Merawat Harmoni Dari Kota Khatulistiwa
- 13 Feb 2026 00:20 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Di tengah riuh rendah isu perbedaan, silaturahmi yang erat antar tokoh masyarakat dan pendidikan karakter sejak dini menjadi kunci utama kerukunan. Begitu juga di Kota Pontianak, Pancasila bukan sekadar simbol, namun menjadi ruh yang menjaga keberagaman di Kota Pontianak.
Sebagaimana diketahui, bahwa Indonesia merupakan keajaiban dunia, di mana puluhan ribu pulau mampu menyatu dalam satu ikatan nasionalisme. Penasehat Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Kota Pontianak, Ws. Rudy Leonard mengungkapkan, persatuan itu berakar pada Sila Kelima Pancasila yang meneguhkan kebhinekaan sebagai milik bersama. Di Pontianak, toleransi bukan sekadar teori, melainkan praktik hidup sehari-hari melalui dialog lintas agama dan silaturahmi yang konsisten.
"Keunggulan kita di Pontianak adalah tali silaturahmi yang sangat erat. Saya dengan tokoh lain seperti Pak Sukur atau Pak Candra sudah bertahun-tahun duduk semeja. Kebersamaan ini harus kami turunkan ke generasi penerus. Jika kami punya jiwa nasionalis, kami pasti mencintai bangsa ini, dan dari sanalah tercipta kedamaian serta kerukunan," ujar Rudy.
Hal tersebut disampaikan oleh Rudy saat menjadi narasumber pada dialog ruang terbuka dengan tema Menjaga harmoni antar suku dan agama di aula rumah Dinas Ketua DPRD Kota Pontianak, Kamis 12 Februari 2026.
Lebih lanjut Rudy, menelisik lebih dalam ke nilai adat Tionghoa, Rudy menjelaskan bahwa toleransi dimulai dari pendidikan dasar di keluarga yang dikenal dengan konsep Di Zi Gui (Tijekuy). Prinsip utamanya adalah "Pendidikan Tiada Perbedaan". Karakter anak dibentuk untuk menghormati orang tua terlebih dahulu; karena tanpa rasa hormat di rumah, mustahil seseorang bisa menghormati masyarakat, apalagi berbangsa dan bernegara.
Namun, tantangan sering muncul ketika persoalan pribadi sering kali diseret ke ranah suku atau agama oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
"Jangan satu orang bermasalah, orang lain yang tidak tahu apa-apa dibawa-bawa. Kita harus menilai secara arif. Nilailah dari pribadi dan pendiriannya, bukan kesukuannya. Tuhan menciptakan keragaman, bukan semata-mata untuk perbedaan. Yang membuat beda itu adalah pikiran kita sendiri," kata Rudy.
Rudy kemudian menegaskan bahwa komitmen untuk bersatu harus melampaui sekat-sekat agama. Sebab, keindahan kebersamaan hanya bisa tercipta jika semua pihak mau merangkul satu sama lain. "Kami mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus membangun jiwa nasionalis, agar tidak ada lagi dikotomi antara si A, si B, atau si C, melainkan satu kesatuan milik bersama," ucap Rudy.
Harmoni di Kota Pontianak adalah bukti bahwa perbedaan bukanlah pemisah, melainkan warna yang memperkaya sejarah bangsa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....