Bedah Buku Borneo Heritage Forum, Fokus pada Modernisasi Pemetaan Dakwah di Kalbar
- 29 Agt 2026 21:17 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN Pontianak menggelar Seminar dan Bedah Buku Borneo Heritage Forum, Kamis, 27 Agustus 2026, di Tower C Kampus IAIN Pontianak.
Seminar ini mengangkat tema, Konstruksi Identitas dan Geografi Dakwah: Adaptasi Budaya dalam Upaya Memperkuat Ketahanan Masyarakat Kalimantan Barat dengan tiga narasumber, yaitu Dr. Muhammad Gito Saroso, Arief Adi Purwoko, dan Dr. Fauziah.
Dalam seminar ini dua topik yang dibahas, yaitu penelitian peta dakwah berbasis teknologi dan transformasi budaya masyarakat Banten di Kalimantan Barat.
Menurut Ketua Borneo Heritage Forum, Dr. Patmawati mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya akademik untuk meneliti tema-tema keilmuan dan budaya Borneo serta upaya melestarikannya.
Dr. Muhammad Gito Saroso, Arief Adi Purwoko, menjelaskan Dakwah masih bersifat konvensional pada dakwah lisan yang jangkauannya terbatas. Perlu peta dakwah untuk penguatan pemahaman Islam secara utuh terlebih di wilayah perbatasan.
Menurut peneliti, Kalimantan Barat memiliki posisi strategis sebagai penyangga Ibu kota nusantara, sekaligus gerbang perbatasan Indonesia dan Malaysia. Karena itu, perlu mengembangkan peta dakwah berbasis Sistem Informasi Geografis, sebagai instrumen deteksi dini dan mitigasi kerentanan sosial di wilayah perbatasan dan menjadi cara untuk menentukan distribusi Dai dalam menetapkan tema dan program yang tepat.
Arief Purwoko menambahkan, peta dakwah ini merupakan modernisasi instrumen untuk menjawab fakta bahwa selama ini distribusi aktor dakwah tidak merata dan salah tema. Arief mencontohkan, banyak Dai di perkotaan di situ juga gudang kejahatan/penyimpangan dan tiap tahun meningkat. Berdasarkan data tahun 2022 terdapat 3478 kasus kejahatan di Kota Pontianak dan meningkat pada tahun 2024 yaitu 4220 kasus.
Oleh karena itu Arief menegaskan pemetaan dakwah, dilakukan dengan menggunakan QGIS untuk menentukan penyebaran Dai secara proporsional.
Sementara itu, Dr. Fauziah memaparkan tentang transformasi budaya masyarakat Banten di Pontianak. Buku ini mengulas proses migrasi, akulturasi, dan ketahanan identitas masyarakat Banten yang telah menetap di Kalimantan Barat.
Menurut peneliti, masyarakat Banten mampu beradaptasi dengan budaya lokal Melayu dan Dayak, tanpa kehilangan nilai-nilai inti warisan leluhur mereka. Proses ini melahirkan identitas hibrida baru di tanah Kalimantan Barat.
Prof. Ibrahim mengapresiasi Seminar dan Bedah Buku Borneo Heritage Forum. Harapannya acara ini dapat dikenal secara luas terlebih soal kebutuhan dakwah yang mempunyai banyak aspek termasuk memperkuat wawasan kebangsaan, sekaligus mempererat harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakat Kalimantan Barat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....