Borneo Heritage Forum Angkat Nilai Budaya Sapa dan Base sebagai Warisan Sosial
- 31 Mei 2026 15:58 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) IAIN Pontianak menggelar Seminar dan Bedah Buku Borneo Heritage Forum bertema “Masjid sebagai Base Dakwah Inklusif: Memetakan Peran Sapa Tanpa Batas Gender” pada Senin, 25 Mei 2026. Kegiatan yang diikuti dosen dan mahasiswa tersebut membahas kearifan lokal Melayu Sambas serta praktik dakwah inklusif yang berkembang di ruang digital.
Dalam pemaparannya, Dr. Wahab, M.Ag menjelaskan bahwa budaya Sapa dan Base merupakan tradisi masyarakat Melayu Sambas yang telah mengakar kuat dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Sapa dan Base merupakan kebiasaan masyarakat Melayu Sambas yang sudah mendarah daging. Sapaan mengindikasikan kepedulian, upaya membuka diri kepada orang lain sekaligus membangun kedekatan,” ujar Wahab dalam pemaparannya.
Ia menjelaskan, Base merupakan sistem pemanggilan khas masyarakat Melayu Sambas seperti Along, Acik, dan Usu yang mencerminkan struktur keluarga, usia, serta tata krama dalam masyarakat.
“Tujuannya sebagai sarana pendidikan karakter dalam keluarga karena mengajarkan anak untuk berbicara sopan dan menghargai orang yang lebih tua, sekaligus memperkuat rasa persaudaraan dan kedekatan emosional,” katanya.
Menurut Wahab, nilai-nilai yang terkandung dalam budaya Sapa dan Base juga memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan sosial di tengah masyarakat.
“Budaya Sapa dan Base merupakan bentuk kearifan lokal Melayu Sambas yang memiliki fungsi penting dalam proses rekonsiliasi sosial pascakonflik,” tambahnya.
Sementara itu, Dr. Cucu, M.Ag menyoroti perkembangan dakwah di era digital yang tidak lagi terbatas pada ceramah verbal, tetapi juga melalui aksi pemberdayaan dan pendekatan kemanusiaan. Ia mencontohkan konten yang dihadirkan melalui kanal media sosial Purnomo Belajar Baik.
“Dakwah bukan hanya untuk orang sehat. Dakwah hari ini dapat berupa pemberdayaan dengan pendekatan empati yang lebih transformatif, humanis, dan berorientasi pada pemulihan martabat manusia,” ujarnya.
Menurutnya, konten-konten tersebut menghadirkan kelompok rentan seperti orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan tunawisma sebagai manusia yang bermartabat, sehingga mampu mengurangi stigma sosial di masyarakat.
“Dari keseluruhan konten yang ditampilkan, terlihat adanya upaya dakwah humanis yang inklusif dengan membangun komunikasi penuh kasih sayang serta melibatkan berbagai pihak untuk membantu pemulihan mereka,” kata Cucu.
Melalui forum ini, peserta diajak memahami bahwa dakwah tidak hanya dilakukan melalui mimbar, tetapi juga dapat diwujudkan melalui pelestarian budaya lokal, penguatan nilai-nilai kemanusiaan, serta pemanfaatan media digital yang inklusif dan memberdayakan masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....