Peluh dan Doa di Bulan Ramadhan, Perjuangan Erwin Zulfikar Menghidupi 5 Jagoan
- 08 Mar 2026 18:11 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Di saat fajar menyingsing hingga bulan menggantung tinggi di langit Ramadan, langkah kaki Erwin Zulfikar tak pernah benar-benar berhenti. Bagi sebagian orang, Ramadan adalah waktu untuk memperlambat ritme kerja. Namun bagi warga Pontianak Utara ini, setiap detik di bulan mulia adalah pertaruhan antara pengabdian kepada Sang Pencipta dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga.
Erwin bukan pria dengan satu profesi. Hidupnya adalah mozaik dari berbagai peran yang ia jalani demi menghidupi istri dan kelima anak laki-lakinya.
Pagi hari, saat pasar mulai ramai dengan hiruk pukuk warga mencari kebutuhan dapur, Erwin sudah berdiri tegap. Erwin menjadi juru parkir di pasar, memastikan kendaraan tertata rapi di tengah teriknya matahari yang menguji dahaga.
"Kalau parkir itu paling sepi dapat 80 ribu rupiah sehari," ungkap Erwin dengan nada rendah. Pendapatan itu masih harus ia bagi untuk biaya retribusi bulanan sekitar 140 ribu rupiah. Namun, ia tidak mengeluh. "Alhamdulillah, masih bisa nutup. Masih bisa beli susu."
Beranjak siang, Erwin berpindah ke Pondok Pesantren Al-Anwar. Di sana, Erwin mengabdi menjalankan syiar agama islam, terkadang mengajar, terkadang juga membantu urusan operasional sekolah. Namun, ketika sore menjelang hingga malam tiba, Erwin "pulang" ke tempat yang paling menenangkan hatinya yaitu Masjid. Di sana, ia mendedikasikan waktunya untuk beribadah dan melayani jamaah.
Satu hal yang menarik dari filosofi hidup Erwin adalah pandangannya tentang hakikat puasa. Ia enggan terjebak dalam apa yang ia sebut sebagai "Puasa Awam".
"Kalau puasanya masih awam itu berat, bang. Bahaya dendam," ujarnya sambil tersenyum tipis. Baginya, puasa awam adalah kondisi di mana seseorang menahan lapar seharian hanya untuk melampiaskannya dengan kemewahan saat berbuka.
Bagi Erwin, berbuka adalah soal kesederhanaan. Ia tak ingin kerja kerasnya siang hari habis hanya untuk menuruti nafsu sesaat di meja makan. Ia memilih berbuka apa adanya, menjaga agar esensi lapar yang ia rasakan tetap menjadi pengingat akan rasa syukur.
Ketangguhan mental Erwin rupanya ditempa di Jawa Timur. Siapa sangka, pria yang kini bergelut dengan panasnya aspal pasar ini adalah seorang lulusan pondok pesantren ternama. Ia menghabiskan tujuh tahun dari tahun 1997 hingga 2004 nyantri di Sukorejo, Situbondo, di bawah asuhan Kiai Zain Ibrahim.
Masa-masa sulit tahun '97 saat kerusuhan pecah menjadi saksi bisu bagaimana Erwin belajar bertahan hidup.
"Dulu di sana cuma numpang tidur," kenangnya,
Menggambarkan betapa prihatinnya masa menuntut ilmu kala itu. Pengalaman itulah yang kini ia wariskan kepada lima anak laki-lakinya yang masih kecil paling besar duduk di bangku SMP dan yang terkecil baru menginjak usia 3 tahun.
Bagi Erwin Zulfikar, Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, tapi tentang menjaga ritme antara mencari nafkah yang halal dan menjaga kedekatan dengan Tuhan. Di balik peluh keringatnya di parkiran pasar dan pengabdiannya di masjid, ada doa dan ikhtiar seorang ayah agar kelima putranya tumbuh menjadi lelaki yang tangguh, setangguh jejak langkahnya di bulan suci ini.