Pertanian Holtikultura Berkelanjutan di Pusat Kota Pontianak
- 07 Mei 2025 17:23 WIB
- Pontianak
Pertanian Holtikultura Berkelanjutan di Pusat Kota
KBRN, Pontianak: Serombongan warga datang pada saat Irwan dan anggota kelompok tani lainnya sedang mengemas sayur hasil panen Minggu pagi itu. Kedatangan tamu segera menghidupkan suasana kebun bermacam jenis sayur, seperti bayam, sawi, kangkung, cabai dan banyak jenis sayur lainnya yang semula hening, suara tamu riuh rendah. Mereka riang gembira sekaligus terkesima dengan hamparan hijau kebun sayur yang berada di Balai Warga Kampung Gambut Siantan Hilir atau biasa disebut Kuat Sihir di Darma Putra Kelurahan Siantan Hilir, Kecamatan Pontianak Utara itu.
Usai menikmati hamparan hijau kebun sayur itu, Irwan menawarkan mi sayur kepada para tamunya. Mi bewarna hijau itu merupakan hasil olahan kelompok tani tersebut. "Jadi, sayang kalau misalnya ada lebih sayur, daripada dibuang maka kami manfaatkan jadi mi sayur dan lainnya,” kata Ida, istri Irwan sembari membuat mi sayur di Dapur Kita Bersama di samping Balai Warga Kuat Sihir.
Selain mi sayur, ada beberapa penganan yang disuguhkan kepada tamu seperti stik sayur, rengginang ubi, stik nenas, sirup nenas dan roti canai kering. “Semuanya ini, kami manfaatkan sayur yang ada di sini saja hasil pertanian di sini," timpal Ida.
Tak ada hasil panen yang tersisa atau terbuang. Semua hasil panen sayur diolah menjadi bahan yang bermanfaat. Hal ini membuat para tamu semakin kagum dengan kelompok tani yang dipimpin oleh Irwan. “Salut melihat mereka ini, belum selesai kagum lihat hamparan hijau sayur, di sini sudah dikasih hasil olahannya,” kata Ade Marheni Dewi, seorang anggota rombongan mak-mak itu.
Kehadiran rombongan ibu-ibu ini bukan semata untuk piknik di kebun sayur. Puluhan ibu-ibu ini justru ingin belajar bagaimana menjadi petani yang sukses. Dengan demikian, kegiatan sehari-hari mereka akan lebih produktif. Mereka ingin berhasil seperti Irwan dan kelompoknya dalam mengelola kebun sayur seluas 10 hektare tersebut.
Dalam pertemuan itu, Irwan menyampaikan materi mulai dari cara dasar menjadi petani hingga mengelola hasil pertanian. Bukan hanya teori, Irwan juga mengajak puluhan warga untuk melihat secara langsung cara bertani di lahan hijaunya. Tamunya diajak melihat beberapa bedeng mulai dari yang baru ditanam, mulai tumbuh hingga sayur yang sudah siap panen.
Kelompok perempuan ini juga bukan hanya diajarkan cara menanam melainkan juga memilih sayur yang siap panen. “Selain bisa beli sayur, kami juga bisa belajar tentang bertani,” kata Dewi sembari memanen sayur sawi.
Kebun sayur yang tak jauh dari pusat kota Pontianak ini rencananya akan dijadikan sebagai destinasi wisata hortikultura yang dilengkapi dengan rumah singgah. Sudah ada berbagai lahan sayur di kebun Kuat Sihir binaan Badan Usaha Milik Rukun Warga (BUMRW) 33 di Kelurahan Siantan Hilir, Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat itu. Namun Irwan masih menunggu suntikan modal karena biayanya cukup besar.
Beralih Menjadi Ramah Lingkungan
Irwan menjadi petani sejak 2015. Kala itu, dia masih menerapkan pertanian dengan membakar lahan. Bahkan, pada waktu itu, Irwan bersama petani lainnya sempat mengkampanyekan membakar hutan dan lahan dengan maksud agar warga bisa bertani secara keseluruhan. “Jangankan kayu yang besar, yang kecil saja, tidak ada (habis dibakar),” kenang Irwan.
Alih-alih menambah kapasitas produksi pertanian, upaya yang dilakukan justru berdampak buruk bagi lingkungan. Luas lahan yang dibakar itu justru mubazir tak terpakai. “Setelah kami bakar justru banyak lahan terbengkalai, banyak tidak bisa digunakan, tidak produktif atau over,” ujarnya penuh penyesalan.
Ulah Irwan membakar hutan juga berdampak ke warga sekitar. Ketika hujan datang, banjir menggenangi pemukiman warga karena hutan ataupun pepohonan untuk menyerap air telah gundul akibat pembakaran secara massal pada 2015. Banjir juga merugikan petani karena sarana produksi mereka rusak dan lahan terendam air. Bahkan banyak yang gagal panen.
Akibat turut merasakan dampaknya, Irwan bersama kelompok tani BUMRW 33 mulai menerapkan konsep pertanian ramah lingkungan sejak 2019. Mereka mulai mengelola lahan gambut tanpa membakar. Terobosan ini dilakukan oleh Irwan bersama kelompok tani lainnya berawal dari kesadaran akan keselamatan dan keberlanjutan lingkungan. Kelompok petani yang mengelola 30 persen dari luas lahan gambut sekitar 178 hektare ini juga memanfaatkan sisa tanaman untuk dijadikan pupuk pertanian hortikultura.
Konsep pertanian yang dilakukan oleh petani binaan BUMRW 33 Siantan Hilir ini kemudian menjadi contoh dalam pengelolaan lahan gambut yang ramah lingkungan di Kalimantan Barat. "Dalam sekali panen itu, kami bisa hasilkan delapan ton bahkan pernah mencapai 12 ton sayur," ujarnya.
Panen sayur ini Irwan lakukan setiap hari. Dimana hasil pertanian di kawasan itu menjadi penyuplai utama holtikultura bahkan menjadi lumbung holtikultura bagi Kota Pontianak khususnya dan Kalimantan Barat pada umumnya, bahkan mampu dipasarkan ke luar daerah Kalimantan Barat.
Irwan mengatakan, sistem pertanian yang diterapkannya merupakan bagian implementasi Undang-Undang (UU) Nomor 22 Tahun 2019 tentang Sistem Budi Daya Pertanian Berkelanjutan dan implementasi UU Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Dia mengaku sudah menuai dampak positif dari penerapan pertanian yang ramah lingkungan ini. Secara perlahan, dia mengatakan, petani lain juga sudah menerapkan teknik pertanian yang sama.
Selain mengelola lahan pertanian tanpa membakar, Irwan bersama anggotanya juga mulai mulai mengurangi penggunaan bahan kimia sejak 2019 lalu. Dari awalnya menggunakan 100 persen pupuk atau obat kimia untuk tanaman hortikultura atau sayuran, kini dia hanya memakai hanya 30 persen dari kebutuhan bahan kimia. Sisanya, sebanyak 70 persen kelompok tani ini sudah beralih ke bahan organik.
Irwan bercerita pengurangan pemakaian bahan kimia ini dipicu karena kelangkaan pupuk subsidi pemerintah. Pada 2018, mereka tidak memperoleh pupuk subsidi sehingga akhirnya terpaksa mencari pupuk pengganti. Alasan lainnya juga karena dampak penggunaan bahan kimia yang merugikan. Menurut Irwan, penggunaan bahan kimia telah menyebabkan lahan pertanian mereka semakin gersang sehingga terjadi penurunan permukaan tanah hingga 40 centimeter.
Pengurangan pemakaian bahan kimia juga menghemat pengeluaran mereka. Sejak beralih menggunakan pupuk organik, kelompok tani ini hanya cukup menggunakan satu tangki bahan kimia untuk seluruh lahan. Bahan kimia digantikan bahan organik cair dari serai, sirih, daun pepaya, sisa tanaman (sampah) dan air.
Irwan menjelaskan dalam seliter bahan organik cair ini terdapat campuran 20 kg bermacam limbah seperti limbah sayur, kedebong pisang dan kotoran sapi/ayam yang diendapkan selama beberapa hari. Kemudian hasil dari pembuatan pupuk ini dibagi kepada para petani dalam kelompoknya untuk digunakan.
Pengurangan pemakaian bahan-bahan kimia juga dilakukan petani di Parit Paeran Desa Arang Limbung Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Mereka juga mengusung konsep ramah lingkungan. Ketua Kelompok Tani Aryo Trisno Subur mengatakan pemakaian pupuk kimia merugikan mereka.
Ketika menggunakan menggunakan pupuk kimia ini, Aryo secara rutin mengecek kondisi tingkat keasaman tanah. Menurutnya, kondisi tingkat keasaman tanah berada di angka 3 atau 4. Hal ini berbeda dengan tingkat kadar asam di awal membuka lahan masih berada pada kondisi netral yakni di angka 6 sampai 7.
Aryo juga mengakui, lahan pertaniannya semakin hari semakin gersang bahkan terjadi penurunan signifikan akibat pemakaian bahan kimia. Begitu juga dengan kualitas hasil produksi pertaniannya yang dirasakan kurang sehat bagi yang mengkonsumsi maupun pada lingkungan. “Kalau kebanyakan pakai kimia tanah kurang bagus,” katanya.
Aryo meyakini sisa lahan pertanian bisa ditanami kembali dengan jenis tanaman apapun dengan penggunaan bahan ramah lingkungan ini. “Berbeda dengan menggunakan kimia, kalau full kimia itu tidak bisa ditanam jenis lainnya,” katanya.
Aryo semakin memantapkan diri beralih dari kimia ke organik setelah mengetahui masa hidup tanaman akan lebih lama sehingga frekuensi panen akan semakin sering. Dengan alasan itulah, Aryo beralih ke sepenuhnya organik sejak 2024. “Selisihnya kalau umumnya pakai kimia misalnya untuk tanaman timun panen 14 kali saja tapi kalau pakai organik bisa lebih 19 kali,” ungkap Aryo yang pernah mendapatkan pendampingan dari Badan Restorasi Gambut ini.
Saat itu, Aryo bersama kelompok taninya membuka lahan pertanian di lahan gambut seluas 1,2 hektare yang ditanami beberapa jenis sayur seperti gambas, timun, kacang panjang, kangkung dan cabai. Dalam satu jenis tanaman sayur waktu itu, Aryo bisa menghasilkan Rp7 juta hingga Rp11 juta dalam satu musim hingga pada tahun 2023.
Kini Aryo mulai beralih ke tanaman jahe dan pepaya. Luas lahan yang ada kurang lebih satu hektare ini sejak sembilan bulan lalu sudah mulai ditanami jahe dan ratusan pepaya. Pemilihan tanaman jahe dan pepaya ini karena tingkat perawatannya yang tidak terlalu rumit.
Sementara untuk jahe yang ditanam ini diprediksi akan bisa menghasilkan lebih banyak dari biasanya. Hal itu Aryo sampaikan setelah mengetahui uji coba panen dalam setengah bedeng dengan panjang sekitar lima meter bisa menghasilkan sekitar 49 kilogram dengan harga Rp15 ribu perkilogram. Sementara, Aryo sudah menanam jahe lebih dari 50 bedeng dengan panjang sekitar 10 meter per galang. Tanaman jahe ini terus Aryo tambah hingga bisa mencapai satu hektare. "Masih terus saya tambah untuk jahe ini, karena luas lahan ini kan sekitar satu hektare," ungkapnya.
Petani lainnya juga mulai sadar dampak penggunaan bahan kimia secara berlebihan. “Kalau biaya pakai pupuk kimia itu tinggi. Pertumbuhan sayurnya cepat dan daunnya itu bagus, enggak ada ulatnya, mulus pokoknya. Cuma kalau dipikir-pikir kami kasih makan racun ke orang karena residunya melekat di situ,” ungkap Fendi.
Penyumbang Emisi Gas Rumah Kaca
Akademisi Universitas Panca Bhakti Pontianak Ida Ayu Suci menjelaskan, penggunaan bahan kimia sintetik secara terus-menerus akan menurunkan unsur hara di dalam tanah, meningkatkan toksisitas dan menimbulkan emisi gas rumah kaca, serta dapat merusak kepada kesehatan petani bahkan dapat menimbulkan penyakit.
“Kalau semakin banyak penggunaannya berarti semakin besar sumbangsihnya kepada emisi karbon gas rumah kaca. Jadi kayak misalnya petani melakukan pembakaran dan sebagainya, itu kan menyumbang besar emisi gas rumah kaca, kepada lingkungan yaitu efeknya besar kepada efek rumah kaca,” ungkap pengajar jurusan agroteknologi ini.
Jumlah pertanian yang benar-benar organik keseluruhannya di Kalimantan Barat baru sedikit. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mengatakan baru ada satu lahan pertanian organik di daerah mereka yaitu budidaya nanas di Galang Mempawah. Pengembangan nenas di Desa Galang, Kecamatan Sungai Pinyuh seluas 15 hektare dilakukan oleh 48 Kelompok Tani Harapan Baru. Pengelola lahan ini telah memiliki sertifikat Nenas Organik dari Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman, Mojokerto, Jawa Timur serta dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, dan Sertifikat Produk Prima 3.
Hasil dari pertanian nenas organik itu mencapai 1-2 ton per hektare. Selain nenas segar, produk hasil pertanian itu juga dijual dalam bentuk olahan nenas seperti manisan, selai, sirup, dodol, abon, kerupuk dan madu kelulut. Atas keberhasilan itu, Kelompok Tani Galangsari juga telah mendapat penghargaan Sida Karya dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan Barat.
Sementara sebagian besar petani masih menggunakan bahan semi organik. Namun, Kepala Bidang Hortikultura Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalimantan Barat Bader Sasmara mengatakan sebagian besar lahan sudah tidak lagi dikelola dengan cara membakar hutan.
Pada 2024, produksi holtikultura Kalimantan Barat sebesar 613.604 ton yang berasal dari luas lahan panen sebesar 39.330 hektare. Rinciannya, produksi buah sebanyak 542.463 ton, sayur sebanyak 58.927 ton dan biofarmaka sebanyak 21.500 ton.
“Ada penurunan sebesar 3,51 persen dari 2023. Mungkin salah satu penyebabnya ialah cuaca. Kedua, mungkin keterbatasan dari petugas dalam mengumpulkan data karena keterbatasan honorium mengingat jarak tempuh dalam mengumpulkan data antara desa ke desa di Kalimantan Barat cukup jauh sehingga data di lapangan tidak terkumpul semuanya,” ujar Bader.
Kota Pontianak menjadi salah satu sentra holtikultura di Kalimantan Barat. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak, Muchammad Yamin mengatakan, produksi sayur di wilayah Kecamatan Pontianak Utara bisa mencapai 15 sampai 30 ton perhari. “Bisa dikirim ke daerah-daerah lain dan bahkan sampai ke Kalimantan Timur. Kami tingkatkan lagi lewat program-program Presiden yaitu jagung dan sebagainya,” ujarnya.
Pemerintah Kota Pontianak terus mendorong peningkatan hasil produksi dari pertanian hortikultura khususnya sayuran karena kebutuhan sayuran semakin bertambah. Selain memperbaiki kualitas sarana dan prasarana pertanian, Pemerintah Kota Pontianak juga berjanji menambah luas lahan pertanian mengingat semakin padatnya permukiman penduduk yang berimbas pada pengurangan lahan.