Maktab As-Sami, Pesantren yang Hidupkan Harapan Anak Tunarungu

  • 17 Sep 2025 18:40 WIB
  •  Pontianak

KBRN, Pontianak: Suasana pagi di Maktab As-Sami terasa hening, tapi tak berarti kosong dari aktivitas. Gerakan tangan yang lincah dan sorot mata yang penuh fokus menjadi bahasa utama di tempat ini.

Maktab As-Sami terletak di Jalan Komyos Sudarso, Gg Alpokat Permai No.13 Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Di tengah keterbatasan pendengaran, maktab ini menjadi rumah bagi anak-anak tuli atau tunarungu untuk menuntut ilmu agama.

Berdiri sebagai lembaga pendidikan khusus, Maktab As-Sami menjadi tempat bagi para santri tunarungu yang datang dari berbagai pelosok. Saat ini, sebanyak 11 santri menetap di sini.

Menariknya, ketika musim liburan sekolah tiba, jumlah santri akan bertambah karena banyak anak-anak dari berbagai kabupaten datang untuk ikut belajar. Santri yang belajar di Maktab As-Sami berasal dari berbagai daerah, seperti Sintang, Mandor, Mempawah, Landak, dan kabupaten lainnya.

Pagi hari di Maktab As-Sami dimulai lebih dini dari yang lain. “Sebelum Subuh, anak-anak sudah melaksanakan salat tahajud dan zikir, lalu berangkat ke masjid untuk salat Subuh berjemaah. Setelah itu, mereka membaca Surah Yasin, Al-Waqiah, dan melakukan zikir pagi. Kemudian ada musyawarah bersama untuk merencanakan kegiatan hari itu,” ujar salah seorang pengajar, Ustad Muhammad Romli saat ditemui di Maktab As-Sami, Rabu (17/9/2025).

Ia menjelaskan metode pembelajaran di Maktab As-Sami sangat khas karena menyesuaikan dengan kebutuhan unik para santri. Sebagian dari mereka belum pernah bersekolah, bahkan ada yang sama sekali belum mengenal huruf abjad. Karena itu, para pengajar harus menggunakan pendekatan visual dan peragaan.

“Kami harus menjelaskan dengan sangat detail, perlahan, dan sabar. Kata demi kata kami peragakan agar mereka bisa membayangkan arti kata tersebut. Misalnya kata kipas angin, kami tunjukkan fungsinya sambil mengisyaratkan kata itu agar mereka memahami dan mengingatnya,” kata Romli yang juga Sekretaris Yayasan Maktab As-Sami.

Aktivitas belajar berlangsung sejak pagi hingga waktu Zuhur, dilanjutkan dengan muzakarah sunnah Nabi Muhammad SAW, makan siang, dan istirahat. Menjelang sore, mereka kembali ke masjid untuk salat Ashar berjemaah, lalu zikir petang. Malam harinya, diisi dengan mengaji menggunakan bahasa isyarat hingga menjelang salat Isya.

Selain metode khusus, para pengajar menekankan pentingnya pendekatan penuh kasih sayang. “Anak-anak ini sangat sensitif. Jadi, harus sabar dan penuh kasih sayang. Bahkan ketika mereka marah atau enggan belajar, kami harus merayu mereka dengan lembut sampai mereka mau kembali belajar bersama,” katanya.

Kehadiran Maktab As-Sami menjadi inspirasi bagi masyarakat, karena membuktikan keterbatasan tidak menjadi penghalang untuk mendapatkan pendidikan agama. Di tempat ini, iman dirangkai bukan dengan kata-kata, melainkan dengan sentuhan tangan, ketulusan hati, dan gerak isyarat yang penuh makna. Kisah mereka adalah inspirasi, di balik kesunyian, ada cahaya ilmu dan kasih sayang yang tak pernah padam.

Penulis: Mita Tantri Devi/Mahasiswi PKL IAIN Pontianak

Baca juga: Maktab Tuli As-Sami: Akses Pembelajaran Al-Qur’an bagi Penyandang Tuli

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....