Kreator Visual Diminta Kuasai Skill dan Strategi di Era Digital

  • 19 Sep 2026 21:39 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Perkembangan teknologi digital membuka peluang semakin luas bagi pelaku industri kreatif, khususnya di bidang videografi dan fotografi. Namun, kemudahan dalam memproduksi dan mempublikasikan konten juga membuat persaingan semakin ketat, sehingga kreator dituntut memiliki keterampilan dasar dan strategi yang matang.

Owner Bilik Benak, Ahmad Dahlan, mengatakan salah satu tantangan pelaku industri kreatif di daerah seperti Pontianak dan Kubu Raya adalah mengedukasi pelaku usaha mengenai pentingnya kualitas visual dalam memasarkan produk. Menurutnya, masih banyak pelaku usaha yang menganggap jasa foto dan video produk sebagai pengeluaran tambahan yang belum tentu memberikan dampak langsung terhadap penjualan.

"Ketika kita koreksi standar foto ataupun video untuk promosi mereka, mereka enggak peduli dengan hal itu. Nah, ketika kita tawarin jasa, ya itu tadi mereka hitung omset, masa sih saya jual harga yang harganya satu bungkus cuman 5.000 perak misalnya, kita harus bayar foto produk yang harganya jutaan," ujar Ahmad saat menjadi narasumber program Ekonomi Digital RRI Pro 1 Pontianak pada Jumat, 18 September 2026.

Ahmad menilai, foto dan video produk kini menjadi bagian penting dari strategi pemasaran, terutama ketika konsumen semakin banyak menemukan dan menilai produk melalui platform digital. Karena itu, pelaku usaha perlu melakukan riset kompetitor dan memikirkan strategi branding sejak awal, bukan sekadar memproduksi konten untuk mengikuti tren.

Di sisi lain, Ahmad mengingatkan kreator pemula agar tidak menganggap peralatan mahal sebagai faktor utama untuk menghasilkan karya visual yang berkualitas. Menurutnya, pemahaman mengenai komposisi, pencahayaan, konsep, hingga penyusunan storyboard justru menjadi dasar yang perlu dikuasai.

"Kalau saya ngelihat dari sisi gear, itu tuh mau hardware sebagus apapun belum tentu videonya bagus. Kalau itu bagi saya, skill nomor satu, alat nomor dua," tegasnya.

Selain kemampuan teknis, kreator juga perlu memiliki kemampuan manajemen dan komunikasi ketika berhadapan dengan klien. Penentuan tarif jasa, lanjut Ahmad, sebaiknya disesuaikan dengan proses produksi, waktu pengerjaan, serta standar layanan yang diberikan, bukan hanya mengikuti harga pasar yang terlalu rendah.

Sementara itu, perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) juga turut mengubah cara kerja industri kreatif. Ahmad menilai AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mencari ide, menyusun brief, membuat moodboard, hingga membantu membuat storyboard.

"Kalau AI ini kan bisa ngebantu kita membuatin brief, buatin moodboard, ngebuat storyboard, ngasih kita ide ketika buntu, tapi tetap butuh touching dari manusianya kan," jelasnya.

Ia pun mengajak generasi muda dan pelaku ekonomi kreatif untuk terus belajar serta mengasah keterampilan dasar. Menurutnya, kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi perlu dibarengi dengan kreativitas, strategi bisnis, dan pemahaman terhadap kebutuhan pasar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....