Dari Taplak Meja hingga Ekspor, Jalan Panjang UMKM Kalbar Naik Kelas

  • 10 Mei 2026 17:14 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat (Kalbar) yang mencapai sekitar 5,6 persen bukan sekadar angka statistik. Di balik angka itu, ada harapan besar agar roda ekonomi benar-benar bergerak sampai ke lapisan masyarakat paling bawah.

Salah satu kuncinya berada di tangan pelaku UMKM. Bagi Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura Pontianak, Muhammad Fahmi, pertumbuhan ekonomi yang sehat tidak cukup hanya ditopang konsumsi biasa. Konsumsi masyarakat, menurutnya, harus memiliki nilai produktif.

Artinya, belanja yang dilakukan masyarakat idealnya mampu melahirkan aktivitas ekonomi baru.

Ketika seorang pelaku usaha membeli bahan baku, alat produksi, atau perlengkapan usaha, maka uang yang beredar tidak berhenti pada transaksi semata. Uang itu kembali bergerak menjadi produksi, membuka lapangan kerja, hingga menghasilkan produk bernilai jual.

“Kalau usaha bergerak, tentu ekonomi akan bergerak secara kolektif,” ujarnya di akhir kegiatan Capacity Building di Malang, Jawa Timur, Jumat, 8 Mei 2026.

Fahmi kemudian memberi contoh sederhana namun dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di rumah makan, kafe, atau restoran misalnya, kebutuhan seperti taplak meja sebenarnya bisa menjadi peluang besar bagi pengrajin lokal.

Bukan taplak meja biasa, melainkan produk yang memiliki identitas daerah. Bisa berupa kain tenun bercorak khas Kalbar, anyaman keladi air, rotan, bambu, bahkan pelepah kelapa sawit yang diolah menjadi produk kreatif bernilai ekonomi.

Di titik inilah UMKM dinilai memiliki peran strategis. Ketika pengrajin membeli bahan baku lokal untuk memproduksi kerajinan, maka rantai ekonomi ikut bergerak. Petani memperoleh pasar, pengrajin mendapat penghasilan, dan produk lokal memiliki ruang tampil di tengah masyarakat.

Namun jalan UMKM untuk naik kelas tidak semudah membalik telapak tangan.

Menurut Fahmi, hampir 98 persen UMKM di Indonesia masih didominasi usaha mikro. Kondisi ini membuat proses peningkatan kapasitas usaha menjadi tantangan tersendiri. Banyak pelaku usaha mikro berjalan sendiri-sendiri, dengan modal terbatas dan akses pasar yang sempit.

Karena itu, ia menilai pelaku usaha mikro harus mulai bergerak dalam kelompok-kelompok usaha. Dari kelompok itulah nantinya lahir koperasi yang mampu menjadi wadah penguatan ekonomi bersama.

Melalui koperasi, para pelaku usaha kecil tidak hanya memiliki organisasi yang lebih tertata, tetapi juga memiliki kekuatan untuk mengelola produksi, pemasaran, hingga akses pembiayaan secara kolektif.

“Yang kecil dan menengah relatif masih bisa kita dorong untuk naik kelas,” katanya.

Bagi Fahmi, pekerjaan besar berikutnya adalah menyiapkan role model dan road map yang jelas bagi pengembangan UMKM di Kalimantan Barat. Tidak cukup hanya seminar atau pelatihan sesaat, melainkan pendampingan berkelanjutan hingga pelaku usaha benar-benar mampu masuk ke pasar.

Pendampingan itu, menurutnya, harus menyentuh seluruh proses usaha. Mulai dari kualitas produk, kemasan, pemasaran digital, hingga akses ekspor.

Kalbar sendiri dinilai memiliki peluang besar untuk menembus pasar internasional. Posisi geografis yang berbatasan langsung dengan Malaysia serta dekat dengan Brunei Darussalam menjadi keuntungan tersendiri. Jalur darat, laut, dan udara yang terbuka memberi kesempatan UMKM lokal untuk menembus pasar luar negeri.

Potensi sumber daya alam Kalbar juga menjadi modal besar. Rotan, bambu, tenun, hasil perkebunan, hingga berbagai produk turunan lainnya dinilai dapat menjadi produk unggulan jika dipadukan dengan kreativitas dan peningkatan kualitas SDM.

Di sinilah peran berbagai stakeholder menjadi penting. Kampus hadir melalui pendampingan dan inovasi, pemerintah menyiapkan regulasi yang tepat, sementara pelaku usaha didorong untuk terus beradaptasi dengan kebutuhan pasar.

Fahmi mengingatkan, ide dan gagasan besar tidak boleh berhenti di meja diskusi. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi hanya akan berkualitas jika seluruh elemen benar-benar bekerja bersama.

“Jangan terlalu banyak narasi, tetapi lebih banyak aksi,” katanya, menegaskan.

Kalimat itu seperti menjadi penanda bahwa masa depan ekonomi daerah tidak hanya bergantung pada angka pertumbuhan semata, tetapi pada sejauh mana pertumbuhan tersebut mampu menghidupkan usaha-usaha kecil di sudut kampung, mengangkat pengrajin lokal, hingga membawa produk Kalbar menembus pasar internasional.

Baca juga: Perempuan Dinilai Jadi Kunci Penguatan UMKM dan Ekonomi Daerah

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....