Olah Kulit Buah Jadi Sabun, SMAN 7 Pontianak Bidik Adiwiyata Mandiri
- 24 Jun 2026 13:18 WIB
- Pontianak
RRI.CI.ID, Pontianak - SMA Negeri 7 Pontianak terus memperkuat komitmennya sebagai sekolah ramah lingkungan. Setelah sukses meraih predikat Sekolah Adiwiyata Nasional pada tahun 2024, kini sekolah tersebut bersiap melangkah ke level tertinggi, yakni Adiwiyata Mandiri pada tahun 2026.
Guru Pendamping Adiwiyata SMAN 7 Pontianak, Yohana Francisca Dina, menegaskan bahwa Adiwiyata pada hakikatnya bukanlah sebuah perlombaan, melainkan upaya membentuk karakter sadar lingkungan. Hal itu disampaikannya dalam program dialog sore "Ngopi" di RRI Pro 2 Pontianak, Senin, 22 Juni 2026.
"Untuk menuju tingkat Mandiri tahun ini, kami harus mengunggah 24 data penunjang, termasuk kewajiban memiliki minimal lima karya inovasi lingkungan. Kami berfokus pada keanekaragaman hayati, konservasi energi, hingga pengolahan sanitasi," ujar guru yang akrab disapa Bu Dina tersebut.
Guna mencapai target itu, SMAN 7 menerapkan regulasi ketat bernama kebijakan ‘Bawa Pulang Sampah’ dan pelarangan total penggunaan plastik sekali pakai di kantin. Hasilnya sangat signifikan; volume sampah harian sekolah yang dihuni sekitar 900 warga tersebut berhasil dipangkas dari delapan karung menjadi maksimal empat karung per hari.
Langkah progresif sekolah tersebut disambut hangat oleh para siswa melalui lahirnya inovasi nyata. Siswa berprestasi SMAN 7 Pontianak, Izwar Pramaditya Novanto, menginisiasi gerakan pengolahan limbah sisa makanan (food waste) melalui komunitas yang didirikannya, bernama "Genzim".
"Berdasarkan data SIPSN tahun 2025, limbah sisa makanan di Kalimantan Barat jauh lebih mendominasi dibanding sampah plastik. Lewat Genzim, kami mengolah limbah kulit buah dari sekolah menjadi cairan ekoenzim melalui proses fermentasi selama tiga bulan," kata Izwar yang juga menyandang predikat Pelopor Budi Pekerti di sekolahnya.
Hebatnya, cairan ekoenzim tersebut tidak hanya berhenti sebagai produk ekologis, melainkan diolah turunan menjadi sabun organik bernilai ekonomis. Izwar mengkalkulasi, 10 liter ekoenzim mampu menghasilkan 100 botol sabun 500 mililiter seharga Rp20 ribu per botol, yang keuntungannya diputar kembali untuk mendanai gerakan lingkungan.
Hingga saat ini, komunitas Genzim yang digerakkan Izwar telah melebarkan sayapnya dengan menjalin kemitraan bersama 32 sekolah (SD hingga SMA) di Kalimantan Barat, guna membantu sekolah-sekolah tersebut melahirkan karya inovasi Adiwiyata mereka sendiri. Melalui sinergi solid antara ketegasan regulasi sekolah dan kecerdasan ekologis siswanya, SMAN 7 Pontianak optimistis dapat membuktikan bahwa melestarikan bumi bisa berjalan selaras dengan kemandirian ekonomi generasi muda.
Baca juga: MAN 2 Pontianak Siap Raih Adiwiyata Nasional
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....