Nobar Film Istimewa, Teman Disabilitas Nikmati Ruang yang Setara Bersama
- 02 Okt 2026 16:04 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Ruang bioskop biasanya hanya dipenuhi suara dialog, musik, dan tawa penonton. Namun, kali ini, layar bioskop menjadi lebih dari sekadar tempat menyaksikan cerita. Ia menjadi ruang bertemunya banyak orang dengan pengalaman yang berbeda, termasuk teman-teman penyandang disabilitas.
Satu studio penuh oleh penonton ketika film “Istimewa” diputar dalam kegiatan nonton bareng (nobar) inklusif yang digelar Yayasan Akar Semesta Setara, 18 September 2026 lalu. Penonton datang dari berbagai komunitas disabilitas di Pontianak, mulai dari penyandang Tuli, daksa, hingga anak-anak dengan Down Syndrome.
Kehadiran mereka membuat suasana nobar terasa berbeda. Bukan hanya karena jumlah penonton yang memenuhi studio, tetapi karena kesempatan untuk menikmati film bersama-sama dibuka seluas mungkin.
Film Istimewa sendiri turut menghadirkan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo), sehingga membantu penonton Tuli mengikuti cerita yang disajikan. Tak banyak film di bioskop menyajikan komunikasi bagi penyandang tuli. Akses tersebut membuat layar bioskop tidak lagi menjadi ruang yang hanya bisa dinikmati oleh sebagian orang.
Ketua Yayasan Akar Semesta Setara, Siti Zahraini, mengaku terharu melihat antusiasme para penyandang disabilitas yang hadir. Bahkan sebelum film dimulai, perasaan haru sudah muncul ketika melihat para peserta datang bersama rombongan.
“Alhamdulillah, sangat bersyukur. Dari satu bulan lalu kita merencanakan adanya nonton bareng film disabilitas ini bersama dengan teman-teman disabilitas. Sebenarnya agak sedikit terharu, film belum dimulai saja sebenarnya sudah nangis karena melihat mereka datang dengan rombongan,” ujar Siti.
Untuk menghadirkan suasana tersebut, Yayasan Akar Semesta Setara mengundang sejumlah komunitas disabilitas di Pontianak. Di antaranya Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI), Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), WBDC, Maktab Tuli As-Sami, Gerkatin, serta anak-anak Down Syndrome dari Sekolah Luar Biasa Ibu Bahagia.
Bagi Siti, ramainya penonton menjadi gambaran sederhana bahwa teman-teman disabilitas juga membutuhkan ruang sosial yang sama. Mereka tidak hanya ingin menjadi penonton dalam kehidupan sosial, tetapi juga hadir dan mengambil bagian di dalamnya.
“Harapan untuk teman-teman disabilitas, semoga teman-teman disabilitas ini bisa mendapatkan akses yang setara, ruang yang setara, di mana mereka bisa ikut andil dalam berbagai ruang lingkup sosial. Tidak hanya terbatas atau terkekang pada lingkup mereka saja, tapi juga mereka bisa ikut terjun ke dunia sosial,” katanya.
Hal serupa dirasakan Rektor IAIN Pontianak, Prof. Wajidi. Menurutnya, film Istimewa membawa pesan kemanusiaan tentang bagaimana masyarakat memberikan perhatian dan ruang kepada penyandang disabilitas tanpa membedakan kondisi fisik maupun keterbatasan yang dimiliki.
“Saya selaku Rektor merasa sangat bahagia ikut memberi apresiasi yang setinggi-tingginya atas sebuah karya anak bangsa yang sangat menginspirasi banyak pihak, terutama dalam sisi kemanusiaan. Jadi film Istimewa ini bagaimana kita memberi kepedulian terhadap sesama,” ujar Wajidi.
Menurutnya, semangat inklusivitas juga perlu diterapkan di lingkungan pendidikan. Ia berharap lembaga pendidikan di berbagai tingkatan dapat terus membuka akses dan menyediakan fasilitas yang ramah bagi penyandang disabilitas.
“Mudah-mudahan ke depannya yang disebut dengan kampus ramah, jadi ramah terhadap penyandang disabilitas. Mudah-mudahan ini termasuk yang bisa memberikan inspirasi, bahwa setiap lembaga pendidikan pada tingkat apapun idealnya harus memberikan ruang dan fasilitasi untuk para saudara-saudara kita penyandang disabilitas,” katanya.
Bagi Linda, salah seorang penonton yang juga penyandang disabilitas tunadaksa, Istimewa tidak hanya menghadirkan kisah tentang disabilitas, tetapi juga memberikan dorongan bagi anak-anak untuk melihat kehidupan dengan lebih optimistis. Ia menilai pesan edukasi dalam film tersebut dapat membantu mereka yang masih belajar memahami kondisi disabilitas.
“Film ini yang pasti sangat mengedukasi, terutama untuk teman-teman atau anak-anak yang belum mengerti, belum paham, belum bisa menerima kenyataan. Film ini juga bikin mereka jadi semangat. Bahwa hidup mereka ini bukan hanya sampai di sini, masih ada hari cerah di kemudian hari,” tutur Linda.
Linda berharap lebih banyak film dengan tema disabilitas dapat diproduksi. Namun, ia berharap cerita tentang disabilitas tidak selalu ditempatkan dalam bingkai kesedihan, melainkan lebih banyak menampilkan semangat untuk berjuang dan meraih prestasi.
“Kalaupun misalnya ada lagi bikin film disabilitas, tidak ada mengandung bawang atau sedih. Tapi lebih ke semangat. Semangat berjuang, menunjukkan prestasi, meraih prestasi tanpa harus menjual kesedihan,” katanya.
Sementara bagi Lili, penonton yang hadir, mengatakan cerita dalam film Istimewa terasa dekat dengan pengalaman dirinya. Ia dapat merasakan situasi yang dialami para tokoh karena memiliki pengalaman sebagai penyandang disabilitas.
“Kalau jujur sih, ceritanya ini menyentuh sekali. Cuma ada pesannya, jangan menyerah dengan keadaan apapun yang ada di dalam diri kita,” ujar Lili.
Hari itu, layar bioskop bukan hanya mempertemukan penonton dengan sebuah film. Lebih jauh, pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa ketika akses dibuka dan ruang dibuat lebih inklusif, teman-teman penyandang disabilitas dapat menikmati pengalaman yang sama: duduk bersama, menyaksikan cerita yang sama, tertawa, tersentuh, dan pulang membawa pesan yang sama.
Nobar Istimewa pun menjadi pengingat bahwa inklusivitas tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, ia dimulai dari hal sederhana sebuah kursi di dalam studio, sebuah film yang menyajikan porsi setara, dan kesediaan untuk membuka ruang agar semua orang bisa ikut menikmati.
Baca juga: Festival Film Pelajar Khatulistiwa Ketujuh, Antusias Peserta Semakin Tinggi
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....