Sampah Kiriman dan Daya Tahan Warga Kampung Yuka

  • 27 Feb 2026 00:56 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Bagi warga Kampung Yuka, sampah bukan sekadar persoalan kebersihan. Ia adalah masalah struktural yang datang berulang, melelahkan, dan kerap mematahkan semangat warga yang telah berupaya menjaga lingkungan. Setiap kali banjir rob tiba, seluruh kerja bersih-bersih yang dilakukan berminggu-minggu sebelumnya seolah terhapus dalam hitungan jam.

Sampah datang bukan hanya dari dalam kampung, melainkan mengalir bersama arus sungai. Dalam kondisi pasang, sungai tidak lagi menjadi pembatas, melainkan saluran terbuka yang membawa limbah dari kawasan lain ke kolong-kolong rumah warga.

"Kita yang selalu rajin buang sampah di luar, tapi ketika air pasang dampaknya juga ke kita lagi," ujar Yutiawati Kamis, 26 Februari 2026 warga Kampung Yuka.

Pernyataan ini menggambarkan paradoks besar yang dihadapi warga Kampung Yuka. Mereka berusaha disiplin, tetapi tetap menanggung dampak dari ketidakdisiplinan sistem yang lebih luas.

Sampah Kiriman: Beban Lingkungan yang Tak Pernah Dipilih

Sampah kiriman menjadi istilah yang akrab di telinga warga. Ia merujuk pada sampah yang bukan dihasilkan oleh Kampung Yuka, tetapi terbawa dari hulu sungai atau kawasan lain saat debit air meningkat. Dalam kondisi normal, sebagian sampah mengendap di sungai. Namun saat rob datang, seluruh endapan itu bergerak dan masuk ke permukiman.

"Ini kan daerah pinggiran ya, jadi ini banyak sampah kiriman. Setiap air banjir selalu ada sampah kiriman dari luar, terus ada juga sampah dari kiriman rumah tangga masing-masing yang kurang peduli dengan sampah," kata Yutiawati.

Jenis sampah yang paling dominan adalah plastik: botol air minum, kemasan makanan, kantong kresek, dan berbagai limbah rumah tangga non-organik lainnya.

Plastik menjadi masalah utama karena bersifat abadi dalam siklus lingkungan Kampung Yuka. Ia tidak membusuk seperti sampah organik, tidak larut oleh air, dan cenderung menyangkut di struktur rumah panggung, kayu penyangga, serta sisa-sisa bangunan di bantaran sungai.

Akibatnya, satu botol plastik bisa bertahan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, berpindah dari satu titik ke titik lain setiap kali air pasang.

Kolong Rumah: Titik Kritis yang Tak Terjangkau Sistem

Sebagian besar rumah di Kampung Yuka berdiri di atas tiang, mengikuti karakter kawasan sungai. Kolong rumah yang seharusnya menjadi ruang aliran air justru berubah menjadi perangkap sampah.

Sampah yang terbawa arus masuk ke kolong, menumpuk, lalu sulit dibersihkan karena akses terbataa, air pasang datang tidak menentu, dan sampah sering tercampur lumpur dan limbah lain.

Dalam banyak kasus, warga baru bisa membersihkan kolong rumah setelah air surut. Namun, sebelum pembersihan tuntas, pasang berikutnya kembali datang dan membawa sampah baru. Kondisi ini menciptakan siklus tak berujung, bersih – pasang – kotor – bersih kembali.

Warga Kampung Yuka tidak menutup mata bahwa persoalan sampah juga bersumber dari dalam kampung sendiri. Masih ada sebagian warga yang membuang sampah ke kolong rumah atau langsung ke sungai. Keterbatasan sarana, ditambah kebiasaan lama yang belum sepenuhnya berubah, menjadi alasan yang kerap terjadi di lapangan.

Di tengah kondisi itu, gotong royong tetap menjadi napas kehidupan warga. Namun setiap kali kegiatan bersih-bersih digelar, selalu ada pertanyaan yang tersisa: apakah lingkungan akan tetap bersih setelah ini?

Warga bersama-sama membersihkan jalan kampung, parit, hingga bantaran sungai. Mereka sadar, upaya itu bisa runtuh sewaktu-waktu saat air pasang kembali datang. Meski demikian, gotong royong tidak pernah benar-benar berhenti. Bagi warga Kampung Yuka, gotong royong bukan lagi soal hasil akhir semata, melainkan pernyataan sikap bahwa mereka tidak menyerah pada keadaan.

“Kita tetap lakukan. Kalau gotong royong itu tiga bulan sekali. Kalau mau bulan puasa, seminggu sebelumnya sudah mulai bersih-bersih. Lalu pas 17 Agustus juga sering kita lakukan. Tapi kalau rutinnya memang tiga bulan sekali,” ungkap Yutiawati.

Perubahan di Kampung Yuka mulai menemukan jalannya ketika kampung ini menjadi titik temu berbagai komunitas lingkungan di Pontianak. Melalui jejaring EcoBhinneka dan kolaborasi dengan Ashoka Indonesia, sejumlah komunitas sepakat untuk tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Mereka ingin hadir di satu tempat, memberi dampak nyata, dan tumbuh bersama warga.

Kampung Yuka dipilih bukan karena paling kumuh, melainkan karena memiliki modal sosial yang kuat: semangat gotong royong. Meski hidup sederhana, warga kampung ini dikenal memiliki kebersamaan yang kuat ketika diajak bergerak bersama.

Langkah awal yang dilakukan para penggerak bukanlah membangun fasilitas, melainkan membuka ruang percakapan. Mereka datang, duduk bersama warga, bertanya, dan mendengar. Dari proses itu terungkap berbagai persoalan mendasar warga belum terbiasa memilah sampah, belum memiliki sarana pembuangan yang layak, serta masih terbiasa menunggu bantuan dari pemerintah.

“Mereka itu punya semangat gotong royong. Itu yang bikin kita semangat. Artinya, warganya kalau diajak bersatu bisa mengerjakan banyak hal. Itu yang kita perlukan,” kata Octavia Shinta Aryani, Ketua Penggerak Kawasan Gaharu Kampung Yuka.

Ajakan gotong royong membersihkan lingkungan kemudian menjadi pintu masuk perubahan. Warga mulai diajak memahami bahwa banjir rob adalah bagian dari kondisi alam, tetapi sampah yang menumpuk bukanlah takdir. Lingkungan yang bersih membuat air boleh meluap, namun tidak harus membawa kotoran.

Dalam setiap diskusi dan pelatihan, warga dilibatkan secara langsung. Bukan hanya komunitas yang belajar, tetapi juga ibu-ibu, remaja, hingga tokoh kampung. Mereka diajak mengenali jenis sampah, memahami dampaknya, serta membayangkan solusi yang bisa dilakukan secara mandiri dan berkelanjutan. Apa yang dialami Kampung Yuka sejatinya mencerminkan ketimpangan pengelolaan kota. Kawasan pinggiran sungai menjadi penampung akhir dari persoalan yang tidak selesai di hulu.

Sampah mengalir mengikuti logika alam, bukan batas administratif. Namun, beban terberat justru dipikul oleh warga yang memiliki sumber daya paling terbatas.

Dalam konteks ini, perjuangan warga Kampung Yuka bukan hanya tentang kebersihan, tetapi juga tentang keadilan lingkungan. Hingga kini, warga Kampung Yuka masih bertahan dengan cara mereka sendiri: gotong royong, edukasi, dan kesepakatan sosial. Mereka sadar, solusi jangka panjang membutuhkan keterlibatan lintas wilayah dan kebijakan yang lebih menyeluruh.

Namun di tengah keterbatasan itu, satu hal sudah berubah: cara pandang warga terhadap sampah. Ia tidak lagi dianggap sekadar kotoran, melainkan masalah bersama yang harus dihadapi dengan kesadaran kolektif. Di Kampung Yuka, sampah memang masih datang bersama air pasang. Tapi kini, ia tidak lagi datang tanpa perlawanan.

Rekomendasi Berita