Di Negeri Kincir Angin Radio Masih Pilihan Pertama

  • 17 Apr 2026 13:34 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Amsterdam - Ada cerita menarik. Selama dua hari ini saya di Amsterdam, saat sarapan pagi maupun makan malam, seisi ruangan terdengar suara radio.

Mereka menyuguhkan hiburan lewat siaran. Dan sepertinya radio masih tetap primadona di negeri kincir angin ini.

Bukan hanya di satu tempat atau hotel yang kebetulan saya inap di sini. Tapi banyak tempat lainnya, termasuk saat saya memasuki satu toko buku di keramaian kota ini.

Ada baiknya juga era kejayaan kotak kecil bersuara itu dihidupkan kembali. Membawa ke masa silam yang penuh kenangan dan ingatan akan pengalaman.

Mungkin saja di Belanda ini radio masih sebuah wahana komunikasi yang sangat populer, atau sebuah upaya melestarikan sejarah dunia komunikasi media dua arah.

Maka saat menikmati sarapan pagi tadi, pukul 07.30 di sini atau pukul 13.03 di Pontianak dan WIB, saya menikmati sekali siara radio di resto hotel ini.

Meski berbahasa Belanda, namun "terbang jatuh" saya masih dapat memahami artinya.

Dan menginspirasi untuk mengajak menghidupkan kembali era bersiaran radio di masa remaja dulu. Era di mana sang penyiaran bercuap-cuap menyapa pendengarnya.

Syafaruddin DaEng Usman berpose di depan Hotel Du Lovre, Amsterdam.

Pagi tadi saat ditemani secangkir kopi Amerikano, dengan beberapa potong roti dan semangkuk salat, saya nikmati sekali suara radio di resto hotel ini.

Bukan cuma lantunan musik paginya yang mengalun lembut, sembari memandang ke luar kaca pembatas ruang yang memperlihatkan bunga segar tulip sedang mekar, suara musik ini juga menghangatkan badan dari dingin udara di Amsterdam saat ini.

Alunan indah musiknya membawa ingatan ke nostalgia masa remaja. Namun irama indahnya yang lembut mengingatkan untuk segera bergegas ke Rijk Musium untuk tenggelam ke masa silam dengan dokumen dan arsipnya.

Dan dari sana, aku ingin menikmati Indonesia khususnya Kalimantan Barat dengan masa lalunya. Ingin hanyut pada suasana West Borneo, mengarungi Pontianak serupa parit dan sungainya bagaikan kanal yang ada di Holland, atau Landak dengan kejayaan berlian serta Sukadana dan Sambas yang eksotis serta berderet lainnya lagi.

Alunan suara dari radio di negeri Netherland ini mengantarkan ke Rijk Musium, dan dari sana membenarkan kata-kata bahwa buku dan membaca adalah jendela dunia.

Dan dengan radio serta buku, aku sedang berdiri di belakang jendela menatap dunia ...

(Leiden Belanda, 18 April 2026. Pukul 08.05 atau 13.05 WIB)

Penulis: Syafaruddin DaEng Usman

Baca juga: Mengenal Nusantara Beat, Band Belanda Rasa Indonesia

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....