Bedande, Seni Bertutur Khas Sambas

  • 26 Agt 2025 12:51 WIB
  •  Pontianak

KBRN, Pontianak: Bedande adalah seni bercerita sambil didendangkan yang berisi tentang ajaran, do’a, mantra, dan petuah leluluhur tentang kehidupan dan menjadi ruang mencari nilai dari sebuah cerita rakyat. Tidak diketahui asal muasalnya kapan dan siapa yang menciptakan seni bedande ini.

“Bedande merupakan salah satu jenis sastra lama yang tumbuh dan berkembang di masyarakat Melayu Sambas tepatnya di Desa Setale, Kecamatan Sejangkung. Ia hidup dan tumbuh berkembang di tengah tengah masyarakat begitu saja sebelum akhirnya sirna ditenggelamkan masa,” demikian dijelaskan Profesor Chairil Effendy, penulis buku "Bedande Raja Ngalam".

Banyak hikmah yang dapat diambil saat pedande atau orang yang bercerita tentang suatu peristiwa atau ketokohan raja-raja yang berkuasa pada waktu itu. Satu di antaranya, bagaimana keberanian masyarakat memberikan nasehat atau kritikan kepada raja-raja yang saat memerintah penuh dengan ketidakadilan terhadap masyarakatnya. Dan yang pasti untuk menjadi pedande tidaklah mudah.

“Isi dari bendande itu sebenarnya cerita tentang peristiwa atau ketokohan raja-raja berkuasa, hanya saja bedande itu sebenarnya media untuk menyampaikan informasi ke masyarakat di zaman itu,” ungkapnya.

Sementara itu, Ilham Setia seorang pendongeng mengatakan jika bedande merupakan bagian dari satu di antara sekian banyak seni bertutur yang masuk dalam kategori sastra lama. Tidak hanya bedande, di beberapa daerah di Kalimantan Barat juga memiliki seni bertutur dengan ciri khasnya masing-masing. Sayangnya saat ini bedande yang merupakan sastra lama dari Sambas ini sudah tidak ada.

“Butuh kepedulian semua pihak untuk bagaimana kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang di masyarakat untuk dilestarikan, seperti bedande yang ada di Desa Setale, Kecamatan Sejangkung, Kabupaten Sambas yang kini sudah hilang sama sekali. Upaya-upaya itu bisa berbentuk revitalisasi bedande,” katanya.

Hilangnya bedande dari Bumi Tarigas Sambas menginspirasi Profesor Chairil Effendy untuk melakukan penelitian mengenai seni bercerita khas masyarakat Setale, Kecamatan Sejangkung tersebut. Sebuah karya tulisan yang sudah dibukukan berjudul “Bedande Raja Ngalam” setebal 505 halaman diharapkan menjadi bukti sejarah bahwa dahulunya pernah ada satu kearifan lokal sebagai warisan leluhur yang penuh nilai-nilai akan pendidikan tentang kehidupan.

Penulis: Jusrianto

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....