Ritual Bakar Naga, Penutup Sakral Imlek di Yayasan Bakti Suci Kubu Raya

  • 04 Mar 2026 17:16 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Rangakain peryaan Tahun Baru Imlek di Kalimantan Barat resmi ditutup dengan tradisi bakar naga usai perayaan Cap Gomeh. Bertempat di Pemakaman Yayasan Bakti Suci Jalan Adi Sucipto, Kubu Raya, puluhan replika naga di kembalikan secara ritual melalui prosesi pembakaran yang sarat makna dan kebersamaan lintas budaya pada Rabu, 4 Maret 2026 siang.

Asap perlahan membumbung ke langit siang Kubu Raya. Satu per satu replika naga yang sebelumnya berparade dan beratraksi dalam kemeriahan Cap Go Meh, kini bersiap menjalani prosesi terakhir: dibakar sebagai simbol “tutup mata”.

Sekretaris Panitia Cap Go Meh, Adi Sucipto menebutkan bahwa pada tahun ini, sebanyak 40 grup naga melapor kepada panitia untuk mengikuti prosesi pembakaran di Yayasan Bakti Suci. Tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari siklus spiritual yang diyakini masyarakat Tionghoa. Dirinya juga menjelaskan makna di balik ritual tersebut.

“Replika naga ini kan diundang, seperti waktu buka mata diyakini membawa keberuntungan dan kesehatan. Nah, setelah naga selesai beratraksi, mereka kita kembalikan melalui prosesi ritual dibakar atau tutup mata. Jadi diundang dan dikembalikan,” jelas Adi saat diwawancarai oleh tim liputan RRI Pontianak.

Bagi masyarakat, prosesi ini menjadi penanda berakhirnya seluruh rangkaian perayaan Imlek. Panitia pun menekankan pentingnya ketertiban selama pembakaran berlangsung, mengingat lokasi yang digunakan merupakan lahan milik Yayasan Bakti Suci yang dipinjamkan khusus untuk kegiatan tersebut. Selain menjaga ketertiban, panitia juga menyesuaikan waktu pelaksanaan dengan kondisi masyarakat sekitar, termasuk memberi jeda saat waktu berbuka puasa tiba.

Di antara puluhan naga yang bersiap dibakar, salah satunya berasal dari Pagelaran Pemadam Api HFX Cemerlang. Naga sepanjang 50 meter itu dimainkan sekitar 150 orang dari berbagai latar belakang suku dan agama. Koordinator lapangan sekaligus pemain naga, Rico Junifer, menyebut ritual pembakaran sebagai bentuk pengembalian arwah yang diyakini telah “masuk” saat prosesi buka mata.

Bagi Rico dan timnya, bermain naga bukan sekadar pertunjukan. Sejak 2019, dirinya aktif setiap tahun demi menjaga warisan budaya agar tetap hidup di Kalimantan Barat.

“Untuk pagelaran naga ini kita seru-seruan bareng semua sih. Dari permainan segala macam, kita bisa memberikan atraksi yang terbaik untuk penonton semua,” ujar Rico.

Semangat kebersamaan pun terasa kuat. Sekitar 150 pemain terlibat dalam satu naga, terdiri dari beragam suku dan agama. Tradisi ini bukan hanya milik satu komunitas, tetapi telah menjadi ruang perjumpaan lintas budaya. Terasa pula suka dan duka saat bermain naga sepanjang 6 tahun bagi Rico.

“Kita semua senang bareng-bareng, lihat pemain happy, kita juga ikut happy. Kendalanya ya itu, kita susah kontrol setiap pemain, setiap panitia, pokoknya setiap orang yang bermain di atraksi ini kan punya emosinya masing-masing, kita nggak bisa kontrol emosi itu kadang-kadang, itu suka-sukanya. Tapi overall kita lakukan yang terbaik dan tahun depan kita akan beratraksi lagi,” sambung Rico.

Di antara warga yang menyaksikan, Cahya mengaku datang karena rasa penasaran. Meskipun sedang berpuasa dan cuaca yang panas terik dirinya tetap datang dan menyaksikan langsung proses tradisi tersebut.

“Saya kesini mau liat proses pembakaran naga, karena sebelumnya juga belum pernah liat saya penasaran seperti apa proses sebelum pembakaran naga itu sendiri adatnya seperti apa,” kata Cahya sambil menonton ritual pembakaran naga.

Dari bara api yang perlahan menghanguskan tubuh naga, tersimpan harapan akan keberuntungan, kesehatan, dan kebahagiaan di tahun yang baru. Tradisi bakar naga menjadi simbol bahwa segala yang telah diundang dengan doa dan harapan, kini dikembalikan dengan rasa syukur.

Prosesi bakar naga di Pemakaman Yayasan Bakti Suci, Kubu Raya, tak sekadar menjadi penutup perayaan Imlek, tetapi juga pengingat akan pentingnya merawat tradisi dan harmoni dalam keberagaman. Dari api yang menyala, masyarakat menatap tahun baru dengan semangat baru dan kebersamaan yang terus terjaga.

Rekomendasi Berita