematika itu perannya ada dua, satu menjadi raja yang berkuasa atas pengetahuan lain, dan bisa juga menjadi pelayan yang menata nalar berpikir anak-anak; pembelajaran tertinggi di dalamnya adalah pemecahan masalah, sehingga sangat keliru jika dalam praktiknya jawaban siswa harus selalu tunggal dan dikungkung oleh otoritas gurunya," kata Agung saat diwawancarai RRI Pontianak, Selasa, 6 Oktober 2026.

Selain tantangan evaluasi kelembagaan, dominasi Kecerdasan Buatan (AI) di sektor pendidikan turut menjadi perhatian kalangan mahasiswa. Mahasiswi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Tanjungpura, Tri Utami, menilai prodi kependidikan harus tetap berdiri mandiri tanpa perlu dilebur dengan matematika murni karena calon guru wajib menguasai ilmu pedagogi guna mengimbangi gempuran teknologi.
"Di tengah kemajuan AI yang menawarkan kepraktisan instan, tantangan terbesarnya adalah bagaimana kami sebagai calon pendidik tetap dituntut memiliki kapabilitas merancang skenario pembelajaran yang memaksa siswa mempertahankan nalar kritis mereka agar tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan mesin," ucap Tri.
Melalui momentum penataan ini, program studi Pendidikan Matematika dituntut untuk terus merevitalisasi kurikulum secara berkala. Langkah adaptif tersebut bertujuan memastikan prodi tetap relevan dan sukses mencetak tenaga pendidik bermutu dalam menghadapi disrupsi era digital.
Ryan Ivander Aldino/MagangHub II 2026
Baca juga: Beban Ganda Guru Pontianak: Mengajar di tengah Kepungan Asap
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....