Pemuda Mempawah Kembangkan Seledri Hidroponik Secara Mandiri
- 27 Mar 2026 14:46 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Mempawah - Usia muda tidak menjadi penghalang untuk berinovasi di bidang pertanian. Aditya Augusta Pratama, warga Desa Pasir Palembang, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, membuktikan hal tersebut dengan mengembangkan tanaman seledri hidroponik secara mandiri di usia 19 tahun.
Aditya mengaku baru sekitar lima bulan terakhir menekuni budidaya seledri hidroponik. Ia memilih seledri karena merupakan kebutuhan yang selalu ada di masyarakat, terutama sebagai pelengkap berbagai makanan seperti bakso dan masakan lainnya.
Selain itu, sistem panen seledri dapat dilakukan secara bertahap dan sudah memiliki pengepul serta pasar yang jelas, sehingga dinilai sangat potensial untuk dikembangkan di Kalimantan Barat. Bahkan menjelang Idul Fitri, permintaan seledri meningkat dan stok yang dimiliki hampir selalu habis terjual.
“Kalau di Kalbar sangat potensial sekali dan harganya cukup tinggi. Terutama menjelang idul Fitri, berapapun kita punya stok, langsung habis. Alhamdulillah Ramadan kemarin, kita sudah panen sekitar 1,4 Ton,” ujarnya. Jum’at, 27 Maret 2026.
Dalam proses budidaya, Aditya memulai dari penyemaian biji selama 30 hari, kemudian dipindahkan ke paralon untuk pembesaran selama 40 hari. Total waktu dari penyemaian hingga panen sekitar 70 hari setelah semai. Ia menggunakan sistem hidroponik NFT (Nutrient Film Technique), yaitu teknik budidaya dengan mengalirkan nutrisi tipis secara terus-menerus melalui akar tanaman di dalam talang miring.
“Sistem ini lebih baik karena akar tanaman tidak tergenang air sehingga mengurangi risiko pembusukan,” imbuhnya.
Meski demikian, kata Aditya tantangan tetap ada, terutama saat terjadi pemadaman listrik. Karena sistem NFT bergantung pada aliran air nutrisi, jika listrik padam dan air tidak mengalir, tanaman bisa cepat layu. Oleh karena itu, menurutnya, keberadaan genset menjadi hal penting dalam usaha hidroponik.
“Saya pernah tengah hari itu ada beberapa lajur. Saya tak ada lihat, kan. Jadi, layu itu. Jadi kalau kita enggak ada genset, susah kalau mati lampu, Pak” kata Aditya, menjelaskan.
Untuk membangun satu greenhouse hidroponik, Aditya membutuhkan modal sekitar 10 hingga 15 juta rupiah. Dalam satu greenhouse terdapat sekitar 1.600 lubang tanam yang mampu menghasilkan sekitar 300-kilogram seledri per musim tanam dengan masa panen sekitar dua bulan sepuluh hari.
“Hasil panen tersebut dipasarkan ke berbagai daerah seperti Mempawah, Singkawang, Sungai Duri, Putussibau, Anjungan, dan Pontianak, dengan pasar terbesar berada di Pontianak, khususnya Pasar Flamboyan,” ucapnya.
Sebelum menekuni hidroponik, Aditya pernah menanam cabai secara konvensional. Namun ia beralih ke hidroponik karena dinilai lebih potensial dan tidak terlalu bergantung pada kondisi musim, terutama di daerahnya yang sering mengalami air asin saat musim kemarau sehingga menyulitkan penyiraman tanaman konvensional.
Dari segi pendapatan, Aditya mengaku omset dari hidroponik bisa mencapai puluhan juta rupiah karena panen dapat dilakukan setiap bulan. Berbeda dengan cabai yang membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk panen dan memiliki harga yang tidak menentu.
Perawatan seledri hidroponik sendiri tidak terlalu sulit, hanya perlu rutin mengecek air tendon, nutrisi, pH air, serta memastikan aliran air tidak tersumbat. Baginya, aliran air merupakan “jantung” dari sistem hidroponik yang menentukan keberhasilan tanaman. “Saya berharap usaha mandiri yang dijalankan ini dapat terus berkembang dan penjualannya semakin lancar ke depannya,” tutur Aditya mengharapkan.
Kisahnya menjadi inspirasi bahwa anak muda juga bisa sukses dan mandiri melalui pertanian modern seperti hidroponik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....