Lampion Imlek dan Ketupat Simbol Toleransi di Pontianak

  • 06 Feb 2026 01:20 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Pemandangan langit dari Jalan Gajah Mada, Pontianak, tampak berbeda dari biasanya. Deretan lampion merah bergoyang perlahan tertiup angin, berdampingan dengan lampion ketupat berwarna hijau dan kuning yang tergantung menyilang rapi di sepanjang jalan. Perpaduan warna itu bukan sekadar hiasan, tetapi menghadirkan pesan hangat tentang kebersamaan masyarakat Kota Pontianak.

Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh yang waktunya berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri, Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Kota Pontianak menghadirkan simbol persatuan melalui pemasangan dekorasi tersebut. Jalan Gajah Mada yang dikenal sebagai pusat perayaan Imlek pun tampak semakin hidup, menarik perhatian warga yang melintas maupun yang sengaja datang untuk menikmati suasana.

Budayawan Tionghoa, Andreas Acui Simanjaya, menjelaskan bahwa perpaduan lampion merah dan ketupat bukanlah kebetulan. Ia menyebut, ornamen itu sengaja dipasang berdampingan sebagai simbol dua perayaan besar yang hadir hampir bersamaan dan inisiatif pemasangan itu muncul, dari Ketua MABT Kota Pontianak Hendry Pangestu Lim dan Ketua Panitia CGM Kota Pontianak

“Pernak-pernik itu inisiatif dari Ketua MABT Kota Pontianak dan Ketua Panitia CGM, dimana  pernak-pernik itu saja kita bisa melihat, betapa inginnya MABT Kota Pontianak ingin memeriahkan dua perayaan yaitu Imlek, Cap go Meh dan Idul Fitri,” ungkap Andreas, Rabu, 4 Februari 2026.

Lebih dari sekadar mempercantik jalan, dekorasi tersebut membawa pesan yang lebih dalam. Bagi masyarakat Pontianak, perayaan budaya tidak hanya tentang tradisi, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan antar masyarakat dari berbagai latar belakang.

Andreas menuturkan, ide menghadirkan dua simbol tersebut lahir dari pemahaman panjang tentang kehidupan masyarakat yang hidup berdampingan. Menurutnya, lampion dan ketupat menjadi representasi sederhana dari nilai persaudaraan yang telah lama tumbuh di Kota Pontianak.

“Ini hanya aksesoris, tapi di bawah dari itu bisa timbulnya ini kan dari hasil sebuah penelitian mendalam bahwa kami ini bersaudara, kami bersama-sama. Kami ingin merayakan bersama-sama,” kata Andreas.

Bagi warga yang melintas, perpaduan warna merah, hijau, dan kuning menghadirkan nuansa yang hangat dan penuh makna. Tidak sedikit masyarakat yang berhenti sejenak untuk mengabadikan dengan kamera ponsel genggam momen di tengah dekorasi tersebut, menjadikan Jalan Gajah Mada tidak hanya sebagai pusat perayaan, tetapi juga ruang interaksi sosial.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana tradisi mampu menjadi jembatan yang menghubungkan perbedaan. Lampion merah dan ketupat yang menggantung berdampingan seolah menjadi pengingat bahwa keberagaman bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang memperkaya wajah Kota Pontianak.

Baca juga: Pernak-Pernik Imlek Diburu Warga di Pontianak

Rekomendasi Berita