Inflasi Kalbar Juni 2026 Capai 0,31 Persen, Masih di Bawah Nasional
- 02 Jul 2026 16:50 WIB
- Pontianak
Poin Utama
- Inflasi Kalbar
- BPS Kalbar
- Komoditas
RRI.CO.ID, Pontianak - Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat (Kalbar) mencatat inflasi bulanan di Kalbar pada Juni 2026 sebesar 0.31 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 0,44 persen. Kepala BPS Kalbar, Muh Saichudin, mengatakan secara tahunan (year-on-year) inflasi Kalbar tercatat sebesar 3,28 persen, sedangkan inflasi kalender atau kumulatif Januari–Juni 2026 mencapai 2,24 persen.
"Inflasi secara bulanan untuk Kalimantan Barat sebesar 0,31 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan angka nasional yang sebesar 0,44 persen, sedangkan inflasi secara tahunan sebesar 3,28 persen dan inflasi secara kalender selama semester I sebesar 2,24 persen," ujar Saichudin, saat Rilis bulanan BPS Kalbar, Rabu, 1 Juli 2026.
Ia menjelaskan, pendorong utama inflasi bulanan berasal dari kelompok transportasi yang memberikan andil sebesar 0,18 persen, terutama dipicu kenaikan tarif angkutan udara, harga bensin, serta pelumas atau oli mesin. Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang andil 0,04 persen, dengan komoditas penyumbang inflasi di antaranya ikan tongkol, udang basah, cumi-cumi, wortel, minyak goreng, dan cabai rawit.
Secara tahunan lanjutnya, inflasi Kalbar sebesar 3,28 persen masih didominasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil 1,55 persen. Komoditas utama penyumbangnya meliputi beras, ikan baung, minyak goreng, ikan nila, dan cabai rawit.
Selain itu, kelompok transportasi turut memberikan andil sekitar 0,58–0,59 persen, didorong oleh tarif angkutan udara, pelumas atau oli mesin, jasa servis kendaraan, bensin, dan harga sepeda motor. Selama Januari hingga Juni 2026, inflasi kumulatif Kalbar mencapai 2,24 persen, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2024 maupun 2025.
Menurut Muh Saichudin, pencapaian target inflasi nasional hingga akhir tahun masih bergantung pada efektivitas pengendalian inflasi oleh pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan. "Hal ini tentunya tergantung pada upaya pemerintah daerah dan semua komponen untuk bisa mengendalikan inflasi selama Juli sampai dengan Desember," ujarnya.
BPS mencatat, komoditas yang menjadi penyumbang inflasi terbesar secara kumulatif (year-to-date) hingga Juni adalah angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, minyak goreng, ikan tongkol, ikan baung, dan beras. Sementara itu, komoditas yang paling sering memicu inflasi selama enam bulan terakhir didominasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Minyak goreng dan ikan baung masing-masing menjadi penyumbang inflasi dalam lima bulan, sedangkan ikan tongkol, ikan nila, dan cumi-cumi muncul sebanyak empat kali. Untuk kelompok non makanan, angkutan udara menjadi komoditas yang paling sering mendorong inflasi dengan frekuensi empat kali, disusul pelumas atau oli mesin yang tercatat memicu inflasi selama tiga bulan.
Baca juga: Bapanas Apresiasi Gerakan Pangan Murah Kendalikan Inflasi Kalbar
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....