Borneo Heritage Forum Bedah Mandarin dan Robo-Robo sebagai Pengetahuan Lokal
- 02 Jul 2026 14:49 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Borneo Heritage Forum (BHF) kembali menjadi ruang diskusi akademik untuk mengangkat kekayaan budaya Kalimantan Barat. Melalui seminar dan bedah buku bertema "Eksistensi Mandarin dan Robo-Robo sebagai Pengetahuan Lokal", sivitas akademika Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) IAIN Pontianak bersama para peserta diajak melihat bahasa dan tradisi bukan sekadar warisan budaya, melainkan juga sebagai sumber pengetahuan yang relevan dengan perkembangan zaman pada hari Senin, 29 Juni 2026.
Kegiatan yang digelar di Tower C IAIN Pontianak menghadirkan dua pemateri, yakni Sri Maulidiana, S.Pd., M.TCSOL yang membahas eksistensi bahasa Mandarin sebagai bahasa global, serta Saripaini, S.Sos., M.A. yang mengulas tradisi Robo-Robo sebagai representasi pengetahuan lokal masyarakat Melayu-Bugis di Kalimantan Barat. Materi tersebut menyoroti bagaimana bahasa dan budaya lokal dapat menjadi bagian dari identitas sekaligus modal sosial dalam menghadapi tantangan global.
Ketua Borneo Heritage Forum, Dr. Patma, mengatakan forum ini memang dirancang sebagai ruang pengayaan budaya yang mempertemukan berbagai perspektif tentang warisan budaya di Kalimantan Barat. "Diskusi di BHF menjadi ruang pengayaan berbagai budaya di Kalimantan Barat," ujar Patma.
Dalam pemaparannya, Sri Maulidiana menjelaskan bahwa bahasa Mandarin saat ini berkembang menjadi salah satu bahasa internasional yang memiliki nilai strategis, tidak hanya dari sisi komunikasi, tetapi juga ekonomi, pendidikan, hingga diplomasi. Ia juga menyoroti keterkaitan sejarah masyarakat Tionghoa di Kalimantan dengan perkembangan budaya di Borneo, sehingga penguasaan Mandarin dinilai dapat membuka akses terhadap kajian sejarah, peluang pendidikan, hingga kerja sama internasional.
Sementara itu, Saripaini mengangkat tradisi Robo-Robo sebagai bentuk pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Menurutnya, tradisi tersebut lahir dari pengalaman masyarakat dalam memaknai keselamatan, kebersamaan, serta nilai religius yang kemudian terus berkembang mengikuti dinamika sosial masyarakat. Tradisi Robo-Robo kini tidak hanya dipahami sebagai ritual budaya, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan warisan budaya yang terus dijaga keberlangsungannya.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam perspektif ilmu sosial dan konseling, pengetahuan lokal yang hidup di tengah masyarakat menjadi pintu masuk untuk memahami cara masyarakat memandang persoalan dan mencari penyelesaiannya. Karena itu, tradisi seperti Robo-Robo memiliki nilai akademik sekaligus budaya yang penting untuk terus dikaji.
Seminar dan bedah buku ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Borneo Heritage Forum yang secara konsisten menghadirkan diskusi ilmiah mengenai budaya dan kearifan lokal Borneo. Forum tersebut diharapkan terus menjadi wadah kolaborasi akademisi, mahasiswa, dan masyarakat dalam mendokumentasikan, mengembangkan, serta melestarikan kekayaan budaya Kalimantan Barat di tengah perkembangan global.
Baca juga: Borneo Heritage Forum Angkat Nilai Budaya Sapa dan Base sebagai Warisan Sosial
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....