Bom Molotov Pelajar Jadi Alarm Dunia Pendidikan
- 05 Feb 2026 10:02 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Kubu Raya - Peristiwa pelemparan bom molotov oleh siswa SMP Negeri 3 Kubu Raya menjadi perhatian serius berbagai pihak. Insiden yang terjadi pada Selasa, 3 Februari 2026, tersebut dinilai sebagai alarm keras bagi dunia pendidikan, khususnya terkait pembinaan karakter, kesehatan mental, serta pengawasan terhadap peserta didik di lingkungan sekolah.
Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kalimantan Barat, Muhamad Sani, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kejadian yang melibatkan pelajar tersebut. Menurutnya, aksi berbahaya di lingkungan pendidikan tidak bisa dianggap sebagai peristiwa biasa.
“Ini sangat memprihatinkan. Ketika pelajar sudah terlibat dalam tindakan berbahaya seperti pelemparan bom molotov, maka ini menjadi tanda adanya persoalan mendasar yang harus segera dibenahi,” ujar Muhamad Sani, Rabu 4 Februari 2026.
Ia menegaskan, penanganan kasus serupa harus melibatkan seluruh pihak, mulai dari keluarga, sekolah, pemerintah daerah, hingga aparat penegak hukum.
“Penanganannya tidak bisa hanya sebatas proses hukum. Pembinaan mental, karakter, dan pengawasan anak-anak harus diperkuat. Dunia pendidikan wajib menjadi ruang yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan,” katanya, menegaskan.
Dari sudut pandang psikologi pendidikan, Sani menilai perilaku ekstrem pada pelajar umumnya dipicu akumulasi masalah psikososial yang tidak tertangani sejak dini.
“Pada usia remaja awal, emosi masih sangat labil. Tekanan di rumah, lingkungan pergaulan, maupun sekolah yang tidak tersalurkan dengan baik bisa memicu perilaku agresif,” ujarnya.
Ia mendorong sekolah memperkuat peran guru Bimbingan dan Konseling (BK) serta membangun sistem deteksi dini terhadap perubahan perilaku siswa.
“Pendekatan represif saja tidak cukup. Dibutuhkan pendampingan psikologis, komunikasi intensif antara sekolah dan orang tua, serta ruang aman bagi siswa mengekspresikan masalahnya,” ucapnya.
Selain itu, pendidikan karakter dan literasi emosi perlu diperkuat dalam kurikulum agar siswa mampu mengelola emosi, menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, serta memahami konsekuensi setiap tindakan.
Sementara itu, aparat kepolisian masih melakukan pendalaman terkait motif dan latar belakang pelaku dengan tetap mengedepankan prinsip perlindungan anak sesuai ketentuan perundang-undangan.
Diketahui, peristiwa tersebut mengakibatkan satu orang mengalami luka dan telah mendapatkan penanganan medis. Kondisi korban dilaporkan stabil dan telah dipulangkan ke rumah.
FKDM Kalbar berharap insiden ini menjadi momentum evaluasi bersama agar dunia pendidikan di Kalimantan Barat benar-benar menjadi lingkungan yang aman, sehat, dan mendukung tumbuh kembang anak. (tim liputan)
Baca juga: Pascabom Molotov SMPN 3, KPAD Beri Pendampingan
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....