Kekarangan, Syair Gulung Khas Simpang Matan
- 26 Agt 2025 12:50 WIB
- Pontianak
KBRN, Pontianak: Sambil memegang gulungan kertas, Raden Jamrudin seorang penyair asal Simpang Matan Kabupaten Kayong Utara membacakan sepenggal bait yang ada dalam syair gulung. Lantunan irama yang penuh dengan makna terdengar begitu merdunya.
Menurut Raden Jamrudin, syair gulung tidak jauh berbeda dengan syair Melayu yang tumbuh dan berkembang di tanah Melayu serantau. Dinamakan syair gulung itu sendiri, dikarenakan kebiasaan penyair yang selesai membacanya langsung digulung dengan tujuan untuk menjaga etika.
“Kenapa disebut dengan syair gulung karena usai membacanya langsung digulung. Hal ini bertujuan untuk menjaga etika dan uniknya di sini dalam hal menggulungnya posisi ujung kertas harus keluar,” katanya belum lama ini.
Syair gulung tumbuh dan berkembang sejak zaman Kerajaan Matan Tanjungpura yang dahulunya dikenal dengan Kerajaan Bakula Pura di bawah kekuasaan Kerajaan Singasari hingga masa kejayaan Kerajaan Matan berakhir. Menurut Raden Jamrudin, syair gulung memiliki dua fungsi yakni seni menghibur dan media untuk menyampaikan protes atau rasa tidak senang rakyat kepada para petinggi penguasa saat itu.
“Syair gulung dahulunya dibacakan atau dilantunkan para penyair pada saat acara-acara khusus adat dan keagamaan yang isinya penuh dengan nasehat bahkan kritikan-kritikan terhadap penguasa,” tegasnya.
Terdapat perbedaan dari kaidah-kaidah penulisan syair gulung yang berkembang di masyarakat Simpang Matan dengan syair gulung di beberapa daerah lainya termasuk syair gulung yang ada di Kabupaten Ketapang. Seiring perkembangan zaman, syair gulung mulai tersisihkan dengan munculnya beragam seni hiburan yang lebih menarik di kalangan generasi saat ini.
Kekhawatiran akan kelestarian syair gulung khas Simpang Matan ini dirasakan Nurman, yang juga seorang penyair yang kini usianya sudah tidak muda lagi.
“Yang muda ini tidak ada minat untuk belajar dan saya sudah menyarankan agar belajar syair gulung ini, bapak udah tua tinggal kalianlah yang melanjutkannya,” harapnya.
Berbagai upaya untuk melestarikan warisan budaya leluhur itu dilakukan oleh para penyair terutama kepada generasi muda yang tinggal di Simpang Matan. Tak mengenal rasa bosan, pengabdian tanpa pamrih itu mulai menghasilkan buah yang rasanya manis dengan bermunculnya penyair-penyair muda yang berbakat. Seperti, Hernida dan M. Akbar yang dalam keseharianya juga belajar syair gulung di rumah gurunya Mahmud Mursalim.
“Awalnya saya itu coba-coba bersyair mencontoh guru saya dan kelamaan timbul rasa ketertarikan untuk belajar lebih serius dan saya mengajak beberapa teman, alhamdulillah saat ini sudah adalah anak-anak muda di daerah kami ini yang bisa bersyair,” katanya dengan nada gembira.
Kini, syair gulung menjadi seni hiburan yang cukup populer tak hanya di negeri asalnya Matan Tanjungpura tetapi terus meluas seluruh wilayah di Kalimantan Barat. Beberapa even besar daerah tak luput untuk menampilkan syair gulung yang pada tahun 2022 ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda.
Penulis : Jusrianto
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....