Kenapa Kita Sering Impulsive Buying saat Stres?

  • 30 Mar 2026 14:24 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Di era digital, belanja jadi semakin mudah—cukup beberapa klik, barang sudah sampai. Tapi di balik kemudahan itu, ada satu kebiasaan yang sering tidak disadari, yaitu impulsive buying, terutama saat seseorang sedang stres. Dalam kajian psikologi konsumen, perilaku ini sering dikaitkan dengan cara individu mengelola emosi di tengah tekanan. Saat stres, tubuh dan pikiran berada dalam kondisi tidak nyaman. Dalam situasi ini, otak secara alami mencari cara tercepat untuk meredakan emosi negatif. Menurut penelitian dalam bidang psikologi, kondisi stres dapat mendorong individu menggunakan strategi coping yang bersifat instan, termasuk belanja impulsif (Dittmar, 2005).

Secara biologis, aktivitas membeli sesuatu dapat memicu pelepasan dopamin, yaitu hormon yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan. Studi dari Harvard Medical School menjelaskan bahwa dopamin bekerja dalam sistem reward otak, yaitu bagian yang memberi “sinyal puas” saat kita melakukan sesuatu yang menyenangkan. Ketika melihat barang yang diinginkan, menambahkannya ke keranjang, hingga menyelesaikan transaksi, otak merespons seolah-olah kita mendapatkan hadiah. Proses ini membuat belanja terasa memuaskan secara emosional, meskipun sebenarnya tidak selalu berdasarkan kebutuhan. Itulah kenapa, bahkan sekadar checkout barang kecil pun bisa terasa “menenangkan” saat stres. Namun, efek tersebut tidak bertahan lama. Setelah euforia sesaat, sering kali muncul rasa bersalah atau penyesalan, terutama jika pembelian dilakukan tanpa perencanaan. Penelitian oleh April Lane Benson juga menunjukkan bahwa impulsive buying sering diikuti oleh emosi negatif setelahnya, yang justru memperburuk kondisi psikologis.

Selain itu, stres juga dapat menurunkan kemampuan seseorang dalam mengontrol diri. Dalam penelitian tentang self-control oleh Roy F. Baumeister, dijelaskan bahwa kontrol diri bekerja seperti “energi mental” yang bisa terkuras. Saat seseorang lelah secara emosional atau berada di bawah tekanan, kapasitas untuk menahan godaan ikut menurun. Akibatnya, keputusan yang biasanya bisa dipikirkan matang—seperti menahan diri untuk tidak belanja jadi lebih sulit dilakukan. Dalam kondisi ini, individu cenderung bertindak lebih cepat tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang.

Lingkungan digital juga turut memperparah kondisi ini. Studi perilaku konsumen modern menunjukkan bahwa faktor seperti flash sale, notifikasi diskon, dan paparan iklan yang terus-menerus dapat meningkatkan kemungkinan pembelian impulsif, terutama ketika individu sedang dalam kondisi rentan secara emosional. Karena itu, penting untuk mulai mengenali pemicu kebiasaan ini, memberi jeda sebelum membeli, serta mencari alternatif pelarian yang lebih sehat. Dengan kesadaran dan kontrol diri yang lebih baik, impulsive buying saat stres bisa dikendalikan sehingga tidak berdampak negatif pada kondisi finansial maupun mental.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....