Pusaka Bersejarah Berabad-abad Kembali Bersinar di Festival Melayu

  • 24 Okt 2025 23:41 WIB
  •  Pontianak

KBRN, Pontianak: Menjelang petang, Kamis (23/10/2025), di Taman Alun Kapuas, Pontianak, irama rebana dan gambus mengalun merdu. Suara riang itu beradu dengan aroma masakan tradisional Melayu seperti bubur pedas dan aneka kue yang menyebar di udara.

Suasana tersebut menarik ratusan warga untuk hadir. Mereka datang untuk menyaksikan Festival Melayu Khatulistiwa 2025, bagian dari perayaan Hari Jadi Kota Pontianak ke-254.

Ngampar dan Pencucian Pusaka, salah satu acara utama Festival Melayu Khatulistiwa. Di sana, berbagai jenis senjata tradisional seperti keris, badik, dan mandau, warisan kerajaan masa lalu, terhampar di atas kain kuning keemasan, menanti untuk dibersihkan.

Ketua Pusaka Nusantara Kalimantan Barat, Heri Sugiarto mengungkapkan berbagai pusaka yang ditampilkan merupakan warisan kerajaan berusia ratusan tahun. Beberapa di antaranya dari abad ke-16,

"Semuanya berasal dari Kalimantan Barat," katanya di sela-sela acara.

Di atas kain kuning keemasan terhampar berbagai macam jenis pusaka bersejarah mulai dari keris hingga pedang peninggalan kerajaan atau kesultanan yang dipamerkan pada Festival Melayu Khatulistiwa bertepatan Hari Jadi ke-254 Kota Pontianak di Taman Alun Kapuas Jalan Rahadi Usman Pontianak, Kamis (23/10/2025). (Foto: RRI/Muhammad Rokib)

Ia menambahkan ngampar pusake bertujuan mengenalkan kepada generasi muda peninggalan sejarah harus dirawat dan dijaga. Bukan dikaikan dengan hal mistis.

"Pusaka kebanyakan dibilang mistis atau gaib. Sekarang kami buktikan dengan nyatanya, ini tidak ada pengaruh apa-apa. Yang pasti niat kami untuk merawat dan menjaga," ujarnya.

Dia prihatin banyak pusaka yang sudah dijual dan keluar dari Kalimantan Barat. Di galerinya tersimpan sekitar 200 lebih pusaka yang berhasil diselamatkan.

"Barang-barang ini kan sudah banyak keluar, habis dijual keluar semua. Inilah yang masih kami dapat selamatkan," katanya.

Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan usai membuka festival, turut melihat acara Ngampar dan Pencucian Pusake. Bahkan, ia memegang dan melihat salah satu senjata tradisional tersebut.

"Dengan adanya pameran [ngampar] pusaka bersejarah ini masyarakat bisa tahu kalau Pontianak banyak pusaka yang perlu disosialisasikan," katanya.

Menurutnya, kegiatan budaya seperti ini harus terus diadakan, supaya generasi muda lebih mencintai dan bangga dengan budaya sendiri. "Budaya kita tidak kalah bagus dari budaya luar yang sering membawa pengaruh negatif, karena itu perlu terus kita tampilkan," ucapnya.

Proses pencucian pusake (Foto: Inock/warga Pontianak)

Saat malam tiba, berlangsung pencucian pusaka di tempat yang sama. Wak Long Mat Koceng dari Perkumpulan Silat Tradisi Sendeng Kumpul Tujuh, salah satu tokoh yang diundang untuk mencuci pusaka.

"Tradisi ini memiliki tiga tujuan, pencucian pusaka, meningkatkan khasiatnya melalui reaksi kimia antara besi dan jeruk limau, serta penyatuan spiritual dengan pemilik terdahulu melalui doa," ucap Wak Long menjelaskan filosofi dari pencucian tersebut.

Proses pencucian menggunakan "air dari tujuh masjid berbeda. Tujuannya mendapat berkah Allah agar pusaka membawa keselamatan. Selain air masjid, digunakan jeruk limau, bunga, daun sirih, air mawar, minyak, dan kemenyan.

"Prosesnya dilakukan dengan khusyuk layaknya berdoa,” katanya, menambahkan.

Lampu-lampu di festival menerangi Taman Alun Kapuas, dan alunan musik Melayu kembali mengalun mengisahkan warisan nenek moyang. Di tengah modernisasi, Festival Melayu Khatulistiwa mengingatkan bahwa identitas budaya adalah akar yang tak boleh dilupakan. Pontianak membuktikan bahwa jiwa Melayu tetap hidup kuat di tengah masyarakatnya

Penulis: Mita Tantri Devi/Mahasiswi PKL IAIN Pontianak

Baca juga: Karnaval Air Napak Tilas Sejarah Berdirinya Pontianak

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....