Faiza Nadira, Generasi Muda Berprestasi Calon Dokter Humanis
- 26 Agt 2025 18:44 WIB
- Pontianak
KBRN, Pontianak: Di usianya yang masih muda, Faiza Nadira Amalia telah menunjukkan prestasi dan tekad kuat untuk mengabdi pada masyarakat. Lahir di Pontianak 15 Maret 2007, ia kini menjadi mahasiswi baru di Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura angkatan 2025.
Faiza tidak hanya menempuh pendidikan untuk menjadi seorang dokter, tapi juga membangun personal branding sebagai calon dokter yang humanis. Semua langkahnya berpijak nilai kemanusiaan, kebangsaan, dan integritas.
Perjalanannya menuju Fakultas Kedokteran tidak mudah. Faiza sempat gagal pada jalur SNBP dan SNBT, hingga akhirnya berhasil lolos lewat seleksi mandiri. Proses panjang itu dihadapinya dengan persiapan intensif, mulai dari mengikuti les, belajar mandiri, hingga mengatur strategi belajar penuh waktu.
“Selama seleksi mandiri, saya benar-benar belajar full banget untuk mengikuti seleksi-seleksi,” kata Faiza saat ditemui di Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura, Minggu kedua Agustus 2025.
Bagi Faiza, dokter bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa. “Apabila pasien saya senang dengan kesehatannya, saya juga akan senang,” katanya seraya tersenyum.
Prinsip itu menjadi dasar dari cita-citanya untuk menghadirkan ilmu kedokteran yang humanis, inovatif, sekaligus berpihak pada masyarakat kecil.
Minat Bahasa Asing dan Literasi
Selain berfokus pada dunia medis, Faiza memiliki minat besar pada bahasa asing. Sejak kelas 6 SD, ia mempelajari bahasa Korea secara otodidak lewat lagu, drama, dan video YouTube.
Kini ia menguasai bahasa Korea dan Inggris, bahkan pernah menjadi guru bimbingan belajar privat bahasa Korea. Awalnya, ia mengajar secara online dengan 2–3 murid dari berbagai daerah, sebelum kemudian membuka kelas tatap muka.
“Motivasi saya membuka tempat les karena ingin berbagi pengalaman, mengajarkan ilmu, sekaligus mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat,” ujarnya.
Faiza juga aktif dalam dunia literasi. Saat SMA, ia terpilih sebagai Duta Literasi di SMAN 8 Pontianak, dan mengikuti berbagai kompetisi seperti Olimpiade Biologi, hingga Fisika. Kecintaannya pada membaca dan menulis terus ia kembangkan, sejalan dengan minatnya pada isu lingkungan dan kesehatan.
Jejak Inspirasi dan Visi
Faiza terinspirasi dari sosok ayahnya, Tengku Mulia Dilaga Turiman Fachturahman Nur, seorang pejuang hukum dan kebangsaan. Dari sang ayah, ia mewarisi semangat untuk menjadikan profesi dokter bukan hanya soal keterampilan klinis, melainkan juga sebagai panggilan kemanusiaan.
Visi Faiza sejalan dengan UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dan UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, yang menekankan pentingnya pelayanan medis bermutu, etika profesi, serta pendekatan promotif dan preventif. Baginya, teknologi kedokteran memang berkembang pesat, namun empati dan kepekaan sosial tetap menjadi inti dari profesi seorang dokter.
“Aku belajar bukan hanya untuk menjadi pintar, tetapi untuk menjadi bermanfaat. Aku berjuang bukan hanya demi masa depanku, tetapi demi martabat bangsaku,” ucap Faiza.
Generasi Muda Harapan Bangsa
Bagi Faiza, menjadi dokter berarti siap hadir di tengah masyarakat tertinggal, anak-anak yang kekurangan gizi, hingga ibu-ibu yang kesulitan mengakses layanan kesehatan. Dengan semangat itu, ia ingin menjadikan dirinya bukan hanya dokter, melainkan juga agen perubahan sosial.
Di akhir wawancara, Faiza memberi motivasi kepada generasi muda. “Jangan pernah menyerah sama mimpi kalian. Kalau ada sesuatu yang kalian sukai, lanjutkan terus. Karena itulah yang bisa jadi motivasi untuk lebih maju dan meraih cita-cita kalian,” katanya, mengakhiri.
Faiza Nadira Amalia adalah cerminan generasi muda Kalimantan Barat yang memadukan prestasi akademik, kepekaan sosial, dan visi kebangsaan. Dari Pontianak, ia membawa semangat untuk Indonesia: menjadi dokter yang humanis, inovatif, dan bermanfaat bagi sesama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....