Cara Efektif Cari Kerja di Era Digital bagi Fresh Graduate
- 26 Apr 2026 14:36 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Mencari pekerjaan di era digital tidak lagi sesederhana mengirim lamaran dan menunggu panggilan. Ada berbagai tahapan yang harus dilalui, mulai dari seleksi CV, tes administrasi, hingga wawancara dan medical check up. Selain itu, proses rekrutmen kini banyak dilakukan secara daring, sehingga pelamar kerja dituntut lebih siap dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Seorang pencari kerja, Dapot, alumni Universitas Diponegoro Semarang dalam Program Ekonomi Digital edisi 17 April 2026, mengungkapkan bahwa penyusunan CV menjadi salah satu faktor penting dalam proses awal seleksi. Ia mengaku lebih sering mendapatkan panggilan ketika menggunakan CV berbasis ATS (Applicant Tracking System) yang disesuaikan dengan kebutuhan rekruter. “Untuk CV sendiri, kita harus menyusunnya dengan benar-benar serius. harus sesuai dengan apa yang mau kita daftar dan linear dengan pengalaman kita.”
Selain CV, portofolio juga memiliki peran penting dalam memperkuat peluang diterima kerja. Portofolio tidak hanya berisi data diri, tetapi juga pengalaman organisasi, magang, proyek yang pernah dikerjakan, hingga pencapaian yang diraih. “Portofolio ini juga dibuat untuk semakin meyakinkan rekruter karena isinya selain data diri, ada juga pengalaman kita selama berorganisasi, magang, atau kerja, kemudian project yang pernah kita lakukan, dan prestasi yang pernah kita capai.”
Dalam mencari pekerjaan, Dapot memanfaatkan berbagai platform digital. Beberapa di antaranya adalah LinkedIn, JobStreet, Dealls, hingga media sosial seperti Instagram.
Namun, ia menilai LinkedIn menjadi platform yang paling efektif karena memungkinkan pengguna membangun profil profesional sekaligus memperluas jaringan. “Saya sendiri memakai beberapa platform, yang paling sering itu LinkedIn, Job Street, ada Dealls, dan lewat Instagram, tapi yang paling efektif kalau menurut saya sih dari LinkedIn karena di situ kita membangun profile dan memperbanyak koneksi, nanti dari koneksi itu akan banyak yang ngasih poster lowongan kerja ataupun link-link pekerjaan gitu.”
Meski demikian, ia menambahkan bahwa peluang untuk lanjut ke tahap berikutnya lebih besar jika pelamar diarahkan langsung ke situs resmi perusahaan. “dari pengalaman saya, jika hanya melalui LinkedIn memang tidak banyak yang lanjut, tapi kalau dari LinkedIn kemudian diarahkan ke website perusahaan biasanya lebih banyak lanjutnya dari website perusahaan.” Ia menilai LinkedIn lebih berfungsi sebagai pintu awal, sementara proses seleksi lanjutan umumnya dilakukan melalui platform resmi perusahaan.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi fresh graduate adalah tahap wawancara. Dapot mengaku banyak pelamar gagal di tahap ini karena kurangnya kesiapan. “Selama saya mengikuti interview dalam mencari pekerjaan ini, yang dilihat bukan seberapa nyambung kita ngomong, bukan seberapa lancar kita berbicara pada rekruter, tapi seberapa jujur kita menjawab pertanyaan rekruter dan seberapa masuk akal jawaban kita itu bisa dipahami satu sama lain.”
Untuk mengatasi hal tersebut, persiapan sebelum wawancara menjadi hal yang sangat penting. Dapot membiasakan diri untuk melakukan latihan sebelum menghadapi interviewer, baik dari pihak human capital maupun user. “Sebelum wawancara saya biasain untuk persiapan dulu, kalau sama HC (human capital) saya latihan untuk personal atau diri saya, kalau untuk interview User saya bakal searching untuk job desk atau lowongan pekerjaan yang saya daftar itu ngelakuin apa saja, atau di bidang itu apa saja yang perlu disiapkan supaya bisa diterima.”
Terkait penolakan dalam proses melamar kerja, Dapot menyarankan untuk tetap melihatnya sebagai bagian dari proses belajar. Ia mengakui bahwa perasaan minder kerap muncul ketika melihat teman sudah lebih dulu mendapatkan pekerjaan. Namun, ia memilih untuk menjadikan hal tersebut sebagai motivasi. “Melihat teman-teman yang sudah dapat kerja duluan pasti kadang ada rasa nge-down, tapi setelah saya pikir-pikir ya setiap orang punya rejekinya masing-masing, yang bisa saya lakukan ya kalau saya menganggap itu adalah hal yang positif ya saya justru akan tanya dia mengenai bagaimana bisa diterima kerja disana, bagaimana cara menjawab yang benar ketika wawancara, atau bertanya tips menyusun CVnya bagaimana.”
Baca juga: UMKM Inklusif Buka Peluang Pasar, Perkuat Ekonomi Keluarga
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....