Penemuan Bruguiera Hainesii di Kubu Raya Jenis Mangrove Langka di Dunia
- 30 Jul 2026 22:18 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Kubu Raya – Keanekaragaman hayati di pesisir Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, kembali menjadi sorotan dunia konservasi. Di balik lebatnya ekosistem hutan pesisir Desa Tanjung Harapan, tersimpan kisah penemuan spesies mangrove paling langka di bumi, yaitu Bruguiera Hainesii, yang saat ini berstatus zona merah dalam daftar IUCN Redlist.
Perwakilan Sampan Kalimantan sekaligus Asisten Biodiversity, Yoga, mengungkapkan bahwa lembaganya telah lama mendedikasikan diri untuk mendampingi masyarakat Desa Tanjung Harapan dalam mengelola dan merehabilitasi kawasan hutan desa sejak tahun 2009 melalui program Delta Kapuas Project Dari sinilah lembaganya bersama warga dan Lembaga Pengelolaan Hutan Desa (LPHD) menemukan permata botoni yang hampir punah tersebut.
“Di sini kan terdapat Bruguiera hainesii yaitu tanaman yang cukup langka. Berdasarkan IUCN Redlist, statusnya sudah termasuk zona merah yang tercatat hanya tersisa sekitar 200 pohon di dunia, termasuk yang ada di Kubu Raya ini,” ujar Yoga, Rabu, 29 Juli 2026.
Terkait awal mula ditemukannya spesies langka ini, Yoga menceritakan bahwa perjumpaan para pegiat lingkungan dengan Bruguiera Hainesii berawal dari pemantauan wilayah yang terancam abrasi parah. Sekitar dua tahun lalu, tim menemukan satu pohon induk yang berdiri rapuh di garis depan hantaman ombak.
“Untuk awal ditemukannya, di depan itu ada satu pohon yang sudah terancam abrasi. Di situ teman-teman sekitar dua tahun lalu menemukan di kawasan ini, kemudian aktif mencari sebaran spesiesnya di kawasan ini,” ungkapnya.
Kondisi kritis pohon induk tersebut langsung memicu respons cepat dari masyarakat setempat melalui Lembaga Pengelolaan Hutan Desa (LPHD) Tanjung Harapan. Ketua LPHD Tanjung Harapan, Joni, menuturkan bahwa pihaknya menaruh perhatian sangat besar untuk menyelamatkan sisa-sisa populasi tersebut dari ancaman abrasi laut.
“Kalau untuk kami, sangat perhatian dengan pohon itu. Kami sudah coba pasang cerocok seperti buluh, tapi kondisinya masih sangat terancam. Sangat disayangkan sekali, karena kita hanya punya tiga pohon hainesii di sini,” ungkap Joni.
Kendati dihadapkan pada ancaman abrasi dan jumlah populasi yang sangat minim di mana hanya tersisa tiga pohon induk upaya konservasi manual yang dilakukan mulai membuahkan hasil. Melalui kerja keras pemantauan dan perawatan, LPHD mencatat adanya perkembangan positif dari penanaman yang dirintis sejak beberapa tahun lalu.
“Alhamdulillah, dari penanaman yang kita mulai sejak 2016, sampai saat ini kita sudah dapat satu pohon bruguiera hainesii baru yang berada di kampung Tanjung Harapan dan sekarang sudah berbuah,” tambahnya.
Kini, menindaklanjuti temuan berharga tersebut, LPHD bersama para mitra pendamping dan masyarakat gencar menggalakkan pembibitan mandiri, bahkan sudah mencapai ratusan bibit. Langkah ini menjadi harapan besar agar populasi Bruguiera hainesii tidak punah dan dapat kembali disebarluaskan untuk menyelamatkan masa depan ekosistem mangrove global dari tanah Kubu Raya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....