Pelabuhan Kijing Berpeluang Jadi Pintu Ekspor Utama Kalbar
- 10 Agt 2026 00:38 WIB
- Pontianak
Poin Utama
- Pelabuhan Internasional Kijing di Kabupaten Mempawah dinilai memiliki peluang besar menjadi pintu utama ekspor berbagai komoditas Kalimantan Barat.
- Optimalisasi pelabuhan tersebut diyakini dapat memperkuat posisi Kalbar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan.
- Kalimantan Barat memiliki keunggulan geografis dan infrastruktur yang mendukung pengembangan perdagangan internasional melalui jalur darat, laut, dan udara.
RRI.CO.ID, Pontianak – Pelabuhan Internasional Kijing di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, dinilai memiliki peluang besar menjadi pintu utama ekspor berbagai komoditas Kalbar. Optimalisasi pelabuhan tersebut diyakini dapat memperkuat posisi Kalbar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan.
Akademisi sekaligus praktisi ekonomi Kalbar, Muhammad Fahmi, mengatakan Kalbar memiliki keunggulan geografis dan infrastruktur yang mendukung pengembangan perdagangan internasional. Menurutnya, akses keluar-masuk Kalbar telah tersedia melalui jalur darat, laut, dan udara.
“Kalau melihat Kalbar ini memang sangat menjanjikan. Kenapa? Karena kita mempunyai pintu keluar yang internasional semua, darat, laut, dan udara,” ujar Fahmi, Minggu, 9 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, Kalbar saat ini memiliki empat Pos Lintas Batas Negara (PLBN) dan akan bertambah menjadi lima. Selain jalur darat, Kalbar juga memiliki Pelabuhan Internasional Kijing serta jalur penerbangan internasional yang telah dibuka Kembali.
Menurut Fahmi, kondisi tersebut menunjukkan Kalbar merupakan wilayah yang relatif terbuka untuk aktivitas perdagangan dan konektivitas internasional. Potensi tersebut semakin besar karena Kalimantan memiliki sumber daya alam yang luas dan berada di posisi strategis kawasan Asia Tenggara.
“Kalimantan pada umumnya itu adalah peluang yang menjanjikan ke depan ketika sekarang orang semua balik kepada back to nature, balik ke alam. Sementara Kalimantan masih luas,” katanya.
Fahmi menyebut posisi geografis Kalimantan yang melibatkan Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam juga menjadi keunggulan tersendiri. Kondisi tersebut dinilai dapat mendorong Kalimantan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru apabila kerja sama antarnegara terus diperkuat.
Menurutnya, hubungan Kalbar dengan Sarawak, Malaysia, telah terjalin cukup baik dan perlu terus diakselerasi. Salah satunya melalui kerja sama Sosial Ekonomi Malaysia-Indonesia atau Sosek Malindo yang menghasilkan sejumlah kesepakatan antarpihak.
“Ini harus kita akselerasi, intensifikasi hubungan ini harus terjalin dengan baik. Itu terbukti dengan barusan sudah dilakukannya pertemuan Sosek Malindo dan itu sudah menunjukkan beberapa keputusan-keputusan bersama,” ujarnya.
Selain dengan Malaysia, Fahmi menilai Kalbar juga dapat mengoptimalkan kerja sama dengan Brunei Darussalam melalui kerangka Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area atau BIMP-EAGA. Menurutnya, berbagai instrumen kerja sama dan regulasi telah tersedia sehingga perlu diikuti dengan kemudahan dalam pelaksanaannya.
“Peluang ada, vehicle-nya untuk regulasi sudah ada. Sekarang eksekusinya seperti apa? Memudahkan antara ini untuk bekerja sama. Ini bukan dikerja bersama, tapi bekerja sama,” jelas Fahmi.
Fahmi juga menyoroti peresmian ekspor perdana alumina di Pelabuhan Dwikora Pontianak oleh Staf Ahli Presiden Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman. Kegiatan tersebut dinilai menjadi bukti bahwa komoditas Kalbar memiliki peluang untuk menembus pasar internasional melalui pelabuhan di wilayah sendiri.
“Dengan di Dwikora saja, kita sudah punya potensi. Apalagi kalau kita akselerasi yang ada di Pelabuhan Kijing,” ungkapnya.
Ia membandingkan kapasitas Pelabuhan Dwikora yang disebut sekitar 300 ribu TEUs dengan Pelabuhan Kijing yang memiliki kapasitas hingga dua juta TEUs untuk kontainer dan nonkontainer. Kapasitas tersebut dinilai dapat membuka ruang yang lebih besar bagi peningkatan volume dan jenis komoditas ekspor Kalbar.
“Di Dwikora kan sekitar 300 ribu TEUs, kontainer non-kontainer. Sementara di Kijing itu dua juta TEUs. Itu luar biasa potensinya,” kata Fahmi.
Fahmi menilai optimalisasi Kijing semakin strategis di tengah dinamika perdagangan kawasan, khususnya jalur perdagangan yang selama ini banyak terkonsentrasi di Selat Malaka. Menurutnya, kebijakan pemerintah terkait ekspor satu pintu dapat membuka peluang bagi Kalbar untuk memperkuat posisi tawar dalam perdagangan internasional sekaligus mendorong komoditas daerah langsung masuk ke pasar global.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....