Puncak Haji Diwarnai Jemaah Tersasar

  • 08 Jun 2025 23:59 WIB
  •  Pontianak

KBRN, Pontianak: Di tengah lautan manusia yang memadati kawasan lempar jumrah, Sabtu (7/6/2025), Ketua Tim Pengawas Haji DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, menyuarakan keprihatinan mendalam. Ia menyoroti kurangnya kehadiran petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di titik-titik krusial, yang membuat sejumlah jemaah haji Indonesia kebingungan, bahkan tersesat di tengah panas terik dan arus jemaah yang padat.

"Petugas yang tembus ke Mina itu harusnya sudah disimulasi dari awal. Mana titik-titik krusial yang sangat penting, seperti di jalur lempar jumrah yang sekarang ini sangat padat. Jemaah kita banyak yang tidak tahu jalur," ujar Cucun dari Fraksi PKB itu saat ditemui di Mina. “Harusnya petugas ditempatkan di titik-titik penting biar tidak nyasar, mana jemaah haji reguler, mana yang haji khusus.”

Sebagai Wakil Ketua DPR RI sekaligus pemantau langsung di lapangan, Cucun tak tinggal diam. Ia langsung menghubungi Direktur Haji Luar Negeri untuk meminta penambahan jumlah personel di medan, dengan penempatan yang strategis, khususnya di simpul-simpul keramaian.

Pantauan Timwas DPR RI menunjukkan realitas yang memprihatinkan. Lempar jumrah, yang seharusnya menjadi puncak ibadah penuh kekhusyukan, berubah menjadi medan perjuangan bagi sebagian jemaah. Banyak yang kelelahan karena suhu ekstrem, tak sedikit yang kehilangan arah, dan beberapa lansia harus dikeluarkan dari kerumunan akibat kondisi fisik yang memburuk.

Sejumlah jemaah bahkan harus dilarikan ke pos kesehatan akibat keletihan hebat. Dalam rentang waktu itu, laporan mengenai jemaah yang wafat pun mencuat, menambah keprihatinan terhadap sistem pelaksanaan haji di lapangan.

Cucun menegaskan pentingnya evaluasi total terhadap strategi pengamanan dan pendampingan jemaah, khususnya di titik-titik yang berpotensi menimbulkan risiko tinggi.

"Kami mengimbau semua jemaah tetap mengikuti arahan dari petugas yang ada. Tapi kalau petugasnya juga minim, ini menjadi masalah besar," tegasnya. "Kita ingin semua jemaah aman, nyaman, dan ibadahnya khusyuk tanpa tersesat atau mengalami kondisi darurat."

Dengan tingginya tantangan di lapangan, seruan Cucun menjadi pengingat penting, bahwa ibadah yang khusyuk harus diiringi perlindungan yang memadai, bukan hanya dari sisi spiritual, tetapi juga dari sisi logistik dan kemanusiaan.

Sumber: Parlementaria dpr.go.id

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....