Drakor dan Dracin Sama-Sama Bikin Nagih, Nonton atau Pelarian?

  • 30 Apr 2026 12:19 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Tren menonton drama Asia semakin berkembang, mulai dari drakor (drama Korea) hingga dracin (drama China) yang kini banyak beredar di media sosial. Akses yang semakin mudah membuat kebiasaan menonton tidak lagi terbatas pada satu atau dua episode, tetapi bisa berlanjut berjam-jam tanpa terasa.

Fenomena ini sering berawal dari hal sederhana. Ada yang mulai dari satu episode drakor sebelum tidur, ada juga yang tanpa sengaja “terjebak” menonton potongan dracin di FYP. Meski jalannya berbeda, kebiasaan yang terbentuk cenderung sama, yaitu keinginan untuk terus melanjutkan tontonan.

Jika diperhatikan, drakor dan dracin memiliki pola yang mirip dalam menarik penonton. Drakor biasanya masuk melalui rekomendasi atau tren yang sedang ramai, dengan alur cerita yang dibangun perlahan namun emosional. Sementara itu, dracin lebih cepat menarik perhatian lewat potongan video singkat yang langsung menyajikan konflik. Keduanya sama-sama membuat penonton merasa “tanggung” untuk berhenti.

Menariknya, tren drama saat ini tidak lagi didominasi genre romantis. Banyak drakor yang mengangkat tema thriller, misteri, hingga horor. Di sisi lain, dracin juga menghadirkan konflik yang cepat dan intens. Perpaduan alur yang menegangkan dan penuh emosi ini membuat rasa penasaran semakin kuat, sehingga penonton terdorong untuk terus mengikuti cerita.

Secara psikologis, kebiasaan ini tidak lepas dari strategi cerita yang digunakan. Adanya cliffhanger di akhir episode, alur yang menggantung, serta dorongan emosi yang terus dibangun membuat otak sulit berhenti. Ditambah dengan fitur autoplay dan algoritma media sosial, penonton sering kali tidak memiliki jeda untuk benar-benar berhenti menonton.

Namun, penting untuk memahami bahwa masalahnya bukan pada tontonan itu sendiri, melainkan pada pola konsumsi. Ketika menonton mulai menjadi cara utama untuk menghindari stres, mengganggu waktu tidur, atau mengurangi produktivitas, maka kebiasaan ini perlu mulai dikendalikan.

Pada akhirnya, drakor dan dracin tetap menjadi bentuk hiburan yang wajar dan bisa dinikmati siapa saja. Kuncinya adalah keseimbangan. Menonton boleh saja, selama tetap sadar kapan harus berhenti dan tidak mengabaikan aktivitas lain dalam kehidupan sehari-hari.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....