Nyetir Sosmed atau Disetir Algoritma?
- 23 Mei 2026 08:38 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Media sosial sudah menjadi bagian dari keseharian generasi muda. Derasnya arus informasi digital saat ini, menjadikan generasi muda dituntut mampu mengendalikan penggunaan media sosial agar tidak terjebak dalam perilaku konsumtif, kecanduan scrolling, hingga membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di dunia maya.
Hal itu dibahas dalam program RONDA (Ruang Obrolan Pro 2) di Pro 2 RRI Pontianak dengan topik “Nyetir Sosmed atau Disetir Sosmed” yang menghadirkan dua narasumber muda dari PKBI, yakni Syafiq dan Yohana. Dalam obrolan yang dipandu penyiar Naufal tersebut, keduanya berbagi pandangan mengenai kebiasaan generasi muda dalam menggunakan media sosial di era digital saat ini.
Yohana menilai media sosial kini berkembang semakin canggih dengan berbagai fitur baru yang memudahkan aktivitas pengguna. Namun, kondisi tersebut juga menjadi tantangan karena banyak orang mulai bergantung pada hal-hal instan yang tersedia di internet dan media sosial.
Menurutnya, media sosial bisa memberikan dampak positif apabila digunakan untuk pengembangan diri dan mencari informasi yang bermanfaat. Ia mengaku banyak memperoleh motivasi dari konten-konten edukatif, traveling, hingga pencapaian orang lain yang dilihatnya di media sosial.
“Dengan aku melihat orang yang punya banyak pencapaian dan hal yang aku baru tahu ketika aku buka sosmed, itu malah menjadi motivasi aku,” ujar Yohana.
Sementara itu, Syafiq mengaku media sosial kerap memunculkan rasa iri ketika melihat pencapaian orang lain. Namun, perasaan tersebut perlahan berubah menjadi motivasi untuk lebih aktif mengikuti kegiatan positif selama kuliah.
Ia mengatakan media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana mencari informasi lomba, belajar keterampilan baru, hingga menambah wawasan melalui berbagai konten edukatif yang beredar di TikTok maupun Instagram.
Keduanya juga mengnulas fenomena FOMO atau fear of missing out yang sering dialami generasi muda. Meski demikian, mereka menilai tidak semua FOMO berdampak buruk selama diarahkan pada hal-hal positif, seperti mengikuti lomba, belajar keterampilan baru, maupun membangun kebiasaan ramah lingkungan.
Selain itu, Yohana menilai kecenderungan generasi muda yang terlalu sering membandingkan hidupnya dengan orang lain di media sosial dapat menghambat perkembangan diri. Menurutnya, apa yang terlihat di media sosial umumnya hanya menampilkan sisi menyenangkan dari kehidupan seseorang.
“Padahal yang orang lihat di sosmed itu cuma bagian senang-senangnya doang. Kita enggak tahu perjuangan dia buat mencapai pencapaian tadi gimana,” katanya.
Syafiq dan Yohana juga sepakat bahwa media sosial saat ini telah menjadi kebutuhan karena banyak aktivitas dilakukan secara digital. Meski demikian, pentingnya membatasi waktu penggunaan media sosial agar tidak mengganggu kehidupan nyata dan aktivitas sehari-hari.
Mereka berharap generasi muda dapat lebih bijak dalam menggunakan media sosial dengan menjadikan teknologi sebagai sarana belajar, membangun relasi, dan mengembangkan diri, bukan justru kehilangan fokus terhadap kehidupan nyata di sekitarnya.
Baca juga: Child Grooming di Era Digital, Ancaman Nyata bagi Anak dan Remaja
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....