Tudang Manre Sipulung Budaya Bugis Satukan Keberagaman di Bulan Ramadhan

  • 08 Mar 2026 23:18 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Keturunan suku Bugis di Kota Pontianak terus berkomitmen menjaga warisan leluhur melalui tradisi Tudang Manre Sipulung. Pagelaran budaya ini sekaligus dirangkai dengan buka puasa bersama. Pada momentum inilah antara budaya dan kuliner khas bugis menyatu menjadi lebih berwarna.

Sore itu, itu atas hamparan kain putih yang disusun memanjang, ratusan orang duduk bersila, saling berbagi cerita sembari menunggu waktu berbuka puasa.

Inilah suasana Tudang Manre Sipulung 2026, tradisi makan bersama masyarakat Bugis yang kembali digelar oleh Forum Komunikasi Orang Bugis Kalimantan Barat.

Dalam bahasa Bugis, tudang berarti duduk, manre berarti makan, dan sipulung berarti bersama. Tradisi ini bukan sekadar makan bersama, melainkan simbol kebersamaan, persaudaraan, dan rasa syukur.

Di Pontianak, tradisi tersebut menjadi ruang pertemuan lintas komunitas—tempat di mana budaya menjadi pembuka hingga sajian menu utama.

Kegiatan yang bertepatan dengan bulan Ramadan ini pun terasa semakin hangat. Sebelum berbuka, para tamu menikmati rangkaian pertunjukan budaya. Irama musik dan gerak tarian membuka acara dengan nuansa kental budaya Bugis.

Ketika hidangan mulai disajikan, deretan kuliner khas Bugis menggugah selera. Di antara sajian yang tersusun rapi terdapat jalangkote, doko-doko, bolu peca, hingga kurma sebagai pembuka. Sementara menu utama menghadirkan burasa, lepat lau, sambal udang kentang, coto Makassar, rendang, serta kopi Toraja Sapan dan Seko yang menghangatkan suasana.

Penutupnya, es pisang ijo dan saraba menambah kenikmatan berbuka puasa. Namun bagi masyarakat Bugis, hidangan-hidangan itu lebih dari sekadar makanan. Setiap sajian membawa cerita tentang tradisi, perjalanan, dan identitas budaya yang terus dijaga meski jauh dari tanah asal.

Kegiatan yang sarat akan makna diskusi dan silaturahim ini, digelar dengan meriah di tengah suasana bulan suci Ramadhan. Anggota DPRD Kota Pontianak, Anggi Febri Ardika, menegaskan bahwa budaya adalah identitas bangsa yang harus terus dilestarikan.

Suasana hangat menyelimuti ratusan Warga pada kegiatan Tudang Manre Sipulung yang digelar di hotel Ibis Kota Pontianak, Minggu, 8 Maret 2026. Tradisi asal Sulawesi ini bukan sekadar acara buka puasa bersama, melainkan ruang bagi masyarakat untuk duduk berdampingan, berdiskusi, dan mencari solusi atas berbagai persoalan warga dalam balutan tali silaturahim.

"Kami di sini, keturunan Bugis, selalu menjaga dan melestarikan adat budaya yang mana Tudang Manre Sipulung adalah duduk makan bersama, sambil berdiskusi, menyelesaikan permasalahan, dan menjalani tali silaturahim bersama rakyat. Itulah makna budaya ini," ungkap Anggi Febri Ardika

Dalam perhelatan kali ini, hidangan khas seperti burasa dan ketupat menjadi menu wajib yang disajikan. Meski awalnya diperkirakan dihadiri oleh 500 orang, antusiasme masyarakat begitu tinggi hingga mencapai 600 peserta dari berbagai organisasi kemasyarakatan.

Menariknya, agenda yang digelar tahunan, kali ini bertepatan dengan momen bulan suci Ramadhan, yang menambah kekhidmatan acara.

"Budaya itu adalah identitas kita. Bukan hanya Bugis yang saya harapkan, seharusnya kawan-kawan dari suku lain dapat menonjolkan kebudayaan masing-masing. Tanpa budaya, kita tidak akan bisa bersilaturahim dengan baik," kata Anggi.

Ke depan, diharapkan adanya kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah dan organisasi masyarakat untuk mengemas event budaya secara menarik, mulai dari seni silat, kuliner, hingga musik tradisional. Hal ini diyakini mampu menjadi daya tarik wisata sekaligus mempererat toleransi antar suku di Kalimantan Barat.

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang seremoni, namun menjadi pengingat bagi generasi muda akan pentingnya menjaga jati diri di tengah arus modernisasi.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menilai tradisi Tudang Manre Sipulung menjadi cerminan kuatnya nilai kebersamaan masyarakat Pontianak yang hidup dalam keberagaman. Apalagi dalam budaya Bugis, turut dikenal ungkapan "sipakatau, sipakatalebbi, sipakainge", yang berarti saling memanusiakan, saling menghormati, dan saling mengingatkan.

“Pontianak ini kota yang dihuni oleh berbagai suku dan budaya. Tradisi seperti Tudang Manre Sipulung menunjukkan bagaimana budaya dapat menjadi perekat persaudaraan sekaligus memperkaya kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Edi, kegiatan budaya yang dibalut dengan kegiatan sosial seperti ini juga mencerminkan nilai gotong-royong yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Kalimantan Barat.

“Selain melestarikan tradisi, kegiatan ini juga mempererat silaturahmi dan berbagi kepada sesama, apalagi dilaksanakan di bulan Ramadan yang penuh berkah,” tambahnya.

Menjelang waktu berbuka, suasana ruangan menjadi semakin khidmat. Ketika azan Magrib berkumandang, para peserta secara serempak menyantap hidangan yang telah tersaji di hadapan mereka. Duduk bersila, tanpa sekat, tanpa perbedaan status—semua larut dalam suasana kebersamaan.

Di tengah arus modernisasi kota, Tudang Manre Sipulung menjadi pengingat bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat yang kuat di hati masyarakat. Ia bukan hanya ritual budaya, tetapi juga jembatan yang menghubungkan generasi, mempererat silaturahmi, dan merawat identitas budaya di Kota Pontianak.

Rekomendasi Berita