Suara Tapak Legenda Angkat folklor Sambas lewat Peta Digital Interaktif
- 27 Jun 2026 09:48 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Sambas - Kemajuan teknologi sering kali dituding sebagai penyebab memudarnya pelestarian budaya lokal di kalangan generasi muda. Namun, di tangan sekelompok pegiat budaya, gawai justru disulap menjadi medium pelestari tradisi lisan melalui peluncuran program digitalisasi folklor bertajuk "Suara Tapak Legenda".
Program yang mendapat dukungan dari Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan RI ini menyasar kekayaan legenda di Kabupaten Sambas. Ketua Pelaksana Program "Suara Tapak Legenda", Muhammad Shabirin, menjelaskan bahwa inisiatif ini lahir dari keprihatinan atas putusnya rantai penuturan dongeng dari orang tua ke anak-anak masa kini.
"Orang tua dan nenek moyang kita dulu mendidik karakter anak melalui tradisi lisan seperti legenda, yang di dalamnya sarat akan pesan moral. Karena generasi sekarang tidak bisa lepas dari gawai, maka kita hadirkan warisan cerita tersebut ke dunia mereka dengan cara yang unik," ujar Pria yang biasa di sapa bang Ibeng ini dalam program dialog Ngobras di RRI SP Sambas, Jumat, 12 Juni lalu.
Menariknya, digitalisasi ini tidak dikemas dalam bentuk video, melainkan memadukan peta interaktif, sajian audio dramatik, dan akses pindai kode QR (QR Code). Menurut Ibeng, format audio dipilih secara sengaja untuk merangsang imajinasi pendengar atau theater of mind, layaknya sensasi mendengarkan sandiwara radio di masa lampau.
"Nantinya kode QR ini akan kita sebar di lokasi-lokasi strategis. Saat dipindai, akan muncul peta interaktif lengkap dengan titik koordinat situs sejarahnya, narasi dari penutur asli berbahasa Sambas, dan audio dramatiknya. Orang bisa mendengarkannya kapan saja sambil beraktivitas," kata Ibeng menambahkan.
Dalam kesempatan yang sama, Periset Utama program, Ivan Apriadi, mengungkapkan bahwa ekspedisi yang berlangsung pada 7–18 Juni 2026 ini memfokuskan pendokumentasian pada tujuh titik situs legenda di Sambas. Beberapa di antaranya meliputi legenda Bujang Nadi Dare Nandung, Batu Ballah Batu Betangkup, Muare Ulakan, hingga Tangga Emas.
Guna memastikan keotentikan data, tim peneliti turun langsung menyusuri sungai dan pelosok desa untuk merekam suara para penutur asli (juru kunci), didampingi oleh riset literatur serta arahan dari tokoh budayawan lokal.
"Tantangannya mulai dari cuaca hingga kondisi kesehatan penutur asli yang sudah sepuh. Jika para penutur ini sudah tidak ada, siapa yang akan melanjutkan tradisi lisan ini? Maka, merekam jejak mereka adalah bentuk pertanggungjawaban agar pemuda Sambas kelak tidak kehilangan akar karakternya," ucap Ivan menjelaskan.
Seluruh purwarupa dan hasil akhir dari digitalisasi legenda Kabupaten Sambas ini rencananya akan diluncurkan dalam sebuah lokakarya (workshop) pendidikan di Sambas. Program ini diharapkan menjadi arsip pelestarian budaya, serta turut membuka potensi wisata sejarah yang berdampak pada perekonomian masyarakat lokal.
Baca juga: Bukan Sekadar Kebetulan, Album Bernadya dan Raisa Sama-Sama Lahir di Bulan Juni
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....