Revolusi Sanitasi Kota Dimulai

  • 19 Agt 2026 16:04 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Pembangunan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) Kota Pontianak mulai memasuki tahap pekerjaan konstruksi. Proyek ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas sanitasi, kesehatan lingkungan permukiman, dan kualitas hidup masyarakat Kota Pontianak.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, pembangunan jaringan utama SPALD-T akan membentang dari kawasan Nipah Kuning Dalam hingga Martapura. Pekerjaan konstruksi dilakukan dengan metode galian terbuka maupun jacking. Sistem ini diperlukan karena jaringan pipa yang ditanam memiliki kedalaman cukup besar, terutama pada pipa primer.

“Nanti kita akan menanam pipa primer dengan kedalaman antara 6 sampai 12 meter. Kemudian disambungkan dengan pipa sekunder dan tersier yang langsung terhubung ke rumah maupun bangunan,” jelasnya usai Kick-off Pembangunan SPALD-T Kota Pontianak di Hotel Ibis, Rabu, 19 Agustus 2026.

Menurutnya, jaringan SPALD-T akan mengalirkan air limbah domestik dari kloset, floor drain, kegiatan mencuci, dan sumber air limbah rumah tangga lainnya. Air limbah tersebut akan masuk ke jaringan pipa secara gravitasi, kemudian disedot dan diolah agar tidak langsung mencemari lingkungan.

“Air limbah rumah tangga disedot dan diolah menjadi air yang lebih bersih,” katanya.

Edi menyebut, target pengolahan air limbah domestik mencapai 24 ribu meter kubik per hari. Sementara sambungan rumah, kantor, maupun tempat usaha ditargetkan dapat menjangkau lebih dari 15 ribu sambungan. Meski demikian, Edi mengakui pelaksanaan konstruksi memiliki sejumlah tantangan. Kondisi tanah Pontianak yang lembek dan bergambut, muka air tanah, serta keterbatasan ruang di jalur utama menjadi faktor yang harus diperhatikan secara teknis.

Selain itu, kawasan yang dilalui proyek merupakan jalur penting distribusi angkutan berat dari dan menuju pelabuhan. Terdapat pula kawasan perkantoran, pendidikan, pasar, dan permukiman sehingga potensi gangguan lalu lintas dan dampak sosial perlu dikelola dengan baik.

“Ini tantangan dalam pelaksanaan, sehingga bisa menyebabkan permasalahan di lapangan seperti kemacetan dan masalah sosial lainnya,” katanya.

Edi memastikan pekerjaan jaringan dilakukan di badan jalan atau ruang milik jalan, sehingga tidak menimbulkan persoalan pembebasan lahan. Namun, akan ada dampak dari pembangunan tersebut. Misalnya lalu lintas lebih lambat, dan alat dan material di sekitar jalan. Akan tetapi pemda sudah menetapkan rencana mitigasi atas sejumlah proyeksi masalah di lapangan.

“Untuk pengelolaannya nanti oleh Perumda Tirta Khatulistiwa, dengan direktur khusus yang menangani sanitasi,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pembangunan SPALD-T dilakukan bertahap hingga tahun 2030. Total kebutuhan anggaran yang disampaikan Kementerian PU mencapai sekitar Rp1,7 triliun dan akan dibagi ke dalam beberapa tahap pelaksanaan per segmen. Pembangunan SPALD-T diharap dapat memberi dampak besar terhadap perbaikan sanitasi kota. Dengan pengelolaan air limbah yang lebih baik, lingkungan permukiman diharapkan menjadi lebih sehat, bersih, dan nyaman bagi masyarakat.

Plt Direktur Sanitasi Kementerian Pekerjaan Umum Sandhi Eko Bramono menjelaskan sanitasi dan air bersih PDAM memiliki hubungan yang sangat erat. Jika air limbah domestik dikelola dengan baik, maka kualitas air baku dapat lebih terlindungi dan sistem penyediaan air minum menjadi lebih aman.

Sandhi menyebut, sistem serupa telah diterapkan di sejumlah daerah di Indonesia. Di antaranya Jakarta, Banda Aceh, Jambi, Pekanbaru, Balikpapan, Denpasar, hingga Yogyakarta yang memiliki sistem penyaluran air limbah sejak lama.

Untuk Pontianak, Sandhi mengakui terdapat tantangan teknis karena kondisi geografis dan karakter tanah yang berbeda. Sistem pipa air limbah umumnya tidak bertekanan dan mengandalkan gravitasi, sehingga akurasi konstruksi menjadi sangat penting.

“Keakuratan konstruksi ini menjadi penting karena pipa air limbah tidak bertekanan, rata-rata mengalir gravitasi. Kepresisian pada waktu konstruksi, termasuk kemiringan pipa, menjadi penting,” jelasnya.

Ia menambahkan, kualitas air hasil olahan atau efluen harus memenuhi baku mutu yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup. Di Pontianak, pengolahan akan dilakukan di dua instalasi pengolahan air limbah domestik, yakni di Nipah Kuning dan Martapura.

“Pengolahan limbah akan membunuh mikroorganisme patogen, sehingga tidak lagi menjadi sumber pencemar biologis, baru kemudian dilepas ke sungai,” pungkasnya.

Proyek SPALDT akan berlangsung di sejumlah ruas jalan, namun pelaksanaannya di lapangan, menyesuaikan tahapan dan jadwal pekerjaan. Adapun ruas jalan yang masuk rencana pekerjaan, sebagai berikut:

1. Jl. Komyos Sudarso

2. Jl. Pelabuhan Rakyat

3. Jl. Sapta Marga

4. Jl. Komyos Sudarso

5. Jl. Atot Achmad

6. Jl. Karet

7. Gg. Alpokat Permai

8. Komp. Yuka

9. Komp. Yuka

10. Jl. DR. Setia Budi

11. Jl. Ketapang

12. Jl. Hijas

13. Jl. Mahakam

14. Jl. Tanjungpura

15. Jl. Siam

16. Jl. Jendral Urip

17. Jl. Kenari

18. Jl. Rajawali

19. Jl. Wolter Monginsidi

20. Jl. Nusa Indah I

21. Jl. Nusa Indah III

22. Jl. Ir. Juanda

Sementara itu, untuk pemerintah turut menyediakan kontak layanan keluhan dan pengaduan melalui surel cisp03kotapontianak@gmail.com dan telepon selama jam kerja lewat 0821-877-9464. (prokopim)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....