Pepatah Lama: Bagai Pungguk Merindukan Bulan
- 17 Feb 2026 13:28 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Minggu, 15 Februair 2026, lembayung senja mulai memudar di ufuk barat Desa Sukamaju, menyisakan semburat jingga yang perlahan ditelan kegelapan malam. Suara jangkrik mulai bersahutan di balik rimbunnya rumpun bambu, sementara aroma tanah basah sisa hujan sore tadi masih tercium samar. Di sebuah kursi kayu panjang di teras rumah panggung tua, duduklah Pak Tua Hamdan ditemani segelas kopi hitam yang masih mengepul. Tak lama kemudian, pemuda bernama Aris datang menghampiri, wajahnya tampak ditekuk lesu sambil menatap rembulan yang mulai menampakkan diri di langit malam yang bersih.
Aris: (Menghela napas panjang sambil duduk di samping Pak Hamdan) "Lihat bulan itu, Pak. Begitu indah, tapi terasa sangat jauh. Kadang saya merasa hidup saya ini persis seperti cerita lama yang sering Bapak ceritakan."
Pak Hamdan: (Tersenyum tipis, menyesap kopinya perlahan) "Cerita yang mana, Ris? Tentang Pungguk yang merindukan Bulan itu?"
Aris: "Iya, Pak. Rasanya lelah mengejar sesuatu yang sudah jelas-jelas tidak mungkin digapai. Saya merasa sedang memperjuangkan mimpi yang hanya akan berakhir menjadi angan-angan kosong. Apakah pepatah itu memang diciptakan untuk membuat kita menyerah?"
Pak Hamdan: "Kau salah mengartikannya, Nak. Pepatah 'Bagai Pungguk Merindukan Bulan' memang sering digunakan untuk menggambarkan cinta atau cita-cita yang mustahil tercapai karena perbedaan kasta, status, atau keadaan. Namun, jangan kau lihat hanya pada kegagalannya."
Aris: "Lantas, apa yang harus saya lihat? Pungguk itu hanya bisa menatap bulan dari dahan pohon yang gelap, sementara bulan tetap tenang di singgasananya tanpa pernah menoleh sedikit pun."
Pak Hamdan: "Lihatlah pada kesetiaan si Pungguk. Meski ia tahu bulan tak mungkin ia sentuh, ia tetap bernyanyi setiap malam. Ia tidak memilih untuk menutup mata atau berhenti mencintai. Di dunia yang serba instan ini, keberanian untuk tetap berharap pada sesuatu yang tinggi adalah sebuah kehormatan tersendiri. Namun, ada pelajaran penting lainnya: kebijaksanaan untuk tahu kapan harus tetap menatap bulan sebagai inspirasi, dan kapan harus mulai berjalan di atas bumi."
Aris: "Jadi, maksud Bapak saya harus berhenti?"
Pak Hamdan: "Bukan berhenti, tapi meletakkan porsinya dengan benar. Jadikan 'bulan'-mu itu sebagai cahaya yang menerangi jalanmu di kegelapan, bukan sebagai beban yang membuatmu tak bisa melangkah. Jika kau terus menatap ke atas tanpa melihat jalan di bawah kaki, kau akan terperosok ke dalam lubang. Terkadang, Pungguk perlu sadar bahwa meski ia tak bisa terbang ke bulan, ia masih punya sayap untuk terbang mencari dahan yang lebih baik di hutan ini."
Aris: (Terpaku sejenak, menatap bayangan bulan di permukaan kopi Pak Hamdan) "Mungkin selama ini saya terlalu sibuk meratap daripada terbang ya, Pak?"
Pak Hamdan: (Menepuk bahu Aris) "Bulan itu tetap indah karena ia jauh. Jika kau berhasil menyentuhnya, mungkin kau hanya akan menemukan debu dan kawah yang gersang. Terkadang, keindahan sebuah impian terletak pada jaraknya. Pulanglah, istirahat. Biarkan bulan malam ini menjadi pengingat bahwa ada hal-hal yang memang indah untuk dikagumi, namun hidupmu tetap ada di sini, di tanah ini."
Malam semakin larut di desa itu. Aris beranjak pergi dengan langkah yang sedikit lebih ringan. Di dahan pohon ketapang tak jauh dari sana, seekor burung malam berbunyi pelan, seolah sedang bercakap-cakap dengan cahaya perak yang tumpah dari langit.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....