Berdiri Tegak Mengarah Cakrawala Tugu Khatulistiwa Sebagai Adikarya

  • 22 Sep 2025 14:01 WIB
  •  Pontianak

Dari Bangunan Sederhana Hingga Menjadi Megah

KBRN, Pontianak: Tugu Khatulistiwa menjadi ikon utama Kota Pontianak, yang menarik banyak perhatian karena keunikannya, berdiri tepat di garis khatulistiwa. Namun, tugu yang kita lihat hari ini adalah hasil dari perjalanan panjang sejarah dan pengembangan.

Tugu Khatulistiwa dibangun pada masa Hindia Belanda, tepatnya pada 1928, oleh tim ekspedisi ahli geografi Belanda. Awalnya, tugu ini didirikan sebagai penanda garis Khatulistiwa yang berada tepat di titik lintang 0° 0' 0".

Tugu Khatulistiwa disempurnakan pada 1930, dengan penambahan lingkaran pada bagian atas tugu yang sebelumnya hanya berupa tonggak dengan tanda panah mengarah ke atas. Kemudian, pada 1938, tugu ini kembali disempurnakan.

Penyempurnaan tersebut berupa pembangunan struktur tugu yang terdiri dari empat buah tonggak kayu belian berdiameter 0,3 meter. Dua tonggak di bagian depan memiliki tinggi 3,05 meter dari permukaan tanah, sedangkan dua tonggak di bagian belakang, tempat dipasangnya lingkaran dan anak panah memiliki tinggi 4,4 meter.

Pada 1990–1991, Tugu Khatulistiwa kembali mengalami pengembangan. Sebuah replika tugu yang berfungsi sebagai bangunan pelindung berbentuk kubah didirikan dan diresmikan pada tanggal 21 September 1991 oleh Gubernur Kalimantan Barat saat itu, Pardjoko Surjokusumo.

Replika ini berukuran lima kali lebih besar dari tugu aslinya, terdiri dari dua buah tonggak di bagian depan dengan diameter 1,5 meter dan tinggi 12,25 meter, serta dua buah tonggak di bagian belakang dengan diameter yang sama namun memiliki tinggi 22 meter. Replika ini juga dilengkapi anak panah sepanjang 10,75 meter yang dipasang di bagian atas.

Jadi, bangunan besar yang kita kenal saat ini sebagai Tugu Khatulistiwa, bukan tugu asli. Struktur besar tersebut hanya sebuah replika yang dibangun untuk melindungi tugu asli yang berada di dalamnya.

Tugu Sebagai Simbol Ilmu Pengetahuan

Hingga kini, di dalam area tugu masih tersimpan berbagai foto dokumentasi tempo dulu yang merekam perjalanan sejarahnya. Salah satu yang menarik adalah foto pada masa kolonial Belanda, yang memperlihatkan sekelompok orang Belanda berpose bersama di depan tugu yang sudah berdiri kokoh saat itu.

Foto-foto ini menjadi bukti keberadaan Tugu Khatulistiwa sejak awal memang memiliki daya tarik tersendiri. Dokumentasi foto-foto pada masa itu memperlihatkan berdirinya Tugu Khatulistiwa telah membangkitkan rasa ingin tahu orang.

Masyarakat mulai bertanya-tanya mengenai alasan dan dasar ilmiah pembangunan tugu tersebut. Rasa ingin tahu ini perlahan menumbuhkan semangat untuk belajar dan memahami ilmu pengetahuan, khususnya di kalangan anak muda.

Dokumentasi Tempo dulu bangunan Tugu Khatulistiwa (Foto: Antonio Januardi/Mahasiswa PKL FISIP Universitas Tanjungpura)

“Pada masa lalu, Tugu Khatulistiwa menjadi penanda untuk berkumpulnya warga Pontianak, khususnya bagi masyarakat yang suka terhadap ilmu pengetahuan, seperti astronomi. Hal ini menjadikan Tugu Khatulistiwa sebagai simbol ilmu pengetahuan di Kota Pontianak,” ujar Dosen Universitas PGRI Pontianak, Dr. Karel Juniardi, SS, M.Pd, saat diwawancarai, Jumat (19/9/2025).

Lebih lanjut, Karel menjelaskan simbol Tugu Khatulistiwa telah mengalami transformasi. Awalnya, tugu ini hanya dikenal sebagai simbol ilmu pengetahuan, tapi seiring waktu berkembang pula maknanya dalam aspek budaya, sosial, hingga akhirnya menjadi salah satu ikon pariwisata Pontianak. Perkembangan ini semakin kuat sejak Tugu Khatulistiwa ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 2013.

Selain itu, adanya Festival Kulminasi atau yang dikenal sebagai hari tanpa bayangan yang digelar dua kali setiap tahun, yaitu pada 21–23 Maret dan 21–23 September, semakin memperkuat daya tarik wisata tugu ini. Festival tersebut menarik minat wisatawan dari berbagai daerah dan mancanegara. Tidak heran jika muncul ungkapan populer di masyarakat: "Belum sah ke Pontianak kalau belum main ke Tugu Khatulistiwa."

Dosen Universitas PGRI Pontianak, Dr. Karel Juniardi, SS, M.Pd (Foto: Antonio Januardi/Mahasiswa PKL FISIP Universitas Tanjungpura)

Letak Tugu Khatulistiwa yang berdekatan dengan makam Batu Layang turut memberikan dimensi budaya yang kental pada kawasan tersebut. Kedekatan jarak ini membuat warga Pontianak memandang lokasi Tugu Khatulistiwa tidak hanya memiliki nilai ilmiah dan astronomis, tetapi juga mengandung makna budaya yang mendalam.

Bukan Sekadar Monumen Namun Sebagai Simbol kebanggaan Masyarakat

Petugas dari Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Pontianak, Kasnawi, menuturkan esensi dasar dari pembangunan Tugu Khatulistiwa adalah sebagai penanda lokasi yang dilintasi oleh garis khatulistiwa. Pada masa itu, para ahli geografi dari Belanda memutuskan untuk menandai titik tersebut dengan membangun sebuah tanda berbentuk empat buah tonggak dari kayu belian. Inilah yang kemudian menjadi dasar filosofis terbentuknya Tugu Khatulistiwa yang kita kenal hingga saat ini.

Karena esensi dasarnya sebagai penanda garis khatulistiwa di titik lintang 0°, banyak pengunjung dan wisatawan menganggap Tugu Khatulistiwa sekadar sebagai objek wisata. Namun, bagi masyarakat asli Pontianak, tugu ini bukan hanya sekadar bangunan bersejarah, melainkan sebuah simbol identitas dan kebanggaan yang melekat erat dalam kehidupan mereka.

Lebih jauh, keberadaan Tugu Khatulistiwa sebagai destinasi pariwisata turut memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar. Aktivitas wisata di kawasan ini membantu meningkatkan penghasilan warga, sekaligus membuka peluang usaha baru.

Petugas dari Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Pontianak, Kasnawi, bercerita seputar Tugu Khaulistiwa kepada pengunjung (Foto: Antonio Januardi/Mahasiswa PKL FISIP Universitas Tanjungpura)

Beragam cara dilakukan oleh masyarakat untuk menunjukkan rasa bangganya terhadap Tugu Khatulistiwa. Hal ini tercermin dari penamaan jalan yang menggunakan kata “Khatulistiwa”, pelaku UMKM yang menjual berbagai produk bertema khatulistiwa, hingga orang tua yang menamai anak mereka dengan nama "Khatulistiwa".

“Itu cara-cara mereka merefleksikan kebanggaan mereka terhadap adanya Tugu khatulistiwa,” kata Kasnawi ditemui di kawasan Tugu Khatulistiwa, Selasa (16/9/2025).

Potensi Besar, Magnet Wisata

Diresmikan pada 21 September 1991, sejak saat itu menjadikannya sebagai karya akbar, yang bukan hanya sekadar bangunan sejarah, tetapi juga wajah ruang publik yang hidup: tempat bertutur cerita, tamasya, sekaligus belajar jagat semesta.

Setiap tahun, tugu ini menjadi panggung utama bagi fenomena langka: Festival Kulminasi Matahari. Selama dua kali dalam setahun pada 21-23 Maret dan 21-23 September, matahari tepat berada di atas kepala. Bayangan pun lenyap, seolah bumi memberi jeda sesaat untuk bersemarak ria dalam merayakan Tugu Khatulistiwa.

Dengan ragam penampilan seni dari lintas etnis Kalimantan Barat, pameran UMKM, hingga kegiatan edukasi tentang kulminasi, perayaan kegiatan ini lebih dari sekadar pesta rakyat, tetapi juga perayaan ilmu pengetahuan, dan nilai kebersamaan.

Namun, merawat ikon ini agar tetap hidup bukan perkara mudah. Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Pontianak, Rizal Al Muthahar, mengungkapkan Pemkot Pontianak tengah berusaha menata kawasan menjadi lebih luas mengingat masih terdapat lahan yang dipinjam pakai dengan pihak TNI melalui Kodam XII/Tanjungpura.

"Kalau lahan hampir dua hektare (milik TNI AD) di sekitar tugu bisa kami kelola, kawasan ini akan jauh lebih tertata, lebih produktif, dan menjadi magnet wisata yang menggerakkan ekonomi lokal,” ujarnya ditemui Rabu (17/9/2025).

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Pontianak, Rizal Al Muthahar menjelaskan kontribusi Tugu Khatulistiwa bagi sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan pariwisata (Foto: Antonio Januardi/Mahasiswa PKL FISIP Universitas Tanjungpura)

Potensinya sudah terlihat. Setiap tahun sekitar 75 ribu wisatawan tercatat masuk ke area dalam Tugu Khatulistiwa. Angka itu belum termasuk pengunjung yang memilih sekadar bersantai di kawasan luar, menikmati angin sore, atau menggelar acara berbasis kearifan lokal.

Tantangan tetap ada. Kolaborasi antarlembaga, dukungan akademisi, sponsor, hingga persoalan status lahan masih menjadi pekerjaan rumah besar.

“Sekarang, setelah jam sembilan malam, kawasan tugu sudah sepi. Padahal kalau ada event rutin, kawasan ini bisa terus hidup. Karena itu butuh dukungan semua pihak untuk menata, menjaga, dan merawatnya,” tutur Rizal.

Rizal berujar Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menaruh harapan besar agar kawasan ini dapat berkembang menjadi destinasi unggulan ibu kota provinsi. Kawasan yang menjadi kebanggaan warga Pontianak, dan menjadi pilihan orang dari belahan dunia untuk hadir.

Tugu Khatulistiwa menjadi tapakan memori dan roman. Menjulang tinggi dan berdiri, menyambut wisatawan di garis lintang nol derajat, menutur cerita tentang momen tanpa bayang, dan setia menunggu menjadi pusat kehidupan yang tak pernah padam.

Tugu Khatulistiwa, Panggung Utama Mendulang Harapan bagi UMKM

Kawasan ini bukan hanya menjadi pusat aktivitas wisata, melainkan juga menjadi sumber penghidupan bagi sejumlah masyarakat yang menggantungkan harapan ekonominya di sana.

Di antara deretan kios yang berjajar di sekitar tugu, terdapat Sapta Pesona, sebuah toko oleh-oleh khas Kota Khatulistiwa yang dikelola oleh Meri. Sebagai pelaku usaha kecil, Meri menggantungkan harapan ekonominya pada ikon kota ini yang tak pernah sepi dari pengunjung.

“Tugu Khatulistiwa itu daya tarik utama, tamu dari luar datang ke sini, kadang mereka lihat, juga ingin beli oleh-oleh untuk keluarganya. Jadi, pengaruhnya besar sekali,” ucap Meri dijumpai Selasa (16/9/2025).

Menurut Meri, masa libur panjang menjadi momen penjualan yang jauh lebih ramai dibandingkan hari biasa. Sementara pada event tahunan seperti Festival Kulminasi Matahari, pengunjung memang tetap berdatangan, tapi sifatnya hanya sesaat sehingga dampaknya tidak sebesar pada musim libur panjang.

Sebagai pelaku usaha, Meri menaruh harapan agar kawasan wisata ini dilengkapi dengan fasilitas hiburan tambahan. “Lebih baik ada permainan anak, tempat bermain, ataupun tempat nongkrong-nongkrong yang lebih buat mereka lama nyantainya. Kalau sekarang kan mereka datang cuma lihat foto, ya udah pulang gitu,” ujarnya memberi saran.

Cerita Wisatawan Sarawak di Kota Khatulistiwa

Daya pikat Tugu Khatulistiwa, tidak hanya menarik wisatawan lokal, tetapi juga dari mancanegara. Seorang pengunjung asal Sarawak, Malaysia, Fuad beserta isteri dan anaknya, mengaku terkesan dengan keunikan Tugu Khatulistiwa yang menjadi satu-satunya destinasi di Asia yang dapat memberikan momen berada di tengah garis tengah bumi.

"Yang paling interesting ialah bagi kita dapat tahu, di mana garisan tengah yang membagi utara dan selatan bumi, di mana kita boleh berada di atas garisan tengah khatulistiwa Bumi,” katanya ditemui Selasa (16/9/2025).

Baginya, pengalaman paling berkesan adalah saat berdiri tepat di garis khatulistiwa yang membelah Bumi menjadi bagian utara dan selatan. “Hal itu sungguh menarik, karena tidak semua tempat di dunia memilikinya, hanya ada di Pontianak,” katanya, menambahkan.

Fuad bersama keluarga berlibur di Tugu Khatulistiwa (Foto: Antonio Januardi/Mahasiswa PKL FISIP Universitas Tanjungpura)

Tak hanya itu, ia juga menyebut momen kulminasi matahari yang bisa disaksikan di kawasan tugu sebagai pengalaman magis yang sulit dilupakan. “Pengalaman kulminasi matahari, matahari tepat berada di atas kepala kita, itu terasa ajaib dan tidak semua tempat hanya berada di Pontianak saja,” ujarnya.

Tugu Khatulistiwa, tak sekadar monumen geografis, tetapi juga simbol kebanggaan Kota Pontianak. Kehadiran tugu menjadi kilas balik ingatan, menciptakan renungan dan perayaan mendalam dalam menyaksikan pengalaman berada di garis khayal dunia, titik nol derajat lintang bumi.

Penulis: Muhammad Raherzy Fauzin/Mahasiswa PKL FISIP Universitas Tanjungpura

Baca juga: Pengunjung Pesona Kulminasi Matahari Antusias Dirikan Telur

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....