Sukses Menjalani Peran Ganda sebagai Ibu dan Pengusaha
- 21 Jan 2026 18:24 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Menjadi seorang ibu sekaligus pengusaha bukanlah perkara mudah. Diperlukan keteguhan hati dan manajemen diri yang luar biasa untuk menyeimbangkan urusan domestik dengan tuntutan profesional. Hal inilah yang menjadi topik utama dalam program siaran “Dialog Program Pengarusutamaan Gender dan Inklusi” yang berlangsung pada Senin, 19 Januari 2026.
Hadir sebagai narasumber, Veronika, S.E., M.M., sebagai Ketua WKU III IWAPI DPC Kabupaten Landak Bidang Perdagangan, berbagi perspektif mendalam mengenai dinamika peran ganda tersebut. Berdasarkan pengalamannya, tantangan terbesar sebenarnya bukan datang dari faktor eksternal, melainkan dari dalam diri sendiri.
“Tantangan terbesar dalam mengemban kedua peran tersebut datang dari diri sendiri. Untuk itu, diperlukan perubahan pola pikir (mindset) agar kita bisa benar-benar fokus pada apa yang sedang dikerjakan pada saat itu,” ungkap Veronika.
Strategi Manajemen Waktu dan Skala Prioritas
Dalam menjaga keseimbangan hidup, Veronika menekankan pentingnya perencanaan waktu yang matang. Ia menerapkan sistem skala prioritas yang ketat, membuat jadwal harian, serta menyusun to-do list. Salah satu tips praktis yang ia bagikan adalah penggunaan pengingat atau alarm untuk menghindari kelalaian saat terlalu asyik bekerja. Veronika juga membagikan bagaimana ia membagi waktunya secara spesifik antara pekerjaan dan keluarga:
- Senin sampai Jumat: Fokus utama dialokasikan untuk pekerjaan. “Ketika anak sekolah dan les, di sinilah kita harus memaksimalkan waktu untuk pekerjaan kita,” jelasnya.
- Sabtu dan Minggu: Skala prioritas berbalik sepenuhnya untuk keluarga. Dari pagi hingga sore, waktu didedikasikan sepenuhnya untuk anak-anak dan urusan rumah tangga.
Peran Pasangan dan Melawan Stigma
Veronika tidak menampik bahwa dukungan pasangan hidup memegang peranan krusial dalam keberhasilan seorang perempuan karier. Baginya, pasangan adalah faktor penentu kebahagiaan dan stabilitas mental dalam menjalani aktivitas yang padat.
“Menurut saya, pasangan hidup itu yang paling menentukan hidup kita bisa happy atau tidak. Jadi, ketika memutuskan soal pasangan hidup, kita harus benar-benar berpikir matang,” tuturnya.
Terkait stigma masyarakat yang sering kali menganggap perempuan harus lebih banyak fokus di rumah, Veronika memilih untuk tidak ambil pusing. Baginya, pilihan menjadi ibu rumah tangga sekaligus pengusaha adalah keputusan pribadi. Ia merasa lebih nyaman dan berdaya dengan menjalani kedua peran tersebut secara beriringan.
Kepemimpinan Berbasis Empati
Menariknya, Veronika menjelaskan bahwa peran ganda sebagai ibu justru membentuk karakter kepemimpinan yang lebih kuat. Menurutnya, perempuan memiliki keunggulan dalam memadukan logika dan perasaan. Hal ini melahirkan gaya kepemimpinan yang empatik, adaptif, dan berorientasi pada keberlanjutan.
“Sifat perempuan yang lebih memperhatikan perasaan memungkinkan kami mengelola situasi dengan lebih bijaksana. Misalnya, ketika ada staf yang kinerjanya menurun, seorang wanita cenderung akan mengajak bicara dan mencari solusi bersama, bukan langsung memecat,” kata Veronika.
Pendekatan humanis dan empatik ini terbukti membuahkan hasil nyata bagi usahanya. Veronika mengungkapkan bahwa banyak staf di perusahaannya yang telah bekerja lebih dari lima tahun, sebuah bukti nyata akan loyalitas tinggi yang lahir dari lingkungan kerja yang suportif dan penuh pengertian. Melalui dialog ini, Veronika berharap para perempuan di Kabupaten Landak dapat terus berdaya dan tidak takut untuk mengejar mimpi sebagai pengusaha tanpa harus meninggalkan tanggung jawab sebagai seorang ibu.