Tenun Kalbar Karya Songket Kurnia Mendunia

  • 31 Jul 2026 14:56 WIB
  •  Pontianak
Poin Utama
  • Kain Songket Sambas dan Tenun Corak Insang
  • Songket Kurnia Kalbar
  • Tenun mendunia

RRI.CO.ID, Pontianak - Kecintaan terhadap warisan budaya menjadi semangat Kurniati dalam mempertahankan usaha tenun tradisional yang telah dirintisnya sejak 1995. Melalui usaha Songket Kurnia, perempuan kelahiran Sambas itu terus melestarikan tenun Songket Sambas sekaligus mengembangkan tenun bermotif corak insang khas Kota Pontianak.

Kurniati mengisahkan, awalnya ia hanya memproduksi Songket Sambas di kampung halamannya. Namun setelah menetap di kawasan Batu Layang, Pontianak, pada 1999, ia mulai mengembangkan berbagai motif lokal, termasuk corak insang yang kini menjadi salah satu identitas kain tenun Kalimantan Barat.

"Kalau yang saya buat hari ini adalah kerajinan tenun songket. Yang ada di depan saya ini adalah corak insang khas Kota Pontianak. Awalnya saya membuat Songket Sambas, kemudian setelah pindah ke Pontianak saya tetap membuat Songket Sambas sekaligus mengembangkan motif khas Pontianak," ujar Kurniati, Rabu, 29 Juli 2026.

Usaha yang dijalankannya kini mempekerjakan sembilan orang penenun tetap. Selama menjalankan usahanya, Kurniati juga mengaku mendapat pembinaan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat maupun Pemerintah Kota Pontianak, sehingga mampu terus meningkatkan kualitas produk dan memperluas pemasaran.

Tak hanya menghasilkan kain tenun, Songket Kurnia juga mengembangkan berbagai produk turunan berbahan tenun, seperti kopiah, syal, baju, tanjak, hingga tas. Inovasi tersebut dilakukan agar kain tenun dapat digunakan dalam berbagai kebutuhan sekaligus menarik minat pasar yang lebih luas.

Produk-produk Songket Kurnia kini telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan menembus pasar mancanegara. Sejumlah negara tujuan ekspor di antaranya Australia, Afrika, Brasil, dan Qatar.

“Selain orderan dari daerah, kita pasarkan ke luar negeri seperti ke Afrika, Australia, Brazil, dan pernah juga ke Qatar,” imbuhnya.

Dalam proses produksinya, satu lembar kain tenun dikerjakan secara manual dan membutuhkan waktu sekitar dua minggu hingga selesai. Proses tersebut menunjukkan tingginya nilai seni, ketelitian, serta kesabaran yang dibutuhkan dalam menghasilkan setiap helai kain tenun tradisional.

Melalui konsistensinya selama lebih dari tiga dekade, Kurniati berharap tenun Songket Sambas dan corak insang khas Pontianak tetap lestari serta semakin dikenal oleh masyarakat, baik di dalam maupun luar negeri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....