Menguatkan Hati, Ramadhan Pertama tanpa Seorang Ibu
- 20 Feb 2026 15:01 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Langit di atas pemakaman muslim Al Ikhlas Sungai Bangkong siang itu terlihat teduh, namun tak seteduh hati Putra. Pria berusia 33 tahun ini beranjak dari rumahnya di Danau Sentarum menuju Taman Makam Al Ikhlas. Disana, Putra didampingi dua orang keluarga meratapi makam almarhumah ibunya yang telah lebih dulu menghadap Sang Maha Kuasa sejak 15 November 2025 lalu.
Di depan sebuah gundukan tanah yang masih terlihat basah oleh ingatan. Bagi warga Danau Sentarum ini, Ramadhan tahun ini bukan sekadar bulan puasa biasa, melainkan sebuah ujian ketabahan yang nyata.
Untuk pertama kalinya dalam tiga dekade hidupnya, Putra harus menyambut bulan suci Ramadhan tanpa sosok yang paling berharga di dunia yakni sang Ibu.
Ziarah yang Tak Lagi Sama
Rutinitas berziarah menjelang bulan suci Ramadhan memang selalu dilakukan Putra meski ditengah kesibukan. Namun, kedatangannya kali ini terasa jauh lebih berat. Jarak dua kilometer dari rumahnya menuju makam terasa sangat panjang, membawa beban rindu yang belum tuntas. Ibunda tercinta baru saja berpulang pada 15 November 2025 lalu, meninggalkan luka yang masih menganga menjelang bulan penuh berkah.
"Ya, kami jalani apa adanya lah. Untuk bulan suci ini, sudah tidak ada orang tua lagi. Sangat sedih, karena kita ditinggal orang yang melahirkan kita," ujar Putra dengan nada suara yang bergetar, Rabu, 18 Februari 2026.

Sebagai anak sulung dari empat bersaudara, Putra kini memikul beban moral yang lebih besar. Ia sadar, meski hatinya hancur, ia harus menjadi sandaran bagi adik-adiknya dan ayah yang kini menjadi satu-satunya orang tua yang tersisa.
Kehilangan Makna Kemewahan
Bagi banyak orang, persiapan Ramadhan identik dengan belanja kebutuhan dapur, baju baru, atau rencana mudik yang meriah. Namun bagi Putra, segala bentuk kemewahan itu seolah kehilangan warnanya. Kehadiran ibu adalah "nyawa" dari setiap perayaan, dan tanpanya, segalanya terasa datar.
"Persiapannya ya apa adanya. Rasanya kalau orang tua sudah tidak ada, sepertinya sudah tidak ada artinya lagi untuk hal-hal yang mewah. Biasanya orang sibuk persiapan karena mau kumpul orang tua. Sekarang paling hanya ada adik-beradik saja." ujar Putra.
Kenangan manis saat berangkat shalat Tarawih bersama dan momen makan sahur serta buka bersama dalam satu meja menjadi memori yang paling ia rindukan. Meski Putra sudah berkeluarga dan memiliki rumah sendiri, magnet sang ibu selalu berhasil menariknya pulang untuk sekadar berbuka puasa bersama.
Pesan untuk Mereka yang Masih Memiliki
Kehilangan ini memberikan pelajaran berharga bagi Putra. Di tengah kesibukan dunia, ia menyadari bahwa waktu bersama orang tua adalah aset yang tidak bisa dibeli. Ia pun menitipkan pesan tersirat bagi siapa saja yang masih bisa mendengar suara ibunya di rumah.
"Sesibuk-sibuknya kita, harus tempatkan waktu untuk ibu kita," tutur Putra singkat namun mendalam.
Kini, doa menjadi satu-satunya jembatan penghubung antara Putra dan sang bunda. Harapannya di Ramadhan ini sederhana: ia ingin diberikan kesehatan untuk menjaga ayahnya dan berharap agar ibundanya mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.
"Semoga dilapangkan kuburnya dan dihapus dosa-dosanya," doa Putra mengakhiri percakapan dengan amin yang lirih.
Ramadhan memang tetap akan datang setiap tahun, namun bagi Putra, bulan suci kali ini adalah tentang belajar mengikhlaskan, sambil terus menguatkan hati dalam setiap sujudnya