Film "Langkah Tak Terlihat" Angkat Keteguhan Perempuan Disabilitas
- 01 Des 2025 21:55 WIB
- Pontianak
KBRN, Pontianak: Suasana haru dan penuh inspirasi memenuhi Dialog Ruang Terbuka RRI Pontianak pada Kamis siang, (27/11/2025), saat film dokumenter “Langkah Tak Terlihat” diputar perdana. Film yang diproduksi oleh Supriadi, produser sekaligus kameramen dan penanggung jawab penuh produksi, mengangkat perjalanan hidup para perempuan penyandang disabilitas di Kalimantan Barat (Kalbar), dan dipandu oleh Host Budiman Taher.
Pemutaran film tersebut turut menghadirkan para pemeran dan pengurus Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Provinsi Kalbar, yang menjadi sentral kisah dalam dokumenter tersebut. Di antaranya Ketua HWDI Kalbar Linda Fardini, Sekretaris Yuliana Lili, serta dua pemeran utama film, yakni Andi Safira Atira (Vivi) dan Siria.
Dalam kesempatan itu, Linda Fardini, membuka diskusi dengan menceritakan perjalanan panjang organisasi perempuan disabilitas ini. “HWDI itu sudah lama berdiri sejak tahun 2010. Tapi sempat vakum dari 2013 sampai 2016. Baru di tahun 2023 kami bangkit lagi, mengurus berkas, rapat, pembentukan anggota. Alhamdulillah di 2025 SK kami keluar dan inilah kita, The New HWDI,” kata Linda.
Saat ini, HWDI Kalbar mencatat anggota dari berbagai ragam disabilitas, mulai dari daksa, netra, tuna rungu, hingga down syndrome. Meski begitu, ia mengakui masih banyak perempuan disabilitas yang belum terdata. Linda menegaskan bahwa kehadiran film ini menjadi salah satu upaya memperkenalkan HWDI kepada masyarakat luas.
Sedangkan Sekretaris HWDI Kalbar, Yuliana Lili, mengaku bangga dapat ikut mengawal produksi film dokumenter ini. “Saya bahagia bisa terlibat di film ini. Ini film perdana untuk HWDI. Kami ingin menunjukkan kepada perempuan disabilitas di luar sana untuk ayo bangkit, ayo mandiri,” ujarnya.
Menurut Lili, Langkah Tak Terlihat menggambarkan kondisi nyata bahwa perempuan disabilitas masih kurang terlihat dalam ruang sosial maupun kesempatan kerja. “Langkah tak terlihat itu artinya perempuan disabilitas sering tidak terlihat. Lewat film ini kami ingin menunjukkan bahwa kami ada, kami mampu, dan kami siap berdaya, ucapnya.
Salah satu fokus utama film ini adalah kisah Andi Safira Atira, mahasiswi IAIN Pontianak berusia 23 tahun yang tunanetra total. Dalam film, Vivi tampil percaya diri memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris.
Vivi mengaku awalnya sempat ragu. Namun bukan karena malu, justru karena memikirkan tanggung jawab peran tersebut.
“Menurut saya sendiri saya nggak pernah merasa malu. Justru ini tantangan terbesar untuk langkah saya selanjutnya,” ujarnya.
Ia juga bercerita tentang tantangan teknis saat proses syuting. “Yang paling susah itu ngarahin badan karena kondisi saya. Tapi selebihnya lancar.”
Vivi menegaskan bahwa keluarganya sangat mendukung dirinya terlibat di film ini.
Di bagian lain, pemeran kedua, Siria, menceritakan bagaimana ia tidak menyangka akan dilibatkan dalam film tersebut.
“Awalnya teman saya datang ke rumah. Mereka bilang, ikut HWDI nggak? Saya tanya, ikut apa lagi? Lalu dijelaskan, dan saya terima,” katanya sambil tersenyum.
Dalam film, Siria menampilkan proses pembuatan keripik, usaha UMKM yang ia jalankan di rumah. Dan Ia juga merupakan atlet panahan berprestasi.
“Saya atlet panahan. Tahun 2024 saya ke Solo. Di Pontianak saya dapat dua emas dan satu perak. Di ajang lainnya saya dapat medali emas dan perunggu,” katanya bangga.
Sementara itu, produser film, Supriadi, menjelaskan filosofi di balik judul Langkah Tak Terlihat tersebut.
“Langkah tak terlihat adalah perjuangan wanita disabilitas yang tidak dilihat dunia. Banyak orang yang tidak tahu kemampuan mereka, tapi ketika kita masuk ke kehidupan mereka, luar biasa. Ada atlet, ada mahasiswa, ada pelaku UMKM,” ujar Supriadi.
Ia juga mengungkapkan proses produksi tidaklah mudah. “Perjalanannya berat. Dari Pontianak ke Mempawah, hujan, jalan berlubang, pegunungan. Bahkan pernah hampir kecelakaan gara-gara lihat durian di pinggir jalan,” katanya, bercanda.
Meski begitu, ia merasa karya ini penting untuk membuka mata publik. “Wanita-wanita ini tidak mengemis, tidak mengeluh. Mereka berjuang dengan caranya. Itu yang ingin saya tunjukkan.”
Di bagian lain, Linda Fardini, yang juga seorang atlet nasional, menyampaikan pesan yang sangat menyentuh untuk semua kawan disabilitas khususnya di Kalbar.
“Saya dari Pontianak ke Mempawah sampai Ngabang, saya yang bawa motor, saya gonceng Pak Supriadi. Saya aja bisa, kenapa kalian tidak?” katanya dengan suara bergetar.
Ia juga menceritakan masa terpuruknya setelah menjadi disabilitas akibat kecelakaan.
“Saya pernah terpuruk. Bahkan saya pernah gila. Tapi saya bangkit. Jangan ada rasa minder. Kesuksesan tidak ada kata ‘tapi’, tidak ada kata ‘nanti’. Selama kamu mau, kamu pasti bisa. Ingat HWDI, berdaya dalam keterbatasan dan bersinar dalam keberanian,” katanya sambil mengucapkan semboyan HWDI.
Pemutaran Langkah Tak Terlihat menjadi momen penting bagi HWDI, sebuah tonggak untuk menunjukkan bahwa perempuan disabilitas memiliki kemampuan, prestasi, dan daya juang yang luar biasa.
Acara ditutup dengan pesan dari seluruh narasumber bahwa kesetaraan bukan hanya soal perhatian, tetapi pengakuan, kesempatan, dan kolaborasi dari semua pihak, termasuk pemerintah, BUMN, dan masyarakat luas untuk bersama menciptakan ruang inklusif.
Baca juga: Inklusi Fest 2025 Ajak Disabilitas Tunjukkan Bakat
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....